Sabtu, 27 Februari 2016

Aku Jatuh Hati!

Bismillahirrahmanirrahiim.

Aku ingin menceritakan sesuatu yang sedang kurasakan saat ini. Sesuatu yang membuatku jatuh hati, karena dengan melihat senyuman dan semangat mereka yang luar biasa untuk belajar, hal tersebut membuatku bahagia. Ya, aku mulai mencintai profesi guru, yang sedang kugeluti praktiknya di SMK Negeri 1 Majalengka. Dan membuat tekadku semakin bulat untuk mendalami profesi yang satu ini!

Oke, kita mulai dari awal.

Cita – cita, impian, harapan dan tujuan. Aku yakin, semua orang, tak terkecuali, memiliki keempat hal tersebut. Sekecil – kecilnya keempat hal itu, setidaknya mereka memiliki alasan untuk bertahan hidup, karena tanpa semua itu, hidup seperti tanpa tujuan, hidup akan kehilangan arah. Dan aku adalah salah satu orang yang Allah takdirkan untuk memiliki hal tersebut, dengan berbagai rasa bimbang, ketakutan, dan kekalutan saat memilih hal tersebut.

“Saat besar nanti, kamu mau jadi apa?”, tanya seseorang padaku saat masih kecil.
“Aku ingin menjadi penyanyi”, jawabku.
“Aku ingin menjadi dokter”, jawabku pada orang dan waktu yang berbeda.
“Aku ingin menjadi artis”, jawabku lagi.
“Aku ingin menjadi pelukis”, jawabku lagi di lain waktu.
“Aku ingin menjadi guru”, jawabku lagi.

Begitu sering aku lontarkan jawaban yang berbeda saat kecil dulu, karena aku menyenangi semua hal yang berkaitan dengan profesi tersebut. Dengan rasa bangga dan polos, aku mengatakan semua itu, penuh kejujuran, yang selalu dirasakan oleh setiap anak kecil.

Aku senang menyanyi. Ya, sejak kecil aku sangat senang dengan hobiku itu. Bahkan hingga sekarang, dan aku bisa bernyanyi keras – keras saat aku merasa senang atau sedih. Aku merasa bahagia dengan bernyanyi dan mendengarkan musik.

Ada dua tipe orang dalam menikmati musik; pertama, mengenal liriknya terlebih dahulu, lalu beralih ke melodi, dan yang kedua, menikmati melodinya terlebih dahulu, baru mengenal liriknya. Aku adalah salah satu orang yang dilahirkan untuk menikmati musik dengan tipe kedua. Ketika jiwa seniku yang sedikit ini tergugah saat mendengarkan suatu melodi yang baru kudengar, aku akan mulai mencari lagu tersebut dan menikmatinya. Bahkan tanpa lirikpun, aku sangat menikmati suatu lagu, contohnya, seperti saat ini, aku sangat menikmati karya – karya Depapepe, yang selalu mengalun indah melalui smartphone atau laptopku. Karya musik lainnya yang aku suka adalah The Carpenter, Queen, Bee Gees, Kings of Convenience, Yuhki Kuramoto, Payung Teduh, Tulus, Michael Buble, One Republic, dan masih banyak lagi. Cukup jadul, bukan? Padahal aku lahir di generasi 90-an. Selain Depapepe, aku juga menyukai karya musik Jepang lainnya, seperti Garnet Crow, Mai Kuraki, dan sebagainya. Jika kurasa melodinya kurang terdengar indah di jiwaku, meskipun dengan penyanyi yang aku suka, aku takkan menyukainya, karena melodi adalah yang terpenting bagiku. Namun, suatu pengecualian bagi lagu Jepang, yang sebagian besarnya aku sukai karena liriknya, dan akhirnya melodinya pun selalu seirama dengan liriknya yang menyentuh. Satu lagi alasan aku menyukai lagu Jepang, karena aku menjadi penggemar Meitantei Conan sejak tahun lalu! (Padahal sejak aku lahir, komik dan animenya sudah ada, ya, tetapi aku baru menonton animenya saat aku sudah beranjak dewasa. Tak apa, mungkin masa remajaku memang harus dilalui masa – masa yang sulit, dan masa kanak – kanakku adalah masa di mana aku tak mengenal gadget, dan benar – benar menikmati permainan tradisional!)

Sayangnya, dengan potensiku yang satu ini, aku hanya bisa memendamnya, menguburnya dalam hingga saat ini, dan hanya bisa kujadikan sebagai ekspresi kebahagiaan ataupun kesedihanku. Karena aku begitu banyak kehilangan kesempatan untuk mengembangkannya. Bukan karena aku tak mau, tetapi karena aku mengalami masa remaja yang sulit. Mustahil bagiku sekarang untuk mewujudkan salah satu impian itu.

Tak apa, satu jalan tertutup, jalan lainlah yang terbuka lebar untukku.

Namun, di SMK tempat aku praktik mengajar, terdapat ekstrakurikuler paduan suara, yang bernama Stemanika Voice. Wah, senangnya bukan kepalang! Setidaknya, aku bisa melihat cara mereka latihan menyanyi. Pembinanya pun luar biasa, dan salah satu lulusan seni musik UPI, Bu Siti Nur. Aku juga ikut bernyanyi, ikut berbahagia.

Kedua; dokter. Aku hanya melontarkan cita – cita ini, karena saat kecil dulu, semua temanku rata – rata mengucapkan hal yang sama. Aku hanya sekedar ikut – ikutan untuk yang satu ini, walaupun pada kenyataannya, aku sempat jatuh cinta pada Biologi saat SMA, salah satu keilmuan kedokteran di sekolah menengah. Bahkan, saat memilih program studi perguruan tinggi, aku memilih Biologi sebagai pilihan keempat, dari empat pilihan yang diajukan. Dan yang lebih parah lagi, saat aku sudah menggeluti arsitektur, aku pernah mengajar les biologi SMP di Salman, ITB. Tidak sejalur.

Allah memilihkanku jalan lain yang lebih baik. Satu pintu tertutup lagi, tetapi tenang, yang lain masih terbuka lebar. Akupun melangkah.

Ketiga; artis. Suatu impian konyol yang pernah aku rencanakan untuk masa depanku. Dulu, di kamarku, aku disuguhi TV kecil. Aku sangat suka menonton hingga larut malam, dan menonton fTV (aku tak memiliki komputer dulu, jadi aku banyak menghabiskan waktu di rumah bersama TV). Aku kerap meniru akting yang ada di TV, di depan cermin kamar ibuku. Kadang aku berusaha untuk akting menangis, marah, kesal, dan sebagainya. Lalu, saat SMA, terdapat ekstrakurikuler teater, yang begitu kental dengan akting. Namun, lagi – lagi, karena masa remaja yang sulit, aku tidak bisa mengikutinya. Memang bukan jalan yang terbaik, sepertinya.

Oh ya, itu dulu, saat aku menyukai fTV. Sekarang? Tidak, aku bahkan tidak suka menonton TV saat ini. Setidaknya, hal tersebut menunjukkan bahwa aku pernah mengalami masa ‘alay’. Sekarang, sudah tak ‘alay’kah? Hanya Allah yang tahu.

