Jumat, 16 Juni 2017

Manusia

Bismillahirrahmanirrahiim.

Ketika aku belum beranjak dewasa, Sang Khianat masih bersembunyi di balik kebaikan.

Ketika aku belum mengerti dunia, aku tertelan mentah – mentah atas manisnya berbagai hal.

Ketika aku belum tahu seperti apa kebenarannya, semua terasa lebih indah.

Ketika aku belum melakukan sesuatu yang besar, banyak orang yang menganggapku remeh.

Ketika aku masih berada di titik nol, banyak orang yang meninggalkanku.

Ketika aku berada di antara keramaian, aku merasa sendiri.

Ketika aku berada di antara manusia, aku merasa dikelilingi topeng berjalan yang menutupi muka dan hati iblis di muka bumi.

Ketika aku berada di antara saudara Raja Hutan di depan kamarku, aku merasa dikelilingi makhluk 
suci dari surgawi.

Ketika aku berada di masa jatuhku, hanya beberapa orang yang merangkulku dan menguatkanku.

Ketika aku berjuang terlebih dahulu di medan perang, manusia yang baru terjun sekarang ke medan perang menyombongkan diri dan menganggap dirinya hebat.

Ketika mereka baru merasakan sakitnya seperti ini, aku telah menambal rasa luka dan duka hingga berlapis.

Ketika aku mengeluh dengan keadaan, di luar sana banyak yang lebih menderita daripada aku, tetapi mereka lebih tangguh dariku.

Ketika aku dihadapkan dengan rasa ini, aku menjadi bejat kepada Tuhanku.

Ketika aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, Sang Khianat rupanya telah menertawai tangis dan lukaku sejak lama.

Ketika aku dituntut untuk bersosialisasi ke dunia luar, aku menutup diri, karena Sang Khianat tak pernah berhenti menertawaiku.

Ketika aku harus percaya dengan manusia, aku malah kehilangan rasa percaya yang telah kubentuk sejak lama, pudar, terkikis, tergerus oleh Sang Khianat.

***
Aku menjadi bejat di depan Tuhanku.
Aku menjadi waspada terhadap manusia.
Aku menjadi pembenci yang tak bertuan.
Namun, aku juga menjadi pendoa yang terselubung kepada Tuhanku.

***

Shalat yang kerap kali dilakukan belum tentu menjamin hati yang bersih.
Haji berkali – kali belum tentu menjamin hati seiya sekata dengan ucapan.
Berjilbab belum tentu menjamin penjagaan diri yang baik.
Mendirikan masjid belum tentu mereka selalu ke masjid.
Menyumbang rutin belum tentu mereka sembunyikan dari khalayak.
Sering puasa sunnah belum tentu mereka tidak menonton film biru.
Punya harta berkecukupan belum tentu mau memberi.
Seorang motivator belum tentu punya timbangan dalam berpendapat.

***

Seorang pelacur belum tentu mau selamanya menjadi pelacur.
Seseorang yang miskin belum tentu mau meminta – minta.
Seseorang yang miskin memikirkan apakah bisa makan hari ini.
Seseorang yang tidak pernah shalat belum tentu tidak akan shalat selamanya.
Seseorang yang bejat, pasti ada terbersit di pikiran mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

***

Kereligiusan seseorang belum tentu menjamin attitude dan moral yang baik.
Kebejatan seseorang belum tentu menjamin attitude dan moral yang buruk.
Hati manusia, siapa yang tahu.
Hanya Allah yang tahu.
Manusia hanya mencoba untuk menjadi lebih baik.
Jangan mengidolakan hanya karena dia seorang figur masyarakat terkenal.
Jangan mengidolakan hanya karena dia seorang pimpinan di organisasinya.
Jangan menuhankan manusia hanya karena dia tampan, cantik atau berbakat.
Kita akan kecewa jika berharap terlalu banyak pada manusia.
Dia hanya manusia, sama seperti kita. Teladani sisi baiknya, abaikan sisi buruknya, sebab setiap orang punya sisi buruk.

***

Seseorang berkata padaku, bahwa kemiskinan akan membuat seseorang murtad. Murtad dari kepercayaannya terhadap sesuatu, keyakinannya, rasa syukurnya, dan lainnya. Kemiskinan membuat keteguhan hati tergoyahkan, karena kurangnya ketentraman dalam hati maupun pikiran. Sumber penyakit ini adalah uang, yang jika sangat kurang manusia bisa hancur karenanya. Namun, tergantung manusia tersebut menyikapinya. Masih ada orang miskin yang mau berusaha, yang masih bersyukur, yang masih mau beribadah. Namun, rata – rata, kemiskinan ini menghancurkan sebagian besar umat yang mengalaminya. Dan tidak ada orang yang mau menjadi miskin.

Namun, yang aku herankan, kemiskinan ini juga bisa menjadi anugerah di akhirat sana. Kemiskinan itu sendiri mempunyai beban yang rendah bagi timbangan di akhirat nanti, pertanggungjawabannyapun apa yang ada di tubuh dan pikirannya saja, apalagi jika si miskin tersebut taat, dia adalah seorang yang beruntung dan mulia. Sayangnya, banyak yang tidak bisa taat dalam keadaan tidak tentram seperti itu, termasuk aku. Sedih. Namun, aku berusaha, dan semua orang berusaha sesuai dengan kemampuan mereka masing – masing, untuk menjadi lebih baik.

***

Ingin membantu, mereka tidak mampu.
Namun, yang mampu, membantu saja tak berniat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar