Minggu, 18 Oktober 2015

Runtuhan Malam

Angin malam menerpa sebagian wajah dan bahuku di balik jendela,
Sambil kupandangi titik - titik cahaya di kejauhan,
Indah, sungguh indah,
Kerlap - kerlip yang timbul di permukaan gelapnya malam,
Sembari kudengarkan indahnya melodi yang terlantun dari beberapa instrumen,
Aku menerawang jauh,
Memikirkan semuanya,
Yang telah terjadi dalam hidupku.

Apa yang telah kulakukan?
Apa yang telah kuperbuat?
Apa yang telah kuberi?
Apa yang telah kuperbaiki?

Masih sanggupkah aku bermuhasabah diri di dunia hingga akhir waktu?
Sudah siapkah bekalku untuk meninggalkan dunia yang fana ini?

Dilema kudapati diriku,
Yang muncul seiring cepatnya kendaraan melaju,
Yang tadinya indah, titik - titik cahaya itu berubah,
Membentuk gerakan kilatan cahaya,
Gerakan yang seolah menimpaku bersama kegelapan yang menyertainya,
Yang membuatku bergidik ngeri,
Sebab...
Aku sadar,
Aku belum melakukan apapun,
Aku masih terdiam, terpaku di sini,
Bersama segala kemaksiatan yang kubuat.

Aku masih belum beranjak,
Dan mereka semakin runtuh,
Membuatku kehilangan arah dan tujuan,
Sementara aku semakin melunjak,
Tetap dalam belenggu diri jahiliyah yang tak kunjung diperbaiki.

Aku meringkik, layaknya keledai,
Betapa hinanya aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar