Kamis, 17 Maret 2016

Balada Bumi dan Surya

Bismillahirrahmanirrahiim.

Sebutir pasir di hamparan samudera luas,
Terombang ambing,
Mengikis karena tergerus air,
Asin tanpa bau,
Dan perlahan hilang,
Melebur bersama udara.

Lalu, transformasi itu menghasilkan atom udara,
Tak berbau, tak pula berasa,
Namun, kau dapat merasakannya,
Begitu menghujam kalbu,
Menggugah sukma.

Setelah dia melihat dunia,
Berkumpullah dia bersama yang lain,
Mengepul dalam mutasi kapas putih,
Kemudian menjadi kelabu,
Berat dan besar.

Tumpah!
Semua pecah, berurai tetesan langit,
Halilintar menggema,
Langit begitu suram,
Anak ayam yang belum menetaspun ketakutan dibalik cangkangnya.

Kuajak adikku keluar rumah,
Kukatakan kepadanya, "Indah, bukan?",
Sang Tangisan mereda,
Cakrawala merona,
Warna warni yang indah tak terperi muncul dengan malu di ujung Sang Tangisan,
Pelangi!!
Kamipun bersorak.
Lengkung nan elok, tanda senyum cakrawala kepada Sang Tangisan.

Perlahan, Sang Surya menyapa,
Lalu bersabda,
"Sudahkah kalian terima semuanya, Wahai Bumi dan seisinya?"
"Sudah".
"Apa yang kalian rasakan?"
"Awalnya, kami merasa kehilangan arah, ketakutan. Namun, perlahan, kami menjadi kuat, dan akhirnya, kini, setelah Kau hadir, kami bahagia".
Sang Surya tersenyum.
Lalu, bersabda lagi,
"Berarti kalian merindukanKu?"
"Ya, kami merindukanMu, dan selalu membutuhkanMu".
"Kalian tahu, mengapa semua itu terjadi?"
"Tidak".

"Inilah alasannya. Aku begitu mencintai kalian semua. Namun, aku tak ingin kalian menjadi manja, melainkan tangguh dan kokoh. Aku menciptakan semua kejadian itu untuk menempa kalian, agar menjadi kuat. Dan mengasah, sejauh mana kerinduan kalian terhadapKu".

Secepat kilat, seisi Bumi memeluk Sang Surya dengan erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar