Senin, 05 Oktober 2015

Maut

Bismillahirrahmanirrahiim.

Kawan yang dimuliakan Allah, sudahkah kita bersyukur hari ini? Sudahkah kita mengingatNya hari ini? Jika belum, ayo, bersama – sama berhijrah menuju kebenaran yang hakiki, jalan Allah, dimulai dari hal yang kecil ^^

Maut. Sesuatu yang datang tak terduga, tak seorangpun di jagat raya ini mengetahui kapan dirinya akan mati, menghadap Sang Illahi, kembali ke Sang Pencipta. Beberapa hari yang lalu, saat berangkat ke tempat praktik, aku dan temanku melihat kecelakaan terjadi di depan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Kami tidak melihat korbannya, tetapi posisi motor sejajar horizontal, berada di bawah bemper mobil yang rendah. Posisi yang cukup mengerikan. Semoga kejadian tersebut menjadikan korban dan semua pihak yang terlibat, termasuk kami yang melihat, menjadi lebih mengingat kematian, untuk lebih mempersiapkan bekal menuju akhirat. Aamiin.

www.ceritamu.com

Ya, kejadian seperti itu saja sudah membuatku bergidik ngeri. Bayangkan, sedetik kemudian kita meninggal karena tersedak makanan, atau mendadak serangan jantung, tanpa pernah mempersiapkan bekal amal shalih dan shalihah, yang akan menjadi penyelamat atau syafaat bagi kita di akhirat nanti. Bayangkan ketika kita mati di saat kita melakukan dosa, tidak mengingat Allah, bahkan di saat napas terakhir, kita tidak bisa melafadzkan Laa Ilahaillallah. Allahumma, Nauzubillah. Jangan sampai kita tergolong orang – orang yang seperti itu.

Pernahkah terpikirkan apa yang terjadi setelah manusia mati? Ya, babak hidup abadi dimulai, dengan dimasukkannya kita ke dalam liang kubur, lalu jiwa dan raga kita yang sudah mati akan berpisah. Raga kita akan membusuk dalam tanah, sedangkan jiwa atau ruh kita akan ditanyai siapa Rabb, Nabi dan agama kita. Dan siapa yang akan menjawab? Amal shalih kita selama di dunia. 

Ada dua kemungkinan yang akan kita terima di alam kubur nanti setelah mati; nikmat kubur atau siksa kubur. Nikmat kubur akan dirasakan bagi insan yang shalih dan shalihah, manusia yang selama hidupnya mengabdikan diri kepada Allah swt. Taqwa menjadi tingkat yang paling tinggi dihadapan Allah. Selanjutnya, siksa kubur, akan dirasakan bagi manusia yang selama hidupnya menyimpang dari ajaran – ajaran Allah. Banyak manusia yang sudah di alam kubur, meminta dihidupkan kembali, hanya karena ingin kembali bersujud kepada Allah. Namun, terlambat. Allah sudah memberikan kesempatan, dan kesempatan itu disia – siakan oleh manusia. Subhanallah, semoga kita termasuk orang – orang yang selalu menggunakan kesempatan hidup kita sebaik – baiknya untuk mengabdikan diri kepada Sang Khaliq. Aamiin.

Oleh karena itu, Kawan, ayo kita perbaiki diri, berbenah diri, bermuhasabah diri mulai dari sekarang. Bersama – sama, terasa lebih mudah. Berdamailah dengan diri sendiri, dan damai itu diperoleh dari kedekatan kita terhadap Allah. Berhijrahlah. Lakukan perubahan yang lebih baik. Sekali kita telah berada di jalan kebenaran; jalan Allah, maka teruslah maju, jangan pernah mundur. Jika tak mampu berlari, maka berjalanlah. Jika tak mampu berjalan, maka merangkaklah. Sekalipun itu berat berada di jalur kebenaran, jangan sekali – kali berpaling. Janji Allah itu pasti, dan memang tak akan kita rasakan sekarang, tetapi untuk akhirat nanti. Berbahagialah, Kawan, jika kamu telah mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita tetap istiqamah dalam perubahan yang lebih baik ini. Aamiin.

Zaman hampir berakhir, kiamat akan terjadi. Hanya Allah yang tahu, kapan kiamat terjadi. Orang –orang yang sudah mati, masih berada di alam kubur, belum sampai ke surga atau neraka. Rasulullah saw., manusia pertama yang akan masuk ke surga, dan akan dibukakan pintunya oleh Malaikat Ridwan, sedang menunggu kita, orang – orang yang bertaqwa, untuk masuk bersama ke surgaNya. 

Satu pertanyaan. Apakah kita sudah bertaqwa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar