Minggu, 12 Maret 2017

I'm The Second Lovely Woman, and He's My First Love

Bismillahirrahmanirrahiim.

“Selama kamu hidup hingga kini, saat apa yang menjadi momen terindah bagimu?”, tanyaku.
“Saat aku menemukanmu”, jawabnya.

“Apa hal yang menurutmu paling berharga dalam hidupmu?”, tanyaku lagi.
“Kamu dan keluargaku; dua perempuan dan dua lelaki. Namun, maaf, kamu wanita kedua yang ada dihatiku. Mama yang pertama”, jawabnya lagi.

“Bagaimana jika aku menjadi seorang ibu kelak?”, lagi – lagi aku bertanya. 
“Kamu akan menjadi seorang ibu yang luar biasa”, aku terpaku.

****

Aku ingin menuliskan sebuah renungan, Kawan. Bacalah, jika engkau ingin, aku tak memaksa.

Ibu.

Aku telah melihat banyak figur Ibu dalam kehidupanku. Beraneka ragam, Kawan, tetapi pada dasarnya sama, hanya sedikit yang berbeda. Aku sendiri belum pernah menjadi sesosok yang mulia itu, tetapi aku mulai belajar memahami apa makna seorang Ibu di usia yang tak seberapa ini.

Bukan hanya karena aku ingin menjadi seorang Ibu beberapa tahun kelak, tetapi aku ingin memahami siapa aku, sebagai seorang anak, dan siapa ibuku, sebagai orang yang telah lahir dan membesarkanku. 

Beberapa hal dasar yang kupetik dari berbagai figur Ibu yang telah kutemui; pertama, seorang Ibu membawa seorang anak ke dunia. Perjuangan 9 bulan mengandung, melahirkanmu dengan jeritan dan kesakitan, antara hidup dan mati. Bagi perempuan, kelak kita akan mengerti rasanya berusaha mengeluarkan janin yang telah menjadi bayi dari rahim. Bagi lelaki, Ibu adalah cinta pertama baginya di dunia ini.

Kedua, anak akan merasakan kasih sayang Ibu sedari kecil, terlihat, real. Ibu menyusuimu, mengajarimu cara berbicara, merangkak, berjalan, hingga berlari, jauh. Ibu memasak makanan untukmu, mengajarimu membaca dan berhitung di rumah, menyuruhmu mencuci piring, menyapu halaman, dan mengajakmu jalan – jalan sore. Bagi perempuan, kau akan meneladani sosok Ibumu, yang pintar mengelola rumah tangga dan tampak rupawan di depan Ayahmu. Bagi lelaki, kau akan mencari sesosok perempuan nan ayu seperti Ibumu, juga yang pintar dalam segala hal dalam mendidik anak – anaknya.

Ketiga, jika kau melakukan kesalahan, dan Ayahmu membentakmu, Ibumu akan membelamu, sekalipun kamu salah. Ibu akan menasihatimu dengan caranya yang lembut.

Keempat, jika kau merantau nanti, Ibumu akan sering datang mengunjungimu, menyeberang pulau untuk menemui anaknya, meneleponmu setiap waktu untuk memastikan apakah kamu sudah, atau bisa makan hari ini dan esoknya, juga mengingatkanmu shalat 5 waktu.

Kelima, jika sudah dewasa dan punya penghasilan sendiri, bagi perempuan, kau akan bersaing dengan Ibumu, dalam hal penampilan dan daya tarik, sehingga Ibu menjadi figur sahabat bagimu, tempat sharing mengenai fashion, peralatan make-up, bahkan masalah asmaramu. Bagi lelaki, ibumu akan menjadi ratu bagimu, dan berusaha untuk mencari tahu kehidupan pribadimu, apa yang kau lakukan di luar sana ataupun di kamarmu.

Keenam, jika kau menikah, bagi perempuan, Ibumu akan melepaskanmu dengan berat hati, karena putri kesayangannya akan menjadi milik lelaki yang mencintaimu. Terkadang, kebanyakan, Ibumu mempermasalahkan harta gono – gini dari bakal calonmu, agar masa depanmu meyakinkan, dan resepsi pernikahan yang harus diadakan di rumah ataupun di gedung mewah. Bagi lelaki, Ibumu akan melepaskanmu lebih berat lagi. Pangeran kecilnya dan salah satu pejantan akan pergi dari rumah, untuk mengemban tanggungjawab separuh agama; menikah. Ibumu akan mempertahankan argumennya, untuk tetap memberikan harta selayaknya pada calonmu, tak berlebihan. Bahkan, biaya pernikahan bisa dari kantongmu sendiri.

Ketujuh, ketika Ibumu tiada lagi di dunia ini, kau akan kehilangan seseorang yang menampilkan cinta secara nyata sejak dirimu lahir, sahabat dan cinta sejatimu yang tak pernah bisa digantikan oleh perempuan manapun.

Kedelapan, mungkin aku harus lebih banyak belajar lagi. Banyak hal yang harus aku pahami lagi dari berbagai sosok Ibu.

Bagi anak perempuan, Ibu adalah sahabat setia yang paling mengerti akan dirinya, sahabat yang tak pernah mengkhianatinya. Namun, bagi anak lelaki, Ibu adalah cinta pertama, dan akan selalu menjadi ratu dalam kehidupannya, bahkan saat ia telah bersanding dengan wanita pujaannya.

Pesanku pada diriku dan padamu; selagi kau masih bisa dekat dengan beliau tanpa jarak seincipun, sayangilah Ibumu. Berbaktilah. Jangan kau sia – siakan waktumu dengan Ibumu. Jika dipisahkan oleh ribuan mil daratan dan lautan, lancarlah dalam berkomunikasi dengannya. Selalu katakan, bahwa kau mencintainya. Tutuplah telepon setelah beliau selesai berbicara. Jika beliau sudah tiada, teruslah berdoa untuk keselamatannya di akhirat sana.

****

Ayah.

Entah, mungkin aku terlalu berharap bahwa ia akan menjadi ayah dari anak – anakku kelak. Namun, aku bukan hanya berharap, tetapi merasa yakin, bahwa dialah orangnya. Seperti yang kukatakan tadi, aku ingin memahami, dan kali ini ayahku, yang kupanggil dengan sapaan ‘Bapak’, siapa aku, sebagai seorang anak, siapa Ayah, sebagai seorang yang keras dan pencari nafkah bagi kehidupanku dan Ibu.

Beberapa hal yang kupetik dari figuritas berbagai Ayah; pertama, ketika kau lahir, sejak saat itu Ayah mulai bertekad untuk membesarkanmu, mencarikanmu biaya hidup, dan memulai tanggung jawabnya sebagai seseorang yang akan mengenalkanmu pada dunia, betapa kerasnya hidup, dan keselamatan bagimu kelak. Kasih sayangnya terkadang tak kasat mata. Kadang terlihat, kadang misterius.

Kedua, bagi perempuan, ayahmu adalah cinta pertamamu, yang melindungimu sekuat upaya dan dayanya, baik kebutuhan hidupmu, kasih sayang, maupun keperawananmu. Itu sebabnya, kau dijaga ketat oleh Ayahmu karena tak ingin hal yang buruk terjadi pada anaknya. Bagi lelaki, Ayahmu adalah sahabatmu, yang tak akan pernah mengkhianatimu. Keras dalam mendidikmu, mengajarkanmu tanggungjawab dan moralitas, juga mengajarkan apa arti cinta sebenarnya. Cinta Ayahmu pada Ibumu adalah wujud teladan yang akan diterapkan di masa depan nanti. Perempuan; aku ingin disanding oleh lelaki tangguh seperti Ayahku. Lelaki; aku harus menjadi seperti Ayahku kelak, yang selalu menjunjung tinggi tanggungjawab dan moralitas, juga mencintai dengan tulus.

Ketiga, jika Ibumu mempertaruhkan nyawamu saat mengandung dan melahirkanmu, Ayahmu justru mempertaruhkan nyawanya saat bekerja. Terkadang jatuh dari tiang atap bangunan, tersengat listrik, tertabrak mobil, tenggelam di lautan. Namun, beliau bangkit kembali, untuk melihat senyummu dan Ibumu, lagi dan lagi.

