Kamis, 17 November 2016

Weirdo

Bismillahirrahmanirrahiim.

Holaaa~

Sedih tak sedih, senang tak senang, hidup ya tetap hidup. Harus berjalan sebagaimana mestinya. Keep struggle hah!

Sekarang, aku ingin menceritakan beberapa hal yang tidak penting. Jadi, jangan dibaca, aku takut kalian mengalami gangguan kejiwaan setelah ini. Lol.

Sedikit cerita tentangku, yang semakin hari semakin aneh.

Banyak orang yang bilang aku aneh. Mulai dari fashion style, sikap, candaan, selera musik, pemikiran, dan sebagainya. Karena banyak yang mengatakan seperti itu, dan aku merasa seperti itu, ya kuakui, aku memang aneh. Random. Simple. Canggung. Moody. Konservatif. Individualis. Sok merasa benar.

R A N D O M.
Penyakit aneh nomor 1 di dalam diriku ini cukup menjelimet dalam diriku. Ketika berbagai plan telah aku susun jauh - jauh hari, aku sering kali membatalkannya, dengan alasan cuaca, malas, dan berbagai alasan bodoh lainnya. Namun, ketika aku tidak memiliki plan apapun pada suatu waktu, aku bisa saja menembus hujan badai tak bertuan itu demi memenuhi keinginan spontanitasku. Oleh karena itu, aku sangat payah dalam berjanji. Lebih baik mengajakku pergi ke suatu tempat secara mendadak, atau direncanakan, tapi aku akan melihat kondisi dulu untuk memenuhi janji tersebut. Ya, bagaimanapun janji adalah janji, harus dibayar, sehingga aku akan membayarnya pada lain waktu.

Random yang kedua merupakan penampilanku. Random; acak. Dari setelan atas hingga bawah, aku bisa menggunakan tabrakan warna yang tak jelas ke mana arahnya. Baju; hijau, rok; hitam, sepatu; cokelat, kerudung; merah, tas; hijau terang. Tak jelas, bukan? Dan yang lebih parahnya lagi, karena aku pecinta hijau, setiap aku melihat pakaian atau berbagai benda yang berwarna hijau, aku jatuh hati. Memang tak setiap aku temukan lalu kubeli, hanya ketika keuanganku dalam keadaan cukup. Namun, bisa dibayangkan betapa banyaknya pakaian atau benda yang berwarna hijau yang aku miliki. Wkwk.

Random yang ketiga mengenai selera musik. Di waktu tertentu, aku menyukai jazz, di waktu selanjutnya, aku menyukai swing, lain waktu lagi korean ballad, lagi, anime song, begitu seterusnya. Selalu berganti, karena aku mudah bosan, tapi juga mudah terkenang, sehingga bisa kembali lagi menyukai lagu - lagu yang telah kutinggalkan. Bahkan lagu - lagu pada era 60-an, aku jamah, juga berbagai instrumen. Dan saat ini, saat aku mengerjakan deadline, aku suka mendengarkan sad instrumental, baik dari anime maupun ballad. Meningkatkan konsentrasi, walaupun yang ada, aku menjadi berkonsentrasi terhadap musiknya, bukan tugasnya.

S I M P L E.
Entah, mungkin kata lainnya bukan sederhana, tetapi seadanya. Terutama masalah penampilan, aku hanya menggunakan pakaian seadanya. Aku bukan seorang yang fashionable. Mungkin sedikit nyentrik lebih tepatnya, karena aku pernah mendengar salah satu temanku berpendapat seperti itu tentangku. Mungkin karena sangkin menggunakan pakaian seadanya, sehingga padu padannya menimbulkan style yang aneh dan tak biasa. Tak seperti perempuan lain, fashion style-ku entah berada di golongan mana, aku tak tahu. Bahkan sepatu, ketika tidak ada momen tertentu, aku tidak pernah membeli sepatu (lain cerita waktu sekolah dulu, karena semuanya masih serba dibelikan). Terhitung jari berapa kali aku membeli sepatu saat aku telah hidup sendiri di kost-an. Saat Praktik Industri, aku membeli sepatu hiking, yang juga bisa digunakan di proyek bangunan. Aku membelinya secara on line, dan sepatu itu telah kuajak mendaki ke Gunung Manglayang dan Gunung Ciremai. Alhasil, karena seringkali kugunakan, sekarang sepatu itu mulai robek di bagian tepinya. Lalu, yang kedua, saat aku menjalankan PPL (Program Pengalaman Lapangan) di Majalengka, aku dibelikan flat shoes oleh Paklek, dan sebenarnya, sepatu itu sepatu laki - laki. Susah sekali mencari ukuran sepatu wanita sebesar kakiku. Namun, sepatu tersebut nyaman digunakan olehku, dan modelnya juga bisa digunakan secara universal menurutku, karena aku tidak berubah menjadi laki - laki saat menggunakannya. Saat PPL pula, aku membeli flat shoes lagi, bekas, beberapa kali pakai, dan sepatu itu sepatu Engkur yang terlalu besar. Dia menawarkan sepatu itu. Karena nyaman digunakan, aku membelinya, harganya turun seratus ribu dari harga asal. Jadilah aku memiliki tiga sepatu sekarang. Dulu, akupun diberi sneaker shoes oleh Engkur dan Diah, karena terlalu besar di kaki mereka, yah sekarang sudah rusak, dan sudah saatnya pensiun dari kakiku. Namun, sekarang, alas kaki yang paling sering aku gunakan; sandal gunung. Alas kaki yang paling simpel yang aku miliki sekarang. Simple, lol.

Sekarang, aku ingin membeli wedges untuk wisudaku bulan depan. Kamis, 15 Desember 2016, lebih tepatnya (datang yaa!!). Sejak bulan lalu, belum ada wedges yang cocok untukku, karena ukurannya tak nyaman dikakiku. 

C A N G G U N G.
Ini merupakan penyakit aneh nomor 2 dalam diriku. Ketika aku bertemu dengan orang yang baru kukenal, aku mengalami canggung yang luar biasa, dan butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi dan mengeluarkan sifat asliku yang norak. Alhasil, aku menjadi jaim saat pertama bertemu. Namun, tahap canggung itu berbeda - beda, karena aku juga menemui orang - orang yang berbeda pula karakternya. Oleh karena itu, teman dekatku sedikit. Bahkan, setelah 9 tahun berada di kota orang, setelah sembilan kali berlebaran di kota orang, aku masih merasa canggung saat berlebaran dengan saudara Bulek. Yah, tentu lebih baik dari sebelumnya.

Walaupun aku orang yang penuh kecanggungan, aku bukan antisosial, karena aku merasa bahagia saat mengajar di depan kelas, aku senang dengan anak kecil, aku mudah tersentuh (mungkin karena terlalu banyak menonton drama wkwk).

M O O D Y.
Ini yang ketiga. Penyakit aneh yang paling jelek dalam diriku. Apalagi saat mengerjakan deadline tugas, aku menunggu mood itu datang, baru aku mengerjakannya. Aku mengerjakan tugas dari awal waktu, tetapi tetap saja, aku selesai di posisi paling akhir. Baru mengerjakan beberapa menit, istirahatnya berjam - jam. Menunggu mood itu muncul lagi. Saat tugas satu selesai, dan beberapa kesalahan muncul, aku akan memeriksanya dari awal, hingga semua poin benar. Jadi, makin lama selesainya.

Mungkin istilah moodbooster tak ada dalam kamus hidupku. Karena mood itu muncul dan pergi sesuka hati, tak peduli apapun alasannya. Annoying.

K O N S E R V A T I F.
Masalah penampilan, aku menyukai style era 80-an. Bahkan, aku membeli pakaian bekas impor yang berasal dari era tersebut. Mulai dari jaket, rompi, maupun blazer. Mungkin kerasukan korean series; Reply 1988. Entah, aku benar - benar terpesona pada zaman itu, di mana semua orang berkomunikasi jauh lewat surat, TV masih kotak berantena, belum terkontaminasi dengan gadget seperti saat ini. Bahkan, menyatakan cinta juga tak seperti saat ini yang; terlalu terang - terangan, anak bersekolah SD sudah berpacaran, terlalu diumbar di social media, dan lain sebagainya. Sensasinya kurang, karena semuanya serba on line. Dulu, kirim - kiriman surat, curi - curi pandang, dan ketika ketahuan melihat dari jauh, lari terpontang - panting sangkin malunya. Kenangannya terlalu mendalam dan nyata untuk dirasakan, dan hanya dapat dikenang oleh sang pemilik kenangan. Foto - fotonya juga jadul, dan tak ada banyak gaya. Semuanya seperti adanya. Berbeda dengan kini, yang merambah ke selfie, wefie, lalala, terlalu dipaksakan, dan dibuat - buat. Candidpun dibuat - buat. Difoto karena ajang pamer, bukan ajang untuk menceritakan pada anak dan cucu kelak. Sayangnya, akupun bagian dari masa kini yang semuanya serba seperti itu. Namun, aku semakin sadar, memori itu lebih baik disimpan, walaupun beberapa foto dipamerkan di social media, tetap saja tak boleh berlebihan. Bahkan kini, bercerita di blog jauh lebih menyenangkan daripada di sosial media lain. Menceritakan berbagai pengalaman nyata yang tak dibuat - buat, atau angan - angan dan imajinasi yang kumiliki. Aku juga belajar menjadi penulis di sini, walaupun masih jauh dari kategori baik, dan isi tulisannya hanya sebatas pengalaman saja. (Semuanya berawal dari hal kecil, bukan?)

Penampilan pada era 80-an juga menggambarkan kesederhanaan yang aku sukai; perpaduan celana jeans dan berbagai jaket. Keren!

Tak hanya penampilan, seperti yang kukatakan sebelumnya, musik pada era ini ataupun sebelumnyapun aku sukai. Mulai dari western, korean, japan, bahkan indonesia. Gaya musiknya yang sangat berbeda pada zaman sekarang, dan penyanyi - penyanyi yang memiliki kualitas suara tinggi, tidak seperti saat ini, girl band, boy band, atau apalah itu, yang mengandalkan wajah cantik atau tampan dulu, baru suara. Dari liriknya juga, tetapi aku lebih menilai dari segi melodi musik, bukan liriknya. Aku menyukai Michael Buble, tetapi tidak semua lagunya kusukai. Seperti itulah. 

Sayangnya, waktu tak bisa berbalik. Ya, aku disini sekarang, pada zaman ini.

I N D I V I D U A L I S
Keempat; individualis. Dulu, saat masih bersekolah, aku paling anti memberikan contekan. Aku dikenal pelit dalam situasi apapun, kecuali, jika saat - saat terdesak, entah apa setan yang merasukiku, aku memberikan jawaban saat ulangan atau PR, tetapi juga mendapatkan timbal balik dari teman - temanku, entah jawaban nomor lain yang tak bisa aku kerjakan atau yang lainnya. Hidup ini tak ada yang gratis, Kawan.

Ya, berbeda jika membicarakan ketulusan. Hal itu dari hati, dan sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Beda konteks.

Lalu, di antara teman - temanku, aku paling jarang berkumpul dengan mereka. Entah, rasanya lebih nyaman menghabiskan waktu seorang diri di kamar, entah dengan menonton film atau korean variety show kesukaanku (Running Man), atau mendengarkan lagu, sampai tertidur. Rasanya lebih menyenangkan. Sesekali keluar rumah, dan jika aku berada di rumah Bulek, aku keluar pada sore hari, dan bersepeda, menikmati matahari senja. Bahkan, belanja sesuatupun, aku lebih suka sendiri, karena aku sangat lama memilih sesuatu, dan selalu timbul rasa tak enak jika aku mengajak temanku sendiri, karena dia akan menungguku belanja terlalu lama. Hang out ke suatu restoran, atau tempat terkenal lainnya, hanya sesekali, yaitu ketika aku berjanji akan keluar (karena diajak). Lebih tepatnya, aku kurang menyukai makan di restoran gaul atau apalah, karena menurutku, menunya sama saja dengan warung makan pinggiran, bahkan porsinya lebih sedikit, dan lebih jengkelnya lagi; mahal, karena menang tempatnya saja. Apalagi porsi makanku sedikit berlebihan dibandingkan perempuan lain yang setara berat badannya denganku. Oleh karena itu, aku sering menyesal jika makan di tempat yang seperti itu, mahal tapi tidak kenyang. Yah, beda cerita kalau ditraktir, wkwk.

Kalaupun jalan - jalan, aku lebih senang ke tempat yang jauh (touring), yang lebih berunsur alam, bahkan hiking. Mungkin, jika aku bisa mengendarai motor atau mobil, aku akan pergi ke tempat yang benar - benar jauh, melihat kehidupan, menjelajah alam, dan menelusuri kebahagiaan hidup. Dan aku memiliki impian, untuk pergi ke beberapa negara, dan menjelajah berbagai bangunan bersejarah, juga baru kulihat. Jauh, bukan?

S O K    M E R A S A    B E N A R.
Mungkin bukan sok, tetapi karena semua orang memiliki perspektif masing - masing dalam menilai sesuatu. Belum tentu yang aku bilang benar, yang lain bilang benar. Karena setiap individu unik, bahkan dalam cara berpikir. Jadi, yah, mungkin ini bukan penyakit, karena kaupun juga punya pendapat tersendiri mengenai sesuatu, bukan, Kawan? Karena kita sama - sama manusia.

Dan kini, aku semakin aneh dan aneh lagi, diperparah pula dengan kehadiran satu orang aneh lain dalam hidupku; Rifki Ahmad Rabani. Dia berbicara berdasarkan pengalaman dan pengamatannya, bukan berdasarkan filsafat yang tak pernah kumengerti darimana asalnya dan ke mana muaranya. Si keriting yang kadang berkacamata dan kadang tidak, yang pemikirannya out of the box, sangkin out-nya, mungkin bisa dikatakan dia dalam tahap lebih tinggi dari aneh; gila. Namun, aku suka si gila itu. Aku menuju ke arah gila bersamanya.

Ceritaku jadi bercabang dan tak terarah. Maklum, sudah kubilang, aku aneh. Dan semoga ini tidak terjadi pada kalian, Kawan. Yang normal saja, cukup aku saja yang aneh. Kalau kalian menjadi sakit jiwa setelah membaca ini, silakan berobat ke klinik kejiwaan setempat. Lol.

Sekarang, aku ingin melanjutkan pengerjaan deadline tugasku yang penuh dengan angka dan gambar. Dan aku juga lapar. Aku sedang menunggu kiriman makanan datang dari langit. Semangat!!

Thanks for read. Keep following my blog, guys!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar