Kamis, 27 Agustus 2015

The Spirit of Change!

Bismillahirrahmanirrahim.

Kawan, apa kabarmu? Semoga Allah selalu merahmati dan menuntun kita menuju hidayahNya selalu. Di sela ketidaksibukanku ini, aku ingin berbagi semangat dengan Anda. Semangat perubahan, perubahan menuju jalanNya! Yaaa, semangat!!!

Terpikir olehku, mengapa kita dilahirkan di dunia ini? Mengapa sebelum lahir, kita tidak boleh memilih menjadi siapa yang kita mau? Nah, jika disuruh memilih, siapa yang akan Anda pilih untuk menjadi diri Anda? Pasti yang berfigur baik, pintar, kaya, rajin, bukan? Ya, akupun mengakui. Pasti ingin yang baik – baik. Terkadangpun, aku selalu memikirkan, bagaimana rasanya terlahir di kalangan orang yang berada? Terlahir dari orangtua yang sangat Islami, atau bahkan orangtua yang berkeyakinan selain Islam? Pasti kehidupan kitapun berbeda dari kehidupan kita yang sekarang.

Namun, setelah menafakuri apa yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya, aku mengerti, mengapa aku dilahirkan sebagai ‘aku’, bukan ‘dia’, bukanpula ‘mereka’. Begitupula dengan Anda. Ya, semua yang terjadi adalah takdir, ketentuan Allah yang sudah direncanakan. Kita dikandung oleh Ibu, diberi nutrisi dari apa yang dikonsumsi ibu kita, dibawa kemanapun, kapanpun, selama sembilan bulan, oleh Sang Ibu tercinta. Sungguh, untuk para ibu di dunia ini, kalian sungguh mulia, kalian para ibu terbaik bagi kami. Aku mewakili anak – anak yang telah kalian besarkan di seluruh dunia, berterima kasih kepada kalian karena telah mengorbankan jiwa raga kalian untuk mengandung, melahirkan, memapah, mengurus kami dengan penuh kesabaran dan ketelitian. Tak ada satupun yang terlewatkan. Tak mampu kami membalas jasamu, tetapi dengan ridhamu, kami juga mendapat ridhaNya. Maka, kamipun akan melakukan yang terbaik semampu kami, untuk dirimu, untuk ridhaNya. Maafkan kesalahan – kesalahan kami sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati kalian, para ibu.

Kelak akupun, dan seluruh gadis di dunia ini akan menjadi seorang ibu. Semoga kita diberi kesempatan ya, Kawan, untuk merasakan mulianya menjadi seorang ibu. Aamiin.

Dengan kuasaNya pula, kita dilahirkan di kondisi yang berbeda – beda. Ada yang dilahirkan di kalangan keluarga Islam yang taat beribadah (sungguh beruntung), adapula yang dilahirkan di keluarga yang broken home, dan sebagainya. Tentu, di antara kita, ada yang merasakan, bahwa dunia tidak adil, dunia kejam, seolah kitalah yang paling tidak beruntung di dunia ini. Namun, tahukah dirimu, Kawan? Banyak orang di luar sana yang lebih tidak beruntung daripada kita. Untuk sesuap nasi saja mereka harus mengorek tempat sampah, meminta – minta, hingga mereka tidak merasakan nikmatnya pendidikan. Banyak. Adapula yang terlahir dari orangtua yang pemabuk, penjudi, bahkan yang terkena narkoba. MasyaAllah, banyak, Kawan. Sudah sepatutnya kita bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita.

Bentuk tubuh; wajah, kaki, tangan, jari, dan lainnya, lalu fungsi organ; jantung, hati, limfa, otak, dan lainnya, serta fungsi indera; mata, telinga, hidung dan lainnya. Bayangkan, salah satu saja tidak berfungsi, bagian terkecil saja, maka kita akan merasakan sakit. Begitu sempurna Allah menciptakan setiap titik pada makhlukNya. Bahkan, pada orang yang kekurangan secara fisikpun, Allah memberikan potensi yang luar biasa. Subhanallah. Begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Sang Pencipta kita. Kita, yang sempurna secara fisik, bagaimana? Sudah bersyukurkah kita hari ini? Mari sama – sama bermuhasabah diri.

Ketika sakit datang, terkadang kita lupa bahwa sakitpun adalah anugerah. Ingat kisah Nabi Ayyub as.? Sang Nabi mendapat penyakit yang luar biasa menggerogoti tubuhnya, tetapi, beliau bersyukur, karena dengan penyakit itulah Allah menggugurkan dosa – dosanya, beliaupun menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Bagaimana dengan kita, Kawan? MasyaAllah, semoga Allah selalu menjadikan kita orang – orang yang selalu bersyukur. Aamiin.

Hiduppun semakin jauh, berjalan menyusuri likunya jalur, menapaki bebatuan cobaan yang diberikan Sang Pencipta kepada makhlukNya. Terkadang, berbelok sedikit saja, kita akan tiba di jalan kesesatan. Sedikit saja musibah, kita baru datang, meminta kepada Allah. Lalu, kemana kita selama kesenangan, kesehatan dan kebahagiaan itu kita rasakan? Adakah kita mengingat Allah? Adakah kita bersyukur atas setiap anugerahNya yang tak terhingga kepada kita? Mengapa baru datang saat musibah? Bahkan, mengapa tidak mengingatNya dalam keadaan apapun? Padahal Dia tak pernah meninggalkan barang sedetikpun pada makhlukNya. Ya, jagat raya yang entah di mana ujungnya, dan kita ini, makhluk, yang setitikpun tak tampak di jagat raya ini. Makhluk yang berlumuran dosa, yang selalu merasa benar, membanggakan dosa – dosanya. Astagfirullahaladzim. Betapa meruginya manusia. Semoga Allah menguatkan kita menjadi insan yang senantiasa memperbaiki diri. Aamiin.

Dan selama jatah hidup masih ada, selama kesempatan masih membentang lebar di hadapan kita, kitapun tak tahu kapan kematian akan menjemput, karena masih ada alam yang kekal, tempat kita berpulang nanti; akhirat, marilah kita berubah, Kawan. Bermuhasabah diri. Berdosanya kita, tak tahu dirinya kita di hadapan Sang Pencipta. Mengerikan mengingat dosa – dosa yang terlalu banyak jumlahnya, sedangkan amalan masih sangat sedikit. Berbuat amalpun masih hitung – hitungan. MasyaAllah.

okioctaviani.wordpress.com

Mari kita bersama berbenah diri, Kawan. Kita tak perlu menjadi Power Ranger yang berwarna – warni, tak perlu menjadi Superman atau Wonderwoman yang spektakuler dan mendunia, tak perlu menjadi Raisa yang wajah dan suaranya Subhanallah, cantik menawan. Mulailah dari hal sederhana, hal yang kecil. Jadilah diri sendiri. Diri sendiri yang berusaha untuk menjadi lebih baik. Bukan lebih baik dari orang lain, tetapi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya. Sebab, dalam setiap individu itu unik, terdapat potensi masing – masing. Bila kita melihat orang lain lebih baik dari kita, iri-lah. Iri yang dimaksud adalah iri yang membawa kita ke perubahan yang lebih baik. Kalau dia bisa, kita juga bisa. Jadikan motivasi, bukan dijadikan celaan dan mencoba mencelakai orang tersebut, karena kita tak mampu berbuat lebih dari dia. MasyaAllah. Semoga Allah mengampuni kita selalu. Aamiin.

Belajarlah, dengan melihat ke atas, dan seolah – olah kita akan hidup selamanya. Beribadahlah, seolah – olah kita akan mati esok hari. Dan bersyukurlah, dengan melihat ke bawah. Banyak orang, yang mungkin, menginginkan hidup seperti yang kita miliki, Kawan. Jangan pernah menyerah untuk selalu belajar, beribadah dan bersyukur.

Be the best version of ourself!

The spirit of change! Bismillahirrahmanirrahim.

*Untuk sahabatku, Afina Nur Aisyah, barakallah fii umrikii. Keep istiqamah, ya, dan jangan semakin menggila, hihihi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar