Senin, 07 September 2015

Dilema Masa Depan

Bismillahirrahmanirrahim.

Seperti yang Anda lihat sendiri di profilku, kini aku menduduki tingkat akhir bangku kuliah Pendidikan Teknik Arsitektur UPI. Tingkat akhir? Ya, tentu hal ini menjadi dilema tersendiri bagi mahasiswa sepertiku (Anda pasti akan, sedang, atau pasti pernah mengalaminya). Pendidikan iya, arsitektur iya. Lah, mau dibawa ke mana hubungan ini? Eh salah, maksudku, mau dibawa ke mana ilmu ini? Dengan ilmu yang masih sangat sedikit, masih sangat rentan untuk mengalami ‘lupa’, dengan pengalaman lapangan yang sangat jauh dari kategori ‘sering’, aku masih sangat ciut dalam memikirkan masa depanku nanti seperti apa. Bingung, akan seperti apa nantinya diriku di masa yang akan mendatang.

www.kubiktraining.com

Berbicara mengenai pendidikan, menurutku, hal itu suatu momok yang menakutkan. Mengapa? Mungkin, karena pengalaman organisasiku yang sangat minim, sehingga public speakingku jauh dari kategori baik. Aku masih sering gagap, sering kehilangan kata – kata saat di depan umum, bahkan bertanya pun rasanya masih ada belenggu yang melekat, jiwa serasa ditarik kembali ke dalam tubuh, saat ingin mengutarakan pendapat. Nah, apa hubungannya dengan pendidikan? Tentu, saat lulus nanti, aku akan gelar profesi sebagai guru. Menjadi guru ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, kita harus mampu mengenali karakter dari 40 siswa, apalagi jika hampir semua siswanya laki – laki (karena aku akan mengajar di SMK Teknik Bangunan). Itu baru sekelas, belum termasuk kelas lainnya. Menjadi guru, berarti harus menjadi pencerita yang baik, memiliki public speaking yang top dan andal. Tentu, ilmu dan skill pun menjadi modal yang sangat penting, sebagai bekal mengajar. Tak hanya itu, guru juga dituntut untuk menjadi teladan bagi para siswa, sehingga guru harus memiliki attitude yang baik dan sabar dalam menjalani tugasnya. Aku sendiri merasa berdosa, ketika mempelajari bahwa sulitnya menjadi guru, padahal saat bersekolah menengah dulu, hampir setiap kali ada saja celaan untuk guru, bahkan dosen (tetapi saat kuliah, esensi pengajar sangat berbeda dengan guru sekolah, dosen lebih dianggap killer oleh mahasiswa). Sungguh berdosanya diriku. Astagfirullahaladzim.


Lain halnya, ketika aku dihadapkan pada sebuah lembar kosong. Selain motivasi seorang sahabatku yang membuatku meneruskan blog ini, akupun menyadari, bahwa aku cenderung mampu berpendapat melalui tulisan, mengeluarkan uneg – uneg (terkadang curhat, terkadang pemikiran anehku), seolah aku tidak menghadapi audience manapun sama sekali. Padahal, meskipun segelintir orang, pasti pernah membaca blogku yang tak penting ini. Hanya saja, karena tatap muka ditiadakan dalam dunia blogging, aku merasa lebih leluasa untuk menulis tentang pendapatku.

Di sisi lain, ketika aku diperkenalkan dengan dunia arsitek yang kejam, aku juga kecut memikirkannya. Mengapa? Sebab, ternyata, dunia arsitek pun membutuhkan public speaking yang baik, butuh attitude yang baik, butuh ilmu dan skill yang baik pula, begitupula dengan pengalaman lapangan. Nah, hampir sama ternyata ya, indikatornya? Mungkin semua profesi memang begitu adanya ya? Aku saja yang baru ngeh. Maafkan aku.

Arsitektur. Sebelum menjajaki bangku kuliah program studi ini, aku berpikir bahwa arsitektur hanya sekedar membuat bangunan, membuat sebuah desain gedung yang akan digunakan untuk kebutuhan manusia nantinya. Namun, setelah mempelajari bidang ini, paradigmaku berubah. Arsitektur bukan sekedar merancang bangunan, tetapi juga mempelajari sosial, ekonomi, psikologi, kebijakan pemerintah, sejarah, geologi, dan banyak ilmu lainnya yang berkaitan. Kompleks? Memang. Justru, dengan kompleksitas inilah, arsitektur menghasilkan suatu karya dalam bentuk fisik, atau wujud nyata, dengan manfaat yang dirasakan oleh semua orang. Kebermanfaatan inilah yang membuatku semakin tertarik untuk mendalami arsitektur lebih dalam. Apalagi setelah aku menyadari, betapa bahagianya bisa membuat orang lain bahagia (saran sahabat baikku, terima kasih, Kawan!). Sempat terpikirkan olehku, ‘Aku ingin pindah jurusan. Ke mana ya, enaknya?’ Setelah aku memikirkannya lagi, aku tak bisa pindah. Aku sudah jatuh cinta dengan bidang yang satu ini.

Loh, lalu, apa hambatanku sehingga takut untuk menjajaki dunia arsitek yang kejam itu? Bukankah aku sudah jatuh cinta? Berputar – putar kepalaku dibuatnya, pusing tujuh keliling. Aha! Pengalaman lapangan dan public speaking! Itulah yang membuatku takut memikirkannya. Aku belum pernah benar – benar terjun ke lapangan konstruksi, dan public speakingku pun harus dilatih dengan baik, karena aku terlambat untuk ikut organisasi, aku akan mencari alternatif lain, misalnya lebih memberanikan diri dalam berpendapat, lebih banyak membaca, mengamati lingkungan sekitar dan lebih aktif dalam mengikuti event – event tertentu, sehingga perlahan aku mampu dan berani untuk bicara di depan orang asing, bahkan orang banyak. Tak ada ikhtiar yang sia – sia, selama niat dan tujuan kita baik, InsyaAllah. Mari sama – sama belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Lalu, terjun ke lapangan. Semester 7 ini menjadi ajang bagiku untuk melatih mental menjadi baja dan mendapatkan ilmu dari suatu proyek yang aku sambangi dalam mata kuliah Praktik Industri, bersama Litensi Nirlike dan Jimmy Lian Syahputra (kami semua sama – sama berasal dari Sumatera). Jadwalnya cukup padat, empat hari selama seminggu, dari pukul 08.00 – 22.00 WIB. Sungguh mengesankan, karena hanya proyek kelompokku saja yang memberikan peraturan seperti ini, kelompok lain malah ada yang hanya dua hari selama seminggu, itupun hanya dari pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Menyesal? Awalnya iya, tetapi semakin dipahami, aku semakin bersyukur, atas apa yang terjadi dalam hidupku. Jarang terlibat organisasi, bukan berarti aku tak bisa berbicara, tetapi ada altenatif lain yang lebih baik untuk aku lakukan untuk mengasah kemampuan berbicaraku. Semua itu proses, dan apa yang sudah terjadi, itu adalah pilihan kita. Kita yang sekarang, kita yang harus mampu memperbaiki diri selagi ada kesempatan, dan cerminan kita di masa depan nanti. Harus berada di proyek selama 14 jam, menyesalkah? Awalnya juga iya, aku bingung, harus bagaimana nanti di sana, apalagi dengan pengetahuan yang pas – pasan, jika ditanya ini itu, dan tidak bisa, pasti malu luar biasa, wajah yang Alhamdulillah tak cantik ini mau diletakkan di mana? Namun, lagi – lagi, setelah dipahami, inilah yang akan menjadi dasar bagi mahasiswa sepertiku untuk menjalani dunia kerja yang keras di luar sana. Jika tidak dikeraskan, bisa jadi, sedikit dibentak sudah menangis. Apalagi penggemblengan selama 6 semester kemarin, sudah cukup membuat mentalku keras seperti batu, kini ada kesempatan untuk menjadi batu yang tak terpecahkan (mental kuat), Alhamdulillah. Pemahaman mengenai gambar kerja dan perbandingannya di lapangan pun menjadi semakin mantap, meskipun harus malu, ketika ditanya tidak tahu jawabannya. Semoga hal ini semua menjadi langkah awal bagiku, bagi kita semua yang juga senasib denganku, untuk bisa menghadapi dunia kerja yang keras di luar sana.

Perjalanan sesungguhnya bukan saat kuliah, tetapi justru setelah lulus kuliah nanti. Mau dibawa ke mana ilmu dan gelar itu? Semakin aku merenungi, aku malah semakin bingung. Jadi guru mulia, jadi arsitekpun baik. Maka, saat ini, aku memutuskan, untuk menjalani apa yang ada dihadapanku. Sebab, bisa jadi, sewaktu – waktu, muncul suatu ilham yang akan memberikanku pencerahan akan kejelasan masa depan. Mungkin bukan sekarang waktunya, tetapi bisa jadi, saat aku PPL menjadi guru SMK nanti, aku akan mendapatkan ilham (begitupun Anda).

Yang jelas, jadilah insan yang bermanfaat bagi semua khalayak, apapun profesi kita. Allah meridhai setiap langkah yang kita jejaki untuk ilmu dan kebaikan, InsyaAllah.

Semangat untuk teman – teman sejawat dan seperjuanganku, Pendekar/ PTA 2012! Lulus bareng ya, Kawan! Semoga apa yang kita cita – citakan terwujud suatu saat nanti. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar