Kamis, 10 November 2016

Pulang

Bismillahirrahmanirrahiim.

"Ini bukan musibah, ini pelajaran hidup bagi kalian."
"Aku berada di tengah - tengah, antara malaikat dan iblis."
"Kamu tak pernah merasakan apa yang aku rasakan."
"Mereka masih kecil, mereka masih membutuhkan kasih sayangmu."
"Maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu, kau salah paham, karena aku hanya meminta klarifikasi. Ya, seharusnya aku tak perlu menangis dan membentakmu. Maafkan aku."
"Semuanya dimulai sejak dulu."
"Biarkan dia kuliah, sayang sekali jika beasiswanya tak berguna."
"Aku lelah dengan dia, aku lelah dengan semua ini."
"Kau sombong."
"Aku rindu dengannya."
"Aku sayang dia."
"Aku ingin membahagiakan mereka."

"Aku akan bertanggungjawab."
"Dia berkelas, dia orang yang berintelektual."
"Bersabarlah."
"Aku tak boleh menangis."
"Dia lebih tegar dari yang kamu bayangkan."
"Jika tak ada dia, aku tak tahu harus menopang ke mana."
"Tiga tahun lalu, saat aku pulang, semuanya baik - baik saja."
"Aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi."
"Wajahmu terlihat letih, bersemangatlah."
"Tidurlah, lupakan sedihmu."
"Kamu kuat, kamu tangguh."
"Tidak di hadapan orang lain, tidak di sosial media,"
"Aku tak pernah merasa sesedih ini."
"Saat ini masih lampu hijau, sebentar lagi lampu kuning, lalu saat lampu merah tiba, semuanya berakhir."
"Tahan emosimu."
"Dia meledakkan semuanya, rasa sakit hatinya meledak luar biasa, terurai panas bagaikan lava."
"Ini pertama kalinya, dia begitu marah denganku."
"Kamu sudah sakit hati, bagaimana aku yang mengalaminya secara langsung."
"Sepertinya ada yang lain."
"Aku ingin kamu tetap di sini."
"Dia pergi. Pakaiannya sudah dikemas dan dia telah pergi."
"Berdoalah. Semoga hatinya luluh."
"Dia datang lagi."
"Ayo, bersatu lagi!"
"Semua memori terkuak. Indah tak terperi. Juga sakit, sangat perih."
"Kami menunggumu."
"Kami merindukanmu."
"Pulanglah."
"Kembalilah."

Ibu, kami membutuhkanmu, mencintaimu.
Ibu, pulanglah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar