Rabu, 18 Januari 2017

Happy -1, Weirdo!

Bismillahirrahmanirrahiim.

This is my first blog article at 2017.

Kali ini aku serius. Ada hal yang ingin ku-sharing bersamamu, Kawan. Sesuatu yang membuatku lelah, dan tahu bahwa manusia adalah perusak segala hal.

Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu, Kawan. Apa sih arti bahagia menurutmu? Apakah kalian sudah merasa bahagia?

Sebagian darimu pasti menjawab, bahwa diri telah bahagia, dengan berbagai alasan; harta benda terus mengalir, travelling keliling dunia, berkecukupan kasih sayang, sehat wal’afiat, dan sebagainya. Namun, sebagian darimu pula pasti juga menjawab, bahwa hidup tak adil, dan kalian tidak berbahagia sama sekali ketika menginjakkan kaki di muka bumi yang kecil ini, juga dengan berbagai alasan; broken home, merasa diri tidak cantik atau tampan, nama baik tercemar, diri terlibat dalam proses pengadilan kejahatan (baik yang bersalah maupun tidak bersalah), merasa diri kekurangan, dan sebagainya.

Kalian pasti salah satu dari itu. Akupun begitu. Tak dipungkiri, kita memang telah mengguratkan berbagai garis dalam kehidupan kita; pengalaman, sekecil apapun itu, sehingga rasa bahagia tersebut terbentuk atau tidak sama sekali.

Setelah aku melewati masa 22 tahun dalam hidupku, aku sedikit banyak telah mengalami berbagai pengalaman pahit. Aku tidak sendiri di sini, setidaknya ada miliaran orang yang mengalami nasib sama sepertiku, hanya saja, berbeda pengalaman, waktu, tempat, dan tentu orang – orang yang terlibat di dalamnya.

Yang kupelajari; uang merupakan salah satu sumber yang dapat mengakibatkan berbagai perkara dan juga kemuliaan. Balance? Perhaps. Bisa juga tidak. Aku tidak mungkin menghitung satu persatu perkara atau kemuliaan di dunia ini yang dihasilkan oleh lembar kertas yang menjadi sumber sesuap nasi itu.

Kawan, dapatkah kasih sayang digantikan dengan selembar uang? Apakah dengan dirimu bergelimangan harta, kalian akan bahagia? Apa jadinya, jika orang – orang yang selama ini kalian percayai, mengkhianatimu dari hal ini; mencintaimu karena kau memiliki uang?

Oh God, aku tak bisa mempercayai hal itu pada awalnya. Aku kira, mereka benar – benar mencintaiku apa adanya, tak peduli bagaimanapun keadaanku. Ternyata, saat aku kehilangan segalanya, aku dicampakkan begitu saja, aku dihina, disumpahi, bahkan mereka tak mau menghubungiku; akupun tidak. Orang – orang yang selalu aku rindukan, selalu aku sayangi, ternyata bukanlah diri mereka yang dulu. Everything has changed. Aku tidak mungkin membenci mereka, tetapi mereka telah membuatku kehilangan kepercayaan terhadap semua orang. Aku tak bisa lagi dengan mudahnya mempercayai orang lain. Dari dulu saja sudah begini, apalagi sekarang. Semua orang, termasuk diriku, egois, munafik, dan fake.

Kutanya, Kawan. Jika kalian memiliki harta 10 miliar dolar, apakah otomatis kesedihan dan penyakit akan hilang? Apakah kalian akan bahagia terus menerus? Kalau jawabannya iya, berarti kita tak perlu mencari apa – apa lagi selain uang, kan?

Hahaha, bullshit! Orang kaya banyak yang berpenyakitan kok. Orang kaya banyak yang korupsi kok, tidak serta merta berkah harta di dalamnya. Banyak orang kaya yang hidupnya kesepian. Banyak orang kaya yang kejiwaannya terganggu. Banyak orang kaya yang bahkan tidak tahu, kebahagiaan itu seperti apa. Banyak orang kaya yang broken home, menghasilkan masa depan anak – anaknya yang suram dan terjerumus ke dalam hal – hal yang tidak diinginkan.

Tentu, tidak semua orang kaya seperti itu. Aku percaya, pasti ada yang benar – benar jujur dan bahagia atas kekayaannya, karena keberkahan yang diciptakan oleh penghuni dalam rumah tersebut. Aku tidak menghina orang kaya siapapun di sini, tidak ada unsur iri, atau apapun itu, aku hanya memberi contoh, Kawan, agar semua hal di sini terkomparasi dengan baik. I did my best.

Begitupula orang kurang mampu dalam hal materi. Banyak kok, orang kurang mampu yang hidup bahagia, berkelimpahan kasih sayang, hidupnya penuh keberkahan, bersahaja dengan kesederhanaan yang diterapkannya dalam kehidupan.

Namun, di sini kita bukan berbicara mana yang lebih hebat, apakah si kaya atau si kurang mampu. Bukan. Yang kita petik dari sini adalah, bahwa kehidupan yang dimiliki oleh seorang manusia, bagaimanapun keadaannya, dia akan memiliki suatu sikap dalam menghadapi hidupnya, dan itu yang menjadikan seseorang tersebut bahagia atau tidak.

Don’t judge everything by its cover, but look inside. Dari awal, aku bukan menge-judge seseorang ini dan itu, tetapi aku telah mendengar, melihat secara nyata, bahkan dari berbagai pihak yang ada. Yang baik – baik belum tentu baik, begitupun sebaliknya. Aku telah melihat banyak, dan mungkin kalian bisa saja melihat lebih banyak dariku, betapa banyaknya orang yang fake, salah menilai orang, bahkan memancing kebencian yang tak seharusnya terjadi.

Jadi, uang bukanlah segalanya, bukan? Aku ingin tahu, jika orang - orang itu, yang mendewakan dan memuja uang seperti Tuhan, menjadi kaya, apakah mereka benar – benar bahagia atau tidak. Waktu akan menjawab segalanya. I’ll know, we’ll know.

Aku bukan merasa suci di sini, Kawan. Tak ada manusia yang benar – benar suci di muka bumi ini. Semuanya sama, bahkan kuburan kitapun masing – masing. Seseorang mengatakan hal ini padaku.

Yah, kurasa, dari sekian banyak masalah yang dimiliki oleh manusia di muka bumi, ini bukan masalah yang besar. Banyak manusia di luar sana yang justru harus menghadapi pengalaman yang lebih pahit; tidak bisa hidup bebas karena mengalami peperangan, harus terseok – seok untuk mencari sesuap nasi, tidak bisa bersekolah, mengalami penyakit berat, dan sebagainya. Aku mencoba membesarkan hati, mencoba bersyukur. Ini masih belum apa – apa, masih ada pengalaman yang lebih menyakitkan dari ini suatu saat nanti.

Lalu, apa hubungannya dengan judul artikel blog aneh ini dengan bahasan yang sudah kupaparkan? Hahaha, aku hanya bisa tertawa. Maafkan aku, Kawan, aku terkadang menggila di tengah malam yang syahdu ini. Ide menulisku selalu datang di saat yang tidak tepat sebenarnya, tetapi jika aku tidak menuangkannya secara langsung, aku akan kehilangan ide lagi, seperti yang biasanya terjadi.

Begini, Kawan. Bukannya aku bermaksud pamer, tetapi beberapa hari lalu, aku berulang tahun yang ke-22. Kau tahu berapa orang terdekatku yang mengucapkan selamat padaku? Tiga orang. Bukan, bukan aku merasa sedih, justru aku senang, karena akhirnya, aku tahu siapa yang benar – benar menyayangiku dari hati. Setidaknya, dengan mengucapkan selamat di hari minusku, seseorang mengingatku. Aku tidak menyebarkan hari minusku di sosial media manapun, sejak beberapa tahun lalu. Sengaja, biar tak ada yang tahu. Tidak ada traktiran atau hal semacamnya yang tak berarti, karena aku tidak selalu punya uang. Bisa makan saja sudah bersyukur. Ya, bergayalah sesuai dompetmu. Artinya, jangan kebanyakan gaya jika kita tak cukup mampu untuk mewujudkan itu. Jalani saja, yang penting kita sedang berjalan menuju berbagai impian yang kita miliki.

Dan tentu, hari minus bukanlah hal yang patut dibanggakan sebenarnya. Kita bertambah usia, tetapi jatah hidup kita di dunia berkurang setiap tahun Masehi. Berarti, semakin dekat pula kita dengan kematian. Mengerikan bukan? Aku belajar untuk merenungkan, apa saja yang telah kulakukan selama 22 tahun aku hidup di dunia ini, dan juga apa yang telah kuperoleh. Cukup menjadikan aku wanita dewasa, walaupun aku masih rapuh jika tidak ditopang. Ya, aku memperoleh cukup hadiah sebenarnya tahun ini. Pelajaran hidup, mukena, dan seseorang yang akhirnya aku ketahui, mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. 

Pelajaran hidup; rasa sakit hati dan kesimpulan yang aku dapatkan setelah semua ini terjadi (dan aku masih menjalaninya). Keep strong!

Mukena; ada kejadian lucu di sini. Aku memiliki dua mukena. Satu berwarna putih, satunya lagi berwarna putih dan pink marun. Mukena yang berwarna putih sebenarnya sudah tidak layak untuk digunakan, tetapi aku masih menggunakannya. Dia melihat itu saat bulan Agustus 2016, dan dia membelikan aku sebuah mukena dengan warna kesukaanku; hijau. Dia membungkusnya menjadi kado, dan menyimpannya selama berbulan – bulan, hingga hari minusku tiba. Saat awal tahun, dia bertanya, apa yang aku harapkan di hari minusku. Lalu, aku mengatakan, aku ingin mukena. Klop. Lucunya lagi, dia lupa hari minusku, jadi dia mengucapkan selamat saat dua hari sebelum hari H, sambil mengecek kartu identitasku, kapan aku berkurang umur. Akhirnya, tepat pukul 00.00 hari H, dia membawa kue kecil dengan sebatang lilin bertengger di sampingnya, bukan di atasnya (dasar aneh haha!), juga sebungkus kado kusut yang agak besar berwarna hijau. Aku sumringah, karena di masa – masa sulit seperti ini, dia masih menyempatkan diri untuk melakukan hal kecil yang membuat aku tersenyum. Di depan kado tersebut, sebuah kalimat bahasa Inggris tertulis dalam selembar sticky notes berwarna kuning, dengan tulisan norak yang ditulisnya. Ketika kadonya aku buka, aku senang karena dia membelikan hal yang benar – benar aku butuhkan dan aku inginkan. Arigatou gozaimashita!

Seseorang yang mencintaiku dengan tulus dan apa adanya; full of surprise, love, treat and understand me, like what he does for his mother. And I’m second. Kami memiliki banyak persamaan, salah satunya truthless for the people. He’s not fake, and I try to be not fake. I learn from him. He’s the best gift that I’ve ever had; Rifki Ahmad Rabani.

Oh ya, tadi aku mengatakan, ada tulisan norak di depan bungkus kado yang dia berikan. Yup, like title of this blog article. He said, ‘Happy -1, Weirdo!’.

Look! The candle was at the side of the cake, not on it, lol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar