Senin, 14 November 2016

Fucking Money

Bismillahirrahmanirrahiim.

Tak dipungkiri, semakin banyak usia yang kita lewatkan, semakin banyak pula pelajaran hidup yang silih berdatangan. Aku pernah mengalami kejadian pahit, tetapi seiring berjalannya waktu, kejadian baru ternyata lebih pahit lagi rasanya. Dan semua orang seperti itu, hanya saja kita berada pada jalur masing - masing.

Suatu hari, aku bertanya, "Bagian fisik mana yang paling kamu suka dariku?"

Dia mengatakan padaku,"Mata. Matamu mencerminkan kesedihan. Kesedihan yang kamu dapatkan dari berbagai masalah yang kamu hadapi. Itu sebabnya, aku ingin bersamamu, karena kamu sudah mengalami berbagai pengalaman pahit dalam hidupmu, dan kamu telah keluar dari zona nyamanmu."

Ya, semua itu benar. Aku telah keluar dari zona nyamanku. Aku bukan lagi anak yang bisa bermanja diri dengan orangtua. Aku bukan lagi seseorang yang berteriak ketika berada di wilayah asing. Aku bukan bermaksud sombong. Hidup ini keras, Kawan. Aku telah mengalami banyak hal yang menyakitkan dalam hidupku. Dan aku masih di sini, mungkin berkat semua doa darimu, Kawan. Aku sangat berterimakasih atas apa yang telah kalian lakukan untukku, walaupun kita tak pernah bertatap muka.

Tahun ini pula, aku menemukan orang yang sama seperti diriku. Sama - sama pernah mengalami berbagai kejadian pahit dalam hidup. Dia membantuku, dalam titik jatuhku yang paling dalam saat ini. Dan tahun ini pula, aku jatuh, dan mungkin ini masih belum apa - apa dibandingkan kejadian selanjutnya yang akan dialami semua manusia; kematian. Ini masih pelajaran hidup, bukan pelajaran kematian. Sungguh, ini menjadi pelajaran berharga bagi aku dan adik - adikku kelak. Orang itu ada di sampingku, saat aku terpuruk dengan keadaan keluargaku nun jauh di sana. Dari dia pula, aku mendapatkan energi untuk memperbaiki keadaan, meskipun harus memutar otak dan menumpahkan air mata beberapa kali. Kau tahu, Kawan? Sakit rasanya, sangat sakit. Kejadian yang terpikirkan olehku, karena gejalanya sudah muncul sejak aku kecil. Namun, rasanya sesakit ini. Aku sebagai anak pertama bertanggungjawab atas adik - adikku, apalagi mereka masih SMP.

Solusi didapatkan, dan terpaksa, salah satu pihak dirugikan. Sedih, sedih rasanya.

Jadi, aku punya impian. Sederhana. Aku ingin memberikan kehidupan yang layak bagi orangtuaku dan adik - adikku. Aku ingin keluargaku hidup dengan damai, dan tak ada lagi pertengkaran. Semua itu akan terwujud, apabila ada hal yang yang kubenci selama ini; uang. Hal yang kubenci tetapi juga kubutuhkan. Kekuatan yang bisa membahagiakan, juga bisa menghancurkan seorang manusia. Aku benci, sangat benci uang. Mendapatkannya saja harus bersusah payah, dan lihatlah di sekitarmu, banyak manusia kelaparan di pinggir jalan, karena uang, banyak orang yang sudah berkuasa menjadi semakin berkuasa, karena uang, banyak orang yang menganggap remeh hal - hal penting seperti kebersamaan karena uang, banyak permusuhan yang diakibatkan karena uang, banyak orang yang mendewakan uang, banyak orang yang ingin melipatgandakan uang, dan akhirnya ditipu. Banyak korupsi yang terjadi di negeri ini, banyak orang yang berfoya - foya tanpa melihat ke bawahnya, banyak orang yang memberi tetapi ingin mendapatkan image yang baik dari masyarakat. Banyak pula orang yang mencuri, menipu, menyuap, menjilat atasan, semua karena sulitnya mendapatkan uang. Dan kini, uang menghancurkan dua hal dalam hidupku; kebersamaan dan kepercayaan. Hanya karena uang. Betapa rendahnya faktor permasalahan ini.

Image result
Uang; hal yang kubenci, tetapi kubutuhkan.
Sumber: Belitang Blog - WordPress.com
Entah. Semoga kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, Kawan. Semoga semua ini berjalan lebih baik lagi. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar