Minggu, 18 Oktober 2015

Runtuhan Malam

Angin malam menerpa sebagian wajah dan bahuku di balik jendela,
Sambil kupandangi titik - titik cahaya di kejauhan,
Indah, sungguh indah,
Kerlap - kerlip yang timbul di permukaan gelapnya malam,
Sembari kudengarkan indahnya melodi yang terlantun dari beberapa instrumen,
Aku menerawang jauh,
Memikirkan semuanya,
Yang telah terjadi dalam hidupku.

Apa yang telah kulakukan?
Apa yang telah kuperbuat?
Apa yang telah kuberi?
Apa yang telah kuperbaiki?

Masih sanggupkah aku bermuhasabah diri di dunia hingga akhir waktu?
Sudah siapkah bekalku untuk meninggalkan dunia yang fana ini?

Dilema kudapati diriku,
Yang muncul seiring cepatnya kendaraan melaju,
Yang tadinya indah, titik - titik cahaya itu berubah,
Membentuk gerakan kilatan cahaya,
Gerakan yang seolah menimpaku bersama kegelapan yang menyertainya,
Yang membuatku bergidik ngeri,
Sebab...
Aku sadar,
Aku belum melakukan apapun,
Aku masih terdiam, terpaku di sini,
Bersama segala kemaksiatan yang kubuat.

Aku masih belum beranjak,
Dan mereka semakin runtuh,
Membuatku kehilangan arah dan tujuan,
Sementara aku semakin melunjak,
Tetap dalam belenggu diri jahiliyah yang tak kunjung diperbaiki.

Aku meringkik, layaknya keledai,
Betapa hinanya aku.

Rabu, 14 Oktober 2015

Untuk Kita, Semua Umat Muslim

Bismillahirrahmanirrahiim.

Waktu terus berputar,
Angin terus berhembus,
Matahari terus bergulir,
Burung – burung terus berterbangan,
Dunia masih berjalan sebagaimana mestinya,
Dan aku masih di sini, termenung.

Aku selalu bertanya,
Mengapa diriku di sini? 
Mengapa diriku diciptakan? Untuk apa?
Apakah jika aku hidup atau mati, keadaan akan terasa sama bagi dunia?
Siapa aku sebenarnya?
Dan ke mana tujuan hidupku?

Aku bersedih, merana, menyalahkan keadaan, menyalahkan dunia,
Aku tak mengerti diriku, aku tak bisa berdamai dengan diriku sendiri,
Kalut, putus asa, menyerah,
Sampai akhirnya Dia datang kepadaku,
Oh, bukan, selama ini aku buta akan kedatanganNya,
Aku mengabaikanNya, hingga tak menyadari bahwa apa yang aku rasakan selama ini adalah tanda cinta kasihNya kepadaku,
Rasa sakit, pilu, keputusasaan ini, menjadi pelembut hatiku untuk kembali kepadaNya.
Aku yang bodoh, tak pernah menyadari bahwa Dia selalu bersamaku,
Tak pernah mensyukuri skenario Sang Sutradara terbaik sepanjang masa.

Begitu hina diriku, di hadapanMu, Ya Rabb,
Berlumuran dosa dan keji yang tak tertahankan,
Kecilnya diriku, yang bahkan tak tampak di jagat raya ini,
Namun, aku dengan congkaknya mengakui bahwa aku memiliki semua itu,
Padahal semua yang ada di raga dan jiwa adalah milikmu,
Aku tak memiliki apapun,
Aku hanya memilikiMu,
Yang selalu setia denganku dalam keadaan apapun.

Ya Rabb, aku bersimpuh, bersujud kepadaMu,
Aku menyesali perbuatanku yang tak Kau ridhai,
Terimalah taubat ini, diri yang hina ini, yang selalu sombong untuk melangkah,
Terimalah aku menjadi salah satu kekasihMu,
Yang akan bersanding dengan kekasih sejatiMu nanti di rumah jannah yang kau ridhai,
Rasulullah saw., yang menanti kedatangan orang beriman, untuk masuk bersamanya,
Izinkan aku yang hina ini, untuk mensucikan diri di hadapanMu.

Sungguh, begitu nikmat luar biasa hidayah yang Kau berikan ini,
Kau memberikanku kekuatan,
Kau menopangku saat aku terjatuh, terpuruk,
Kau tak henti – hentinya memberikanku ‘hadiah’ kesehatan, kesempatan dan iman,
Kau tak pernah putus dalam mencintaiku,
Cinta yang hakiki, cinta yang menjadikanku yakin,
Cinta kepadaMu, Ya Rabb.

Puisi ini mewakilkan perasaan cinta kita, semua umat muslim, kepada Pencipta kita, Allah swt. Semangat berhijrah, bagi kita semua! Semoga pergantian tahun ini menjadi langkah istiqamah bagi kita untuk kembali kepadaNya. Selamat Tahun Baru Islam 1437 H! Barakallah!

Senin, 05 Oktober 2015

Maut

Bismillahirrahmanirrahiim.

Kawan yang dimuliakan Allah, sudahkah kita bersyukur hari ini? Sudahkah kita mengingatNya hari ini? Jika belum, ayo, bersama – sama berhijrah menuju kebenaran yang hakiki, jalan Allah, dimulai dari hal yang kecil ^^

Maut. Sesuatu yang datang tak terduga, tak seorangpun di jagat raya ini mengetahui kapan dirinya akan mati, menghadap Sang Illahi, kembali ke Sang Pencipta. Beberapa hari yang lalu, saat berangkat ke tempat praktik, aku dan temanku melihat kecelakaan terjadi di depan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Kami tidak melihat korbannya, tetapi posisi motor sejajar horizontal, berada di bawah bemper mobil yang rendah. Posisi yang cukup mengerikan. Semoga kejadian tersebut menjadikan korban dan semua pihak yang terlibat, termasuk kami yang melihat, menjadi lebih mengingat kematian, untuk lebih mempersiapkan bekal menuju akhirat. Aamiin.

www.ceritamu.com

Ya, kejadian seperti itu saja sudah membuatku bergidik ngeri. Bayangkan, sedetik kemudian kita meninggal karena tersedak makanan, atau mendadak serangan jantung, tanpa pernah mempersiapkan bekal amal shalih dan shalihah, yang akan menjadi penyelamat atau syafaat bagi kita di akhirat nanti. Bayangkan ketika kita mati di saat kita melakukan dosa, tidak mengingat Allah, bahkan di saat napas terakhir, kita tidak bisa melafadzkan Laa Ilahaillallah. Allahumma, Nauzubillah. Jangan sampai kita tergolong orang – orang yang seperti itu.