Ketiga, jika kau sudah terlelap saat Ayahmu pulang kerja, beliau akan bertanya tentang keseharian dan tingkahmu yang membuatnya geleng – geleng kepala dan menyegerakan mempersiapkan amunisi wejangan untuk anaknya yang bandel. Terkadang dipikirkan sendiri, tetapi diskusi dengan Ibu adalah jalan terbaik yang sering dilakukannya, untuk mengontrol kelakuanmu dari dimensi waktu yang berbeda melalui perantara kilat; Ibu.

Keempat, jika kau merantau nanti, Ayahmu hanya sesekali menelpon, tak banyak bicara, dan hanya menasihatimu secara singkat. Namun, setelah tutup telepon, beliau lagi – lagi menanyakan semua hal tentangmu melalui Ibumu. Berdiskusi lagi dengan Ibu.

Kelima, jika sudah dewasa dan punya penghasilan sendiri, bagi perempuan, Ayahmu akan sangat bangga padamu, dan tak ingin meminta uang sepeserpun darimu. Kau akan selalu menjadi putri kecilnya yang dijaga lebih ketat lagi, karena hormonmu jauh lebih pesat dibandingkan dulu, dan kau juga masih menjadi tanggungan Ayahmu. Bagi lelaki, Ayahmupun akan sangat bangga padamu, sama, beliau tak ingin meminta uang sepeserpun darimu. Meskipun kau masih tanggungan Ayahmu, Ayahmu mulai melepaskanmu ke tempat – tempat jauh untuk mencari pengalaman dan menafkahi dirimu sendiri. Kau mulai mandiri, Bung.

Keenam, jika kau menikah, bagi perempuan, Ayahmu akan melepaskanmu dengan sangat berat hati, karena putri kesayangannya akan menjadi milik lelaki yang mencintaimu. Ayahmupun sama seperti ibumu, yang juga mempertanyakan kemapanan calonmu, hanya saja, beliau lebih mempedulikan bagaimana latar belakang calonmu, juga sikap dan tanggungjawabnya sebagai seorang lelaki, agar putri kecilnya tak jatuh pada lelaki yang salah dan tak bermoral. Agar putri kecilnya bahagia. Bagi lelaki, Ayahmu akan melepaskanmu dengan berat, tetapi tak seberat anak perempuannya. Jangan salah, beliau bangga padamu, Bung. Moralitas dan tanggungjawab yang telah ditanamkan pada dirimu akan berbuah manis nantinya untuk masa depan rumah tanggamu juga anak cucumu kelak. Dan Ayahmu berhasil membuat keluarganya bahagia, salah satunya dengan sikapmu yang santun, sehingga meluluhkan gadis pujaanmu. Beliau bangga karena kau siap bertanggungjawab untuk masa depan gadis pujaanmu; menikah. Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahkan, biaya pernikahan bisa dari kantongmu sendiri.

Ketujuh, ketika Ayahmu tiada lagi di dunia ini, kau akan tahu, sikapnya yang mungkin dingin, keras dan misterius bagimu, adalah tanda cinta yang sangat besar dari dirinya, tersembunyi, karena waktu tak mengizinkan kalian untuk menghabiskan waktu bersama; beliau mencari nafkah, kau bersekolah. Waktu untuk bersamamu tak sebanyak waktumu dengan Ibumu. Kau akan kehilangan sosoknya yang amat mencintaimu dengan cara tersembunyi itu.

Kedelapan, mungkin aku harus lebih banyak belajar lagi. Banyak hal yang harus aku pahami lagi dari berbagai sosok Ayah.

Bagi anak perempuan, Ayah adalah cinta pertama, dan akan selalu menjadi raja dalam kehidupanmu, yang akan bersama – sama dengan pria pujaanmu, untuk membahagiakanmu, sehingga rajamu ada dua; ayah dan suamimu. Bagi anak lelaki, Ayahmu adalah sahabat setia yang paling mengerti akan dirimu, sahabat yang tak pernah mengkhianatimu, dan akan selalu menanamkan sikap santun itu dalam sanubarimu, untuk masa depanmu kelak. 

Pesanku pada diriku dan padamu; selagi kau masih bisa dekat dengan beliau tanpa jarak seincipun, sayangilah Ayahmu. Berbaktilah. Jangan kau sia – siakan waktumu dengan Ayahmu. Jika Ayahmu pulang kerja, jika sempat, atau ada waktu luang, berceritalah sesuatu padanya, tentang keseharianmu, meskipun hanya hal yang sepele. Beliau akan merasa lebih dihargai dan dicintai. Jika dipisahkan oleh ribuan mil daratan dan lautan, lancarlah dalam berkomunikasi dengannya. Selalu tanamkan pesannya pada sanubarimu, di manapun kau berada. Tutuplah telepon setelah beliau selesai berbicara. Jika beliau sudah tiada, teruslah berdoa untuk keselamatannya di akhirat sana.

****

Tentu, tak semua Ibu atau Ayah bersikap seperti itu. Itu hanya basic, yang sudah menjadi naluri keibuan maupun keayahan. Jadi, jika menurutmu ada hal yang kurang tepat yang telah kutuliskan, itu karena manusia berbeda dan unik satu sama lain.

****

Kehidupan terus berjalan. Tak peduli, banyak yang lahir, banyak yang mati, banyak yang tercipta, banyak pula yang rusak. Waktu terus menggerus kehidupan manusia, semakin sulit, dari usia menuju usia. 

Namun, untuk Ibu dan Bapakku sendiri, aku belum menemukan pola naluriah yang mereka terapkan selama ini sebagai orangtua, walaupun sebagian besar poin basic kutemukan pada diri mereka, tetapi sebagian besarnya lagi hilang, entah pernah ada lalu tenggelam, atau memang tidak pernah ada. Aku tak mengerti. Namun, hal itu tak mengurangi rasa sayangku pada mereka. Doaku selalu mengalir untuk mereka. Yeah, but I feel like stranger, and feel lost something in my life.

****

Forget about the precious sentence that I wrote. Ini ada beberapa renungan lagi, aku tak tahu sumbernya darimana. Yang jelas ini sangat baik untuk beberapa renungan kita. Check it out!

Inspirasi Sukses!
Orang yang mencintai Anda dengan mata dipejam ialah KEKASIH.
Orang yang mencintai Anda dengan mata dibuka ialah SAHABAT.
Orang yang mencintai Anda dengan mata berkelipan ialah PASANGAN.
Orang yang mencintai hingga Anda menutup mata ialah IBU.
Orang yang mencintai Anda dengan tiada ekspresi ialah BAPAK.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Memperkenalkan Anda kepada dunia.
BAPAK – Memperkenalkan dunia kepada Anda.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Membawa Anda kepada kehidupan.
BAPAK – Membawa kehidupan kepada Anda.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Menjaga Anda supaya tidak lapar.
BAPAK – Membuat Anda tahu makna lapar.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Memberi Anda kasih sayang.
BAPAK – Memberi Anda tanggung jawab.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Mengajar Anda supaya tidak terjatuh.
BAPAK – Mengajar Anda bangun bila terjatuh.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Mengajarkan Anda untuk berjalan.
BAPAK – Mengajarkan Anda jalan hidup.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Mengajarkan Anda melalui pengalamannya.
BAPAK – Mengajarkan Anda untuk mendapatkan pengalaman.
------------------------------------------------------------------------------------------
IBU – Memperkenalkan ideologi.
BAPAK – Memperkenalkan realitas.
------------------------------------------------------------------------------------------
KASIH IBU – diketahui semenjak Anda dilahirkan.
KASIH BAPAK – diketahui bila dia sudah tiada.
------------------------------------------------------------------------------------------
Kasihilah BAPAK Anda selagi masih hidup.
Sayangilah IBU Anda selagi masih hidup.
------------------------------------------------------------------------------------------
Selagi mereka masih ada… Rumah tidak akan berseri tanpa kehadiran anak, tetapi rumah akan lebih sunyi bila IBU dan BAPAK sudah tiada… Ini sekedar renungan bersama buat Anda sebagai ANAK dan sebagai IBU BAPAK bagi anak – anak Anda. (Anonim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar