Minggu, 13 Maret 2016

Andrea Hirata; Ayah

Bismillahirrahmanirrahiim.

Wahai Kawanku, aku baru saja membaca suatu kisah, entah fiksi atau nyata, kisah tersebut begitu membuatku tergugah. Ya, lagi – lagi, Andrea Hirata mencuri sukmaku, karena kisah yang dituangkannya dalam sebuah novel.

Dulu, aku membaca karya beliau yang berjudul Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov dan Cinta di Dalam Gelas. Maryamah Karpov aku pinjam dari kawan SMP-ku, Kasyfur, dan novel itu kubaca saat Ujian Nasional SMP menjelang. Sedangkan novel lainnya lupa, entah dari siapa aku meminjamnya. Novel debut pertama beliau; Laskar Pelangi, tak sempat kubaca, tetapi aku menontonnya di bioskop bersama Bulek dan keponakan Bulekku kala SMP. Filmnya saja sudah luar biasa, apalagi novelnya, pasti jauh lebih luar
biasa. Dan kali ini, saat membeli buku skripsi, aku tertarik dengan novel Andrea Hirata yang lain; Ayah.

Begitu melihat judulnya, covernya, tiba – tiba bayangan Bapak melintas dalam benakku. Sedang apa beliau sekarang? Bagaimana keadaannya saat ini?

Aku sempat ragu untuk membeli novel yang berjudul Ayah itu, karena ada buku lain yang menarik minatku, mengenai jodoh. Akhirnya, aku memilih buku yang bertema jodoh itu, karena saat itu aku sedang diratapi rasa galau karena perasaanku yang tak menentu.

Aku berbalik. Aku menukarnya dengan novel Ayah itu. Apa peduliku dengan jodoh untuk saat ini? Toh, dia yang kugalaukan saat itu belum tentu menjadi milikku. Sedangkan Ayah, yang aku sapa dengan kata Bapak, merupakan ikatan batin antara anak dan ayah, yang selalu menjadi tali penyambung sukma kala suka dan duka.

Aku mulai membaca lagi. Kebiasaan lama yang terpendam karena terlena oleh canggihnya gadget dan film. Awalnya, membaca itu menjadi pengantar tidur bagiku, tetapi rasa itu semakin lama semakin bangkit; aku berhasil mengolah rasa, sehingga aku selalu penasaran akan lanjutan kisahnya.

Andrea Hirata, dengan karakteristik penulisannya, selalu menggabungkan budaya Melayu dan Indonesia dalam novelnya, suatu perpaduan langka yang jarang dimiliki oleh penulis masa kini. Kisahnyapun tak hanya bertemakan cinta pada sepasang sejoli lalu mengalami happy ending, tetapi lebih dari itu; beliau menghadirkan kisah cinta pada kampung halaman, orangtua, mimpi dan lainnya. Latar pemainnya pun selalu dalam lingkungan miskin, jarang bermandikan teknologi, dan kisah ceritanya selalu dimainkan oleh orang – orang udik yang punya semangat hidup tinggi di Belitong sana. Bahkan, kau akan banyak tertawa, tersenyum, terharu saat membaca karya luar biasa seorang Andrea Hirata. Aku takkan banyak bercerita mengenai kisah yang ada di novel Ayah ini, mungkin hanya sekelebat, karena ceritanya akan lebih menghujam kalbu ketika membacanya langsung. Andrea Hirata adalah seorang pencerita yang hebat. Kau akan cepat dibawa ke dimensi lain dalam cerita itu.

Singkatnya, alkisah, Sabari bin Insyafi dan Marlena binti Markoni, dua sejoli yang mengalami kisah cinta dan kehidupan rumah tangga yang pelik. Sabari, berparas cukup aneh, dengan gigi seperti tupai dan telinga yang lebar seperti wajan. Namun, Tuhan adil. Sabari, sesuai namanya, memiliki sifat yang sangat sabar. Selain itu, Sabari jago dalam berpuisi dan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tak hanya itu,sifat yang sangat aku kagumi dari tokoh yang satu ini adalah pantang menyerah, bukan dengan segala cara halal dan haram dia coba, tetapi dengan kesabaran dan kebaikan hatinya, dia mewujudkan mimpi – mimpinya yang sederhana.

Marlena, perempuan manis berlesung pipit indah, merupakan perempuan pemberontak, salah satu sikap yang diwarisi dari ayahnya; Markoni. Anak bungsu tersebut seringkali mencontek, berganti – ganti pacar, dan senang sekali berkelana.

Sabari, dengan segala ketangguhan hatinya, melihat Marlena nan elok rupawan, jatuh cinta untuk yang pertama kalinya, sejak SMP. Saat itu, kertas ujian Bahasa Indonesia milik Sabari yang sudah selesai dan hendak dikumpulkan, dirampas oleh Marlena. Dalam sekejap, Marlena mengisi lembar jawabannya, lalu mengembalikan kertas itu kepada Sabari; dilempar. Sungguh jatuh cinta yang aneh, menurutku.

Sejak saat itu, Sabari terus mengejar Marlena, tak peduli meskipun dia tak pernah dihargai, dia tetap mencintai Marlena, dengan segenap ketulusan hatinya. Yang lebih kusalutkan lagi, cara mencintai Sabari sungguh norak, tetapi sangat anggun. Betapa tidak, setiap kali Marlena melakukan kegiatan ini itu, Sabari langsung menguasai bidang itu. Contoh, Marlena menyukai olahraga lompat tinggi, Sabari langsung berlatih dan menjadi juara umum pada bidang itu. Banyak lagi. Meskipun tetap dicemooh oleh Marlena, dia tak gentar. Bahkan lebih terpacu lagi untuk mengejarnya. Sahabat Sabari; Ukun, Tamat dan Toharunpun hingga stres memikirkan sahabat mereka yang hampir sinting itu hanya karena seorang Marlena di muka bumi ini. Melihat baligo artis perempuan cantik India saja, Sabari tak mau melakukannya; dia merasa mengkhianati Marlena dengan perbuatan itu.

Nah, di mana letak unsur ke-ayah-an-nya? Aku sarankan, Kawan, bacalah! Kau akan tergugah karena kisah berbagai ayah yang sangat esensial dalam menyayangi putra – putrinya. Novel ini satu cerita berkesinambungan, kok, bukan berbagai kisah yang disatukan menjadi sebuah novel. Di dalam novel ini, tak hanya satu ayah diceritakan, melainkan beberapa. Yah, tentu, tokoh utama di novel Ayah ini; Sabari, menjadi ayah yang luar biasa bagi anak tirinya, Zorro.

Tunggu dulu, anak tiri? Mengapa bisa begitu?

Oleh karena itu, sekali lagi, kusarankan, bacalah novel Ayah ini.

Untuk Ayah yang ada di seluruh dunia, kalian adalah ayah yang hebat. Beraneka ragam sifat yang kalian miliki dan menunjukkan kasih sayang kepada anak – anak kalian dengan cara yang berbeda pula. Terima kasih atas jasa – jasa kalian yang tiada tara untuk kami semua. Untuk calon ayah di seluruh dunia, belajarlah untuk menjadi ayah yang terbaik sepanjang masa bagi anak – anak kalian kelak.

Bapak, aku mencintaimu. Walaupun kita jauh secara fisik, doa dan pengabdianku selalu untukmu. Suatu saat nanti, aku akan datang menjengukmu. Bercerita mengenai segalanya. Hanya kau dan aku, duduk di beranda rumah. Tunggu aku. Aku akan pulang.

Salam sayang,
Anakmu,


Nona Winda.

2 komentar:

  1. Bagus ceritanya,jangan lupa kunjungi blog ku ya www.tulisan-imam.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah :)
      Saling mengunjungi ya, semangaat!!

      Hapus