Jumat, 08 Juli 2016

Wanita Seutuhnya

Bismillahirrahmanirrahiim.

Entahlah. Rasanya aku ingin menulis sesuatu saat memulai ini. Aku sudah banyak menunda ide - ide tulisanku. Dan aku perlahan lupa, mulai pudar dengan ide tersebut.

Oh, mungkin ini. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, Kawan. Setidaknya aku mulai menulis lagi.

Aku masih merasa menjadi anak perempuan ingusan yang baru lahir kemarin senja. Beberapa hal ini yang membuatku yakin.

Pertama. Sering aku melihat beberapa wanita dengan kerudung yang sangat panjang dan besar seperti mukena saat berada di tempat umum. Kau tahu, Kawan? Sungguh, wanita berkerudung itu membuatku jealous. Dengan keyakinan yang teguh, mereka bisa mempertahankan apa yang ada pada penampilan mereka. Jealous, karena mereka sudah terlebih dahulu menjadikan diri mereka sebagai objek keimanan yang ikhlas dan taat, sedangkan aku di sini masih terpuruk dengan berbagai dosa, dengan penampilan yang belum seutuhnya menutupi tubuhku, dengan maksiat yang terus menjalari kehidupanku. Aku belum merasa menjadi wanita seutuhnya.

Kedua. Sering aku melihat beberapa pasangan muda - mudi yang berjalan berdua dengan mesra. Aku merasa biasa saja. Namun, aku jealous, ketika melihat pasangan suami istri yang hilir mudik, dengan sang istri yang berkerudung panjang, dengan cadar hitam yang menutupi wajah dan hanya memperlihatkan mata mempesona dari sang istri. Dengan sang suami yang berjenggot dan berkumis, berpakaian stylish ala anak muda yang masih melajang. Mereka tertawa, bermain, saling menatap, saling berpegangan tangan, saling bersandar. Cukup menahun juga aku merasakan kesepian, karena keluargaku nun jauh di sana, sehingga hari - hariku benar - benar sangat sendiri. Aku belum merasa lengkap sebagai seorang wanita.

Ketiga. Sering aku melihat ibu - ibu yang menggendong anaknya yang masih bayi, yang mengajari anaknya berjalan, yang tertawa dan bermain bersama, yang menyusui anaknya setiap saat. Betapa bahagianya menjadi seorang ibu. Mencurahkan segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang perempuan kepada sang anak yang terlahir dari rahimnya. Aku ingin merasakan semua itu. Menjadi seorang ibu.

Keempat. Sering aku melihat resep makanan. Sering aku melihat banyak perempuan, bahkan laki - laki yang mampu memasak makanan apapun. Aku? Menggoreng telur yang tak keasinan saja sudah bersyukur. Padahal Ibuku jago dalam memasak. Kue, yang asin, yang manis, semua bisa diolah oleh beliau. Jarak yang memisahkan kami membuatku tak kecipratan keahlian Ibu. Sembilan tahun. (Aku merindukannya, dan baru saja aku mendengar suaranya. Begitu indah, begitu kurindukan).

Lalu, kapan aku pantas seperti itu? Kapan aku bisa seperti itu? Kapan aku bisa menjadi wanita seutuhnya? 

Pasti, suatu saat nanti. I'm on the way. Kawan, ayo kita bersama melangkah. Semua ini butuh waktu. Semua ini butuh proses. Semangat!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar