Sabtu, 16 April 2016

Angin

Bismillahirrahmanirrahiim.

Di senja nan syahdu ini, angin kering bertiup semilir, menyentuh dedaunan yang berirama karena sentuhannya. Berbagai spesies bergerak menyatukan dirinya dengan angin itu, adapula yang melawannya. Air sawah yang belum ditanami bibit padi, bergeming menyapa angin itu. Sang petani yang sedang membajak sawahpun tak sampai hati membiarkan angin lewat begitu saja. Ya, tentu, zat tak berupa dan tak berbau itu dihirup dalam, dan dihembuskan kembali sebagai alur kehidupan.

Di atasnya, langit dan matahari menyapa dengan indah dan terik. Awan – awan membentuk pola naturalis yang sangat indah, karya Sang Maestro yang luar biasa menakjubkan. Putih seperti kapas, biru seperti biasan cahaya pada air di laut. Sungguh, tempat – tempat inilah yang dilalui oleh angin kering tadi. Begitu mempesona, indah tak terperi. Namun, di balik langit itu, ada berjuta tempat di dunia ini, yang telah dijelajahi oleh Sang Angin. 

Aku menerawang jauh, di sini, di salah satu tempat yang telah membuatku jatuh cinta, yang telah membuatku bersyukur menjadi makhluk Sang Penguasa Jagat Raya yang mempesona ini; Majalengka. Sang angin memberikanku berbagai pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku; darimana dan ke mana tujuan gerangan, Sang Angin yang telah menjadi salah satu sumber kehidupanku, kehidupanmu, dan kita? Akankah Sang Angin dapat menyampaikan rinduku pada Ibuku yang bermil – mil jauhnya dari kursi yang kududuki saat ini? Akankah Sang Angin dapat menyampaikan salamku pada warga negara yang terasing dan tak pernah mengenal dunia di luar wilayah mereka? Akankah Sang Angin mengutarakan perasaanku akan cinta yang indah tak terperi kepada Tuhanku, meskipun aku sering berkhianat padaNya? Akankah Sang Angin dapat menyampaikan pelukku pada kekasih masa depanku yang telah digariskanNya untukku? Akankah Sang Angin dapat menyampaikan empatiku, untuk negara – negara yang telah mengalami peperangan selama berpuluh – puluh tahun? Akankah?

Akankah Sang Angin menyampaikan jeritan milyaran rakyat kecil yang ingin keluar dari garis kemiskinan kepada yang katanya ‘Pemerintah Berdaulat’? Akankah Sang Angin dapat menyampaikan kebusukan – kebusukan yang terdapat di berbagai bidang kehidupan kepada Sang Hakim Penguasa Sejagat Raya? Akankah Sang Angin dapat menunjukkan arah pada segerombolan musafir yang tersesat di Gurun Sahara? Akankah Sang Angin dapat melambat ketika berada di Kutub Utara untuk menghangatkan orang – orang yang ada di dalam iglo? Akankah?

Entah, aku tak tahu ke mana Sang Angin akan bertuju, akan bermuara. Atau mungkin, ia takkan pernah bermuara. Sang Angin akan terus berhilir mudik ke arah yang tak pernah kita duga. Terus bertiup, menyegarkan kehidupan bumi yang mulai beranjak mati, karena mengering oleh teriknya dosa – dosa manusia yang semakin merajalela di muka bumi ini. Dan salah satu manusia itu adalah aku.



2 komentar:

  1. weewwww iwinnn kereennn

    BalasHapus
  2. Eh, ada Agiiii, hehehe, alhamdulillah, rajin - rajin mampir ya ke blog aku ({})

    BalasHapus