Keempat; pelukis. Sebenarnya, aku mengungkapkan impianku yang satu ini, karena aku juga memiliki bakat menggambar dalam diriku, sebuah bakat yang diturunkan dari Bapakku, salah satu orang yang terbaik dalam kreatifitas seni rupa. Beliau sangat mahir dalam menggambar, melukis, membuat suatu kerajinan, bahkan bahan – bahan bekaspun dapat beliau olah sekreatif mungkin. Ah, aku merindukannya. Seorang Bapak yang pikirannya selalu di luar logikaku, tetapi terkadang kami menjadi satu pemahaman dalam suatu paradigma. Orang – orang mengatakan bahwa beliau adalah orang yang gila, aneh, dan sebagainya (dan hal tersebut menurun juga pada diriku, ckck), tetapi beliau tetap Bapakku yang sangat, sangat aku cintai. Dengan rasa humornya yang luar biasa, keceriaannya terhadap anak – anaknya, bahkan ibuku sering jadi korban semprotan kemarahan Bapakku, tetapi tidak terhadap anak – anaknya. Pernah suatu hari, aku pulang telat saat SMP. Bapakku hanya diam, tak mau berbicara denganku. Namun, beliau tak pernah marah padaku, beliau selalu tersenyum, bahkan kami sangat hobi tertawa di saat bersama. Ah, Ya Allah, begitu aku merindukan sosok beliau, yang kini semakin tua dan semakin keras pemikirannya. Aku begitu merindukannya, sangat merindukannya. Delapan tahun berlalu begitu cepat, aku telah mengorbankan kebersamaanku terhadap keluargaku. Semoga aku bisa menebusnya dengan pengabdian dan doa untuk mereka. Pengabdian; ridha orangtua adalah ridha Allah, sedangkan doa; cara terbaik untuk memeluk orang yang jauh dari rengkuhan. Aku mencintaimu, Pak. Semoga Allah selalu menaungimu dalam hidayahNya. Aamiin.

Maafkan aku, karena begitu jarang aku homesick, jika tak mengalami hal yang berhubungan dengan mereka. Bukan karena aku tak peduli, tetapi rasa rindu itu tak sebanyak yang orang lain punya untuk keluarga mereka. Aku sudah dididik keras untuk merantau, sehingga aku akan pergi lebih jauh lagi dari kampung halamanku, untuk mengabdi kepadaNya. Setiap orang memiliki pilihan masing – masing untuk mengabdi pada Allah di atas bumi, dan aku memilih itu.

Back to the topic. Sayangnya, bakat menggambar yang kumiliki tak semahir Bapak. Aku hanya bisa meniru gambar, dan tak bisa dengan refleks menggambar dalam waktu yang singkat. Bahkan, jika tulisan Bapak sangat indah, justru tulisanku sangat bertolak belakang dengan beliau; mengerikan. Itu sebabnya, kini, aku lebih suka menulis dengan huruf kapital, daripada huruf biasa. Mungkin karena pembawaan kuliah di arsitektur.

Bukan karena Bapak tak pernah mengajariku, bukan, tetapi karena saat kecil, aku hanya tahu bermain dan belajar pelajaran yang di sekolah saja. Pernah satu kali waktu, saat aku masih SD dan ditugaskan untuk menggambar, Bapak gambarkan di atas kertas, begitu saja, tanpa contoh, tanpa tiruan, tangan beliau mengalun syahdu dengan jiwa seni rupa yang sangat dikuasai beliau tersebut, dengan imajinasi yang luar biasa. Lalu, aku menggambar ulang gambar tersebut dalam buku gambarku, dan malah ditiru juga oleh temanku yang lain. Sejak itu, jika ada tugas menggambar, aku selalu menghindari gambar gunung dan kawan – kawan, karena saat itu, Bapak menggambar sebuah pantai, yang memberikanku inspirasi lain. Simpel, tapi dalam maknanya, yang kurasakan. Bahkan aku masih ingat persis bagaimana gambar itu tergurat dalam sebuah kertas yang digambar Bapak. Dan tugas gambar selanjutnya, aku menjadi suka membuat gambar tumpukan buah – buahan. Sepertinya aku pernah melihat suatu lukisan buah, tetapi entah di mana, aku lupa.

Walaupun, menggambarku dalam tahap ‘payah’, aku tak bisa menyalahkan siapapun. Bukannya semakin penasaran, aku malah membiarkannya begitu saja. Bukannya aku tak peduli, tetapi aku menikmati apa yang aku jalani saat itu juga, tanpa harus memaksakan supaya tanganku bisa lihai seperti Bapak. Hingga suatu saat, aku pernah bermain pasir yang hendak digunakan untuk merenovasi rumah tetanggaku. Rasanya seperti di pantai, aku bisa membentuk pasir sesuai dengan keinginanku (aku belum pernah ke pantai hingga akhir tahun 2014 lalu). Dengan refleks, aku membentuk sebuah denah, dengan interior tiga dimensi. Aku tak tahu, darimana aku mendapatkan inspirasi tersebut, bahkan hingga sekarang aku masih tidak percaya, bahwa basic arsitekturku sudah ada sejak aku masih SD! Padahal, pasir itu hanyalah media, permainan yang kuanggap menarik, sehingga aku melakukannya dengan refleks, dan rasanya menyenangkan! Dari kami semua, hanya aku yang membuat denah, sedangkan temanku yang lain hanya membentuk pasir dari ember atau bermain lempar – lemparan pasir.

Ada lagi permainan yang membawaku ke bidang yang aku geluti sekarang; Bongkar Pasang (BP). Dulu, aku memiliki BP sekantong plastik besar penuh (bagaimanapun juga, aku masih memiliki sisi feminim). Aku sering memainkannya, bahkan sendirianpun tak apa. Aku senang menata interior BP itu, mengganti baju – bajunya, menamai setiap tokohnya, mengadakan kegiatan dalam permainan BP itu, dan sebagainya. Aku sering memainkannya ketika adikku yang kecil – kecil sudah terlelap. Jika mereka sudah bangun, pasti mereka merusak tatanan interiornya, bahkan orang – orangnya pun tercabut kepalanya, aku kan jadi marah. Namun, yang dimarahi Ibuku malah aku, karena beliau bilang adikku masih kecil, belum tahu apa apa. Ah, masa kecil yang membahagiakan! Aku merindukannya! No gadget.

Satu lagi, yang membuatku tertarik dengan dunia arsitektur; perspektif angka. Saat itu, aku masih SMA, dan saat kelas XI, aku bingung untuk kuliah di mana, dan tentunya khawatir dengan biaya. Lalu, teman sebangkuku; Rika Megawati menceritakan tentang tetehnya yang kuliah di Farmasi UNPAD, sudah lulus dan bekerja mapan di salah satu toko obat terkenal. Akupun tertarik pada awalnya, dan memutuskan untuk kuliah di jurusan Farmasi. Namun, saat kelas XII, mata pelajaran seni rupa yang ada di sekolahku, SMA Negeri 22 Bandung, mengajarkan perspektif angka, oleh Pak Adjied. Mulanya, memang membuat kepalaku berdenyut, karena banyak garis yang harus diproyeksikan. Namun, lama kelamaan, aku menyukainya. Bisa karena terbiasa. Walaupun objek perspektifnya berbeda, tetapi tahu dasar – dasar dalam penarikan proyeksi garis, semua objek InsyaAllah akan teratasi dan tergambar dengan baik.

Suatu hari, temanku sekelas, Rizal Muttaqien, mengeluh, “Andai saja, ada joki untuk membuat gambar perspektif ini, seperti Teh Elies Ariyanti tahun lalu, aku mau membayarnya, mungkin lima ribu rupiah satu gambar”. Aku, yang saat itu mulai menyenangi perspektif, dan juga sangat membutuhkan uang tambahan, menyetujui permintaan temanku itu. Awalnya, hanya Rizal. Lalu bertambah, semakin lama semakin banyak, dan hargaku kutingkatkan menjadi sepuluh ribu pergambar, bahkan pernah setengah isi kelas menjokikan gambarnya padaku! Namaku pun mulai dikenal di kalangan XII IPA, sebagai joki perspektif angka. Hingga ada siswa kelas lain yang menjokikan perspektifnya padaku. Hal ini membuatku semakin mahir dalam menarik garis, sehingga biasanya, gambar awal akan kujual kepada orang lain, sedangkan gambar akhir adalah gambar yang aku akui sebagai gambarku, karena saat mengerjakan di akhir, aku mengerjakannya dengan lebih rapi dan mahir, hingga nilai gambarku menjadi 100 semua! (satu tarikan garis salah, maka mengurangi satu poin nilai).

Pernah suatu kali, saat diperiksa oleh Pak Adjied, beliau heran, bagaimana bisa, siswa yang jarang mengikuti pelajaran tersebut mendapatkan nilai 95. Dan beliau mengatakan karakteristik garis gambar hampir sama. Pak Adjied sepertinya sudah mencurigai hal tersebut. Namun, aku malah masih meneruskan profesi tak diridhai itu, dengan membedakan karakter garis, semampuku. Subhanallah, berdosanya aku. Maafkan aku, Pak.

Sayangnya, setelah lulus, Pak Adjied telah berpulang ke Rahmatullah, aku belum sempat meminta maaf dan mengakui kesalahanku pada beliau, semoga Allah mengampuniku dan merahmati beliau di atas sana. Aamiin.

Namun, dengan kejadian itu, aku menjadi tertarik pada arsitektur. Akupun menggunakan jalur undangan (sekarang dikenal dengan jalur SNMPTN), dan memilih empat program studi di dua perguruan tinggi yang berbeda. Pilihan pertama; Pendidikan Teknik Arsitektur UPI, kedua; Teknik Sipil UPI, ketiga; Farmasi UNPAD, keempat; Biologi UNPAD. Dan Allah menakdirkanku sesuai dengan minatku; pilihan pertama. Ya, mungkin karena aku masih awam tentang internet, jadi aku tidak memanfaatkannya untuk mencari informasi selengkap – lengkapnya mengenai arsitektur. Aku kira arsitektur hanya menggambar garis, ternyata jauh dari dugaanku. Arsitektur itu kompleks, berhubungan dengan semua aspek kehidupan.

Dan tibalah aku memasuki dunia arsitektur saat masa kuliahku. Sesuai minatku.

Dan yang terakhir; guru. Sejak kecil, aku sangat senang bermain guru – guruan. Biasanya, akulah yang berperan menjadi guru, lalu teman – temanku dan adil – adikku menjadi siswanya. Posisi itupun tak pernah berganti. Lalu, saat memilih program studi di perguruan tinggi, aku malah memilih pendidikan. Bermula dari brosur dari suatu lembaga bimbingan belajar, aku mulai mencari arsitektur yang sudah kuminati itu. Lalu, aku menemukan, ada yang di Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan sebagainya, bahkan Medanpun ada. Namun, karena aku tinggal sekarang di Bandung, dan takutnya ketika aku memilih di luar Bandung, Bulek dan Paklekku tidak mengizinkan, maka aku pilih yang ada di Bandung. Aku ciut duluan saat melihat rating ITB, karena selain jalur undangan, jalur lain yang kumasuki adalah Bidikmisi, yaitu program beasiswa bagi keluarga yang tak mampu. Bagaimana jika aku lolos di ITB, tetapi tidak lolos Bidikmisi-nya? Bagaimana cara mereka membayarnya? Maka, aku beranikan diri untuk melawan egoku, untuk tidak memilih perguruan tinggi yang ternama di Indonesia itu, akan lulusan terbaiknya dan keteknikannya. Lalu, kuliriklah UPI, yang hanya mencantumkan Pendidikan Teknik Arsitektur pada poin pertama, dengan passing grade yang kunilai dapat kumasuki.

Selain UPI, aku juga menyiapkan cadangan lain, yaitu melalui jalur PMDK D4 Pembangunan Gedung dan Bangunan, jika tak salah, di Politeknik Bandung (Polban). Dan lolos! Namun, saat kutunjukkan kepada Paklekku, ternyata namaku sudah tidak ada, karena daftar ulangnya tinggal satu hari lagi. Biayanya sebenarnya lebih murah daripada UPI, yaitu sembilan juta lebih, sedangkan UPI sebelas juta lebih, tetapi karena di UPI mengandalkan Bidikmisi, kuliah InsyaAllah bisa gratis, bahkan mendapatkan tambahan uang saku bulanan. Jadi, kulawan lagi egoku. Patah hati memang, tetapi mungkin itu memang jalan terbaik.

Lolos! Aku memasuki keduanya! Jalur undangan dan Bidikmisi UPI, Alhamdulillah. Jadilah aku kuliah di Pendidikan Teknik Arsitektur UPI, yang nantinya aku akan mendapat gelar Sarjana Pendidikan saat lulus nanti.

Saat aku kuliah, aku terkejut, karena lulusan yang kuliah di program studi ini, akan menjadi guru. Loh, kok guru? Ah, padahal aku tak mau menjadi guru. Aku tak suka berbicara di depan umum, aku tak suka berdebat, aku tak suka bertanya atau menjawab pertanyaan orang lain, aku benci dengan segala hal yang berhubungan dengan public speaking. Namun, aku tetap menjalani kuliahku dengan tenang, terobati karena ada tugas yang berhubungan dengan arsitektur; menggambar. Dan walaupun benci pada awalnya, lama kelamaan aku mulai menerima, dan mulai terbiasa berbicara di depan umum. Jadi, tugas pendidikanpun aku kerjakan dengan baik, karena aku terbiasa mengerjakan tugas semaksimal mungkin dengan usahaku sendiri.

Di sela – sela kesibukanku saat Semester 5, aku mendapat kesempatan untuk mengajar les biologi, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Pada kesempatan itu, aku mulai mengenal dunia guru yang sesungguhnya, walaupun siswa yang kudidik saat itu maksimal delapan orang; siswa SMP dan beberapa siswa SMA. Awalnya, aku sangat gugup, apalagi jika tak menguasai materi dengan baik, gugupnya akan bertambah. Aku beranikan diriku, dan akhirnya selama satu semester tersebut, kegiatan mengajar les itu berjalan dengan lancar. Sering kudapati diriku senang, ketika siswa yang kudidik dapat memahami apa yang aku jelaskan, bertanya pada bagian yang tidak mengerti dan mendapat banyak canda tawa. Namun, aku baru mendapatkan rasa senang, belum menunjukkan bahwa aku respect terhadap profesi ini.

Saat Semester 5 pula, aku menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Sukamulya, Ujungberung. Lagi – lagi, kelompok kami mendapatkan tugas mengajar siswa PAUD Kyonggi Dahlia. Ternyata, jauh lebih sulit dari yang kuduga, butuh kesabaran yang luar biasa, dan butuh sifat keibuan yang cukup mendalam untuk menjadi seorang guru PAUD atau TK. Aku salut kepada para guru PAUD manapun yang ada di dunia ini, mereka hebat, mereka luar biasa.

Senangnya, aku menjadi mahasiswa yang paling diingat oleh siswa – siswa PAUD tersebut.

Di semester 6, aku menjalani kegiatan Praktik Industri. Benar – benar masuk ke dalam sebuah proyek, mendalami suatu materi yang telah dibagi, dan aku ditugaskan untuk membahas mengenai fabrikasi halfslab dan pekerjaan plat lantai pembalokan. Jika saat mengajar aku menemukan kesenangan, di proyek, aku malah tidak menemukan passion. Aku belajar mengenai sosialisasi para pekerja di sana, tetapi, aku malah tidak menemukan sesuatu yang sreg dengan diriku. Kudapati diriku hanya ingin hadir di sana, dan cepat pulang setelah mengambil data atau mengerjakan tugas yang diberikan oleh pihak proyek. Aku malah bersyukur saat kegiatan itu berakhir.

Di semester 8 ini, dari bulan Februari hingga awal Mei 2016, aku menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Negeri 1 Majalengka. Awalnya, temanku, Jepri Suryadi, mengajak teman yang lainnya untuk PPL di Majalengka, karena kampung halamannya di Majalengka. Dengan mempertimbangkan segala aspek, secepat kilat, akupun menyetujuinya. Pertimbangan yang kupikirkan antara lain adalah, agar aku bisa bersilaturahmi sesering mungkin ke rumah Uak yang ada di ujung Majalengka; Cikijing. Yang kedua, aku ingin mengenal tempat baru, dan lingkungannya pun menjadi pertimbanganku juga. Yang ketiga, aku ingin mengenal budaya siswa yang ada di luar Bandung, karena ketika melihat siswa – siswa yang di Bandung, aku cukup menggeleng – gelengkan kepala. Aku melihat fenomena yang sering terjadi pada anggota PPL yang berlokasi di Bandung, baik melalui bertanya kepada kakak tingkat yang sudah menjalankan PPL, maupun yang kualami sendiri saat sekolah menengah dulu. Contohnya, banyak kasus pada siswa di Kota Bandung yang terjadi, seperti tindakan asusila. Aku juga pernah melihat temanku, bahwa dia mengatakan hal yang mesum di salah satu media sosialnya saat melihat guru PPL Fisika cantik, yang mengajari kami saat kelas XI SMA. Dan bahkan, seringkali guru PPL tidak dianggap, siswa terlalu berisik dan tidak menghargai guru baru yang ada di depannya. Namun, tentu tidak semua hal tersebut terjadi di Kota Bandung. Jadi, aku ingin mencari sekolah, di mana kami akan dihormati dan bersahabat dengan para siswa. Di luar Bandung? Kemungkinan besar pasti bertolak belakang dengan yang ada di Bandung. Jadi, mumpung ada yang mengajak, aku ikut. Lalu, aku jadikan sahabatku sebagai sasaran empuk untuk diajak PPL ke Majalengka; Kurnia Cahyaningtyas Purnomo (Engkur), karena minimal anggota PPL harus tiga orang. Tadinya, temanku yang lainnya, Hikmat Saputra juga ingin ikut ke Majalengka, tetapi tidak jadi. Tak apa, kamipun melangkah menuju ke sana.

Setelah hampir sebulan PPL di Majalengka, aku mendapati diriku bahagia. Aku menemukan passion, dan kebahagiaan sejati, yang akhirnya bisa kurasakan selama bertahun – tahun menduduki bangku kuliah. Banyak kejadian, tokoh dan kisah yang luar biasa yang aku dapatkan melalui PPL ini. Apalagi, perjalanan dari Bandung menuju Majalengka tidaklah singkat, bisa memakan waktu 3,5 jam jika nonstop, tetapi bisa mencapai 5 jam, jika banyak berhenti. Dan sang pengendara motor luar biasa; Engkur, yang menempuh perjalanan luar biasa ini, dengan aku di belakang jok motornya, menempuh perjalanan kurang lebih 220 km. Luar biasa.

Mengapa dulunya aku hanya menemukan kesenangan, bukan kebahagiaan? Pertama, aku mengajar les Biologi. Aku mengajar, tetapi tidak sesuai dengan bidang yang aku geluti saat ini, sehingga aku merasa ada yang kurang dalam mengajar saat itu; kurang menguasai materi dengan baik. Yang kedua; saat terjun ke dunia proyek, aku mendapati diriku terlalu banyak suntuk, kurang bahagia. Mengapa? Sebab aku ingin profesi yang banyak menjalankan interaksi, dan dalam rangka membantu orang lain. Ketika di proyek, pekerja hanya duduk diam di depan laptop atau komputer, dan hanya berjalan mengawasi pekerja tukang yang ada di lapangan. Ada interaksi, itupun sedikit dan hanya mengandung unsur memerintah, bukan membantu. Yang ketiga; saat mengajar PAUD, aku merasa lelah dengan cepat, harus ekstra sabar dan tak bisa marah, sedangkan aku adalah tipe orang yang akan mengekspresikan kemarahanku jika aku marah, dan tentu, tak bisa kulakukan jika aku mengajar PAUD.

Saat PPL, yang semula tegang karena langsung dihadapkan dengan siswa satu kelas berjumlah hampir 40 orang, perlahan mulai mencair dan bahkan aku merasakan suatu jalinan persahabatan di antara kami. Begitu beraneka ragam karakter siswa yang kuhadapi, mulai dari yang sangat rajin, cepat menyerap materi, ada juga progressnya sangat lama dalam menggambar, ada pula yang cukup bandel. Dengan segera, ‘kharisma mengajar’ yang aku miliki mulai terbentuk. Sifatku yang pemarah berubah menjadi ketegasan saat di kelas, tetapi tetap merangkul mereka semua dengan baik. Itu menurutku, mungkin menurut para siswa berbeda. Bahkan, di luar kelas, kami seperti teman, hanya saja, aku tetap dipanggil ibu guru. 

Semangat mereka dalam belajar luar biasa, hanya saja, untuk menghadapi siswa yang kurang gesit dan cekatan, harus ekstra sabar dalam membimbing dan mendidik mereka.

Lebih bahagia lagi, karena para siswa sangat menghormati kami sebagai guru pendatang baru di sekolah mereka. Mereka bahkan tak segan untuk mengajak kami mengobrol, bercanda dan bahkan bermain di luar sekolah.




Kelas X-TGB C
Kelas X-TGB A
Kelas X-TGB B
Rafi (X -TGB C) dan Engkur

Aku ingat kata – kata dari orang – orang luar biasa ini.

Dosen Arsitektur UPI, Adi Ardiansyah, S.Pd, M.T, mengatakan bahwa, “Tugas guru adalah menjadikan siswa yang pintar semakin pintar, dan menjadikan siswa yang tidak tahu menjadi tahu. Semua guru mempunyai andil dan peran dalam mencetak kita seperti ini. Semua guru penting dan hebat. Jadilah guru yang senantiasa terbuka sehingga tidak merasa paling benar. Terbuka terhadap setiap masukan, baik itu dari atasan, rekan kerja atau peserta didik sekalipun. Makanya guru merupakan pembelajaran sepanjang hayat. Ambil hal positif dari setiap dosen dan guru yang kamu kenal, tetapi jangan meniru mereka. Hal – hal baik dari mereka jadikan referensi saja. Semoga apa yang kamu cita – citakan bisa terwujud. Saya hanya bisa mendorong dan ikut mendoakan”.

Guru Seni Budaya SMK Negeri 1 Majalengka, Siti Nur K, S. Pd, mengatakan bahwa, “Jangan jadikan siswa sebagai objek, tetapi jadikan siswa sebagai partner. Dengan begitu, guru akan mendapatkan feedback; ilmu, persaudaraan, pengabdian. Bahkan, guru bisa mendapatkan ilmu baru dari siswa. Dan jangan pula merasa bangga menjadi siswa SMK, karena guru yang paling hebat adalah guru TK, yaitu guru yang mengajarkan dasar – dasar dalam pendidikan, seperti membaca. Ingat pula, siswa adalah penilai terjujur di antara semua penilai, baik itu atasan atau penilaian kuantitatif. Dan satu lagi, jika kehadiran kita sebagai guru tidak dinantikan oleh siswa, maka kita gagal menjadi guru”.

Bahagia. Aku sangat bahagia. Pilihanku, yang semulanya aku ragu, ternyata memang ditakdirkan untukku. Aku menjadi bertekad lebih jauh lagi untuk menjadi guru. Aku ingin mencoba daerah pedalaman jika aku lulus nanti. Mungkin Kalimantan, InsyaAllah. Aku tertantang untuk melakukan pengabdian kepadaNya, melalui profesi ini. Di kota sudah penuh, sedangkan di pedalaman, masih jauh dari keramaian. Jika di kota sudah biasa menemukan hal yang biasa dalam mengajar, jika di pedalaman, aku ingin mengalami apa yang dirasakan oleh orang pedalaman, bagaimana mereka menempuh perjalanan yang jauh hanya karena ingin menimba ilmu di sekolah. Aku ingin menjadi salah satu andil dalam mencerdaskan anak bangsa, mempelajari budaya baru, agar semakin bijak dalam menyikapi kehidupan yang keras ini. Bismillah, aku telah menetapkan cita – citaku. Bukan untuk berkeliling dunia, hanya sekedar ingin jalan – jalan menikmati gedung tua atau pemandangan, tetapi ke daerah pedalaman, baik itu Indonesia, maupun luar negeri (suatu saat nanti, InsyaAllah pasti bisa!), mengabdi padaNya melalui mengajar.

Jalan inilah yang kupilih, dan terbuka lebar untukku :)

Bukan bermaksud sombong, aku hanya ingin berbagi denganmu, Kawan, wahai pembaca tersembunyi. Terima kasih telah membaca blogku yang aneh ini, siapapun dirimu :)

Bismillah, masa depan, aku datang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar