Senin, 24 Agustus 2015

Tak Ada Alasan untuk Tidak MencintaiNya

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, akhirnya, setelah bepergian selama beberapa hari berturut – turut, aku bisa mengistirahatkan tubuhku sejenak hari ini, dan menulis lagi. InsyaAllah, jika ada waktu, di lain kesempatan, aku akan menulis postingan perjalananku.

Ya, tepat pagi tadi, pukul 09.00, Minggu, 23 Agustus 2015, Rumah Annisa mengadakan silaturahmi. Rumah Annisa? Apa itu? Sejenis rumah liliputkah? Oh, bukan. InsyaAllah, pada postingan berikutnya, aku akan menampilkan profil Rumah Annisa, tetapi untuk sekarang, aku ingin men-share pelajaran pertama yang aku dapatkan pada silaturahmi Rumah Annisa ini.

Ayo, kita mulai!

Sebagai umat muslim, tentu kita mengetahui adanya Rukun Iman dan Rukun Islam. Nah, kali ini, yang dibahas oleh Teh Sammy (jika Anda lupa, baca http://nonawinda.blogspot.com/2015/08/manglayang-story.html terlebih dahulu), adalah salah satu Rukun Iman. Yang teratas dan tertinggi. Ya, beriman kepada Allah swt.

Dijelaskan pada Surat Tha Ha (20:14); ‘Sesungguhnya, Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.’

Dijelaskan pula pada Surat Muhammad (47:19); ‘Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang – orang mukmin, laki – laki dan perempuan. Dan Allah Mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.’

www.ozyle.com

Catatan cakar ayamku.

Anda muslim? Jika Anda ditanya, apakah Anda Islam? Ya, tentu saja.

Siapa yang menciptakan langit dan bumi? Tentu Allah swt.

Apakah Anda beriman kepadaNya? Ya, tentu saja.

Begitu mudahnya kita menjawab pertanyaan yang sulit itu. Kita mengaku beriman, tetapi kita selalu mengeluh dan tidak pernah bersyukur atas kehidupan yang kita jalani. Padahal, Allah telah mengeksiskan diriNya, dalam Al Quran, bahwa Allah-lah yang mutlak disembah, tidak ada tuhan selain Allah, dan tugas kita sebagai makhluk Allah adalah beribadah kepadaNya. 

Lalu, mengapa kita harus beribadah hanya kepadaNya? Ibaratnya begini. Anda seorang mahasiswa, atau seorang karyawan? Anda pasti patuh terhadap dosen, atau direktur. Mengapa? Sebab, dosenlah yang memberi nilai, mempunyai wewenang dalam mengatur mahasiswa, begitupula dengan direktur, yang memberi gaji kepada karyawannya dan mengatur mereka. Tentu, sebelum kita dibimbing, diajar, dan diperintah ini itu oleh dosen ataupun direktur, kita harus mengenal profil mereka. Mereka memperkenalkan diri mereka terlebih dahulu, memperkenalkan riwayat pekerjaan mereka, kekuasaan dan wewenang mereka sebatas apa, agar mahasiswa ataupun karyawan dapat paham dan mengetahui sebatas apa kekuasaannya. Lalu, kita bandingkan dengan Allah, sebagai Pencipta Langit Bumi dan seisinya, Bos dari segala bos yang mengatur jalannya jagat raya ini. Begitu luas kekuasaannya, tak terhingga, dari hal yang terbesar, seperti orbit matahari, yang Alhamdulillah masih normal hingga kini (kiamat belum tiba, masih ada waktu untuk bertaubat, semoga Allah mengizinkan), hingga hal yang terkecil sekalipun, seperti kehidupan bakteri yang terus membelah dan membelah, semua diatur oleh Allah. Dia yang menciptakan, Dia yang mengatur, Dia pulalah yang mutlak disembah dan dicintai setinggi – tingginya.

Coba, renungkan, nikmat apa sajakah yang telah Allah berikan kepada kita hari ini? Pasti ada yang menjawab, Alhamdulillah, masih diberi umur, masih diberi kesehatan, kesempatan untuk melihat dunia, kesempatan untuk melangkahkan kaki, dan sebagainya. Bayangkan, hal kecil saja. Jika Anda jatuh dan mengalami keseleo, sedangkan Anda sudah mempunyai janji dengan teman untuk bertemu di suatu tempat, lalu Anda tidak jadi pergi, apa yang terjadi? Kebanyakan dari kita, pasti mengeluhkan, ‘Aduh, kenapa keseleo segala sih? Ah, menyebalkan’. Lalu, Anda melihat berita di koran pagi keesokan harinya; “Kecelakaan di Kiaracondong telah Menewaskan Sepuluh Orang, Tiga Luka – Luka”. Nah, apa yang terjadi jika Anda tidak keseleo? Apa yang terjadi jika Anda masih sehat dan tetap pergi? Pasti Anda juga akan mengalami kecelakaan karena melewati jalan tersebut. Berarti, Allah telah menunjukkan kasih sayangNya, lewat kesakitan yang Anda alami. Selalu ada hikmah dibalik penderitaan. Yakinlah (kita sama - sama berusaha ya, semangat ^^).

Selanjutnya, dalam Surat Al Ikhlash (112:1 – 4), Allah mengeksiskan diriNya kembali; ‘1. Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa; 2. Allah Tempat meminta segala sesuatu; 3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan; 4. dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia”’.

Berikut adalah penjelasan Surat Al Ikhlash, didukung dengan ayat – ayat Al Quran lainnya.

Ayat pertama menjelaskan, bahwa Allah adalah suatu Dzat Yang Esa; tunggal, satu, baik secara sifat maupun keberadaanNya. Tiada Tuhan selain Allah. Dia bukanlah patung, bukanpula matahari, atau bulan, atau bintang. Nah, apakah Anda suka berdoa saat bintang jatuh? Ternyata, kisahnya begini. Ketika Allah berbicara dengan malaikat, dan menyuruh malaikat untuk menyampaikan berita – berita ke muka bumi, Iblis, dengan niat jahat, menguping dan mencuri berita tersebut, dan berusaha menyampaikan kebohongan – kebohongan ke muka bumi. Maka, Allah memerintahkan malaikat untuk melempari iblis dengan bintang – bintang. Wallahualam, tetapi rasanya masuk akal. Bahkan bintangpun mempunyai tugasnya tersendiri. Sungguh, Allah Maha Bijak. Masih mau berdoa dengan bintang?

Kehadiran Allah sungguh dekat dengan kita. Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Namun, kita sungguh lalai, sebagai manusia, karena sering berbuat dosa, seolah tak ada yang mengetahui perbuatan kita. Shalatpun, masih jauh dari kata khusyuk. Padahal, shalat adalah komunikasi antara manusia dan Allah. Kekhusyukan memang suatu hadiah dari Allah, apabila kita memahami apa yang kita baca, dengar dan rasakan. Hei, tak usah resah, Kawan! Khusyuk itu bisa diikhtiarkan. Berusaha yang sungguh – sungguh! InsyaAllah, kita bisa ^^

Ayat kedua menjelaskan, bahwa Allah merupakan tempat meminta segala sesuatu. Allah tidak bergantung pada apapun. Dijelaskan pula pada Surat Al A’raf (7:54); ‘Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah Menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia Menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (DiciptakanNya pula) matahari, bulan, dan bintang – bintang (masing – masing) tunduk kepada PerintahNya. Ingatlah, Menciptakan dan Memerintah hanyalah Hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan Semesta Alam.’

Ada lagi penjelasan lain, dalam Surat Yunus (10: 31 – 32); ‘31.Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan; dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?” 32. Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Tuhan kamu Yang Sebenarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenaran?’

Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah. Allah-lah yang menciptakan semua yang ada di jagat raya ini. Bahkan mengatur makhlukNya dengan sangat apik, memberi kita nikmat yang bahkan tak kita sadari keberadaannya, karena kecintaanNya terhadap makhlukNya. Lalu, bagaimana dengan kita, sebagai makhlukNya, yang masih mempertanyakan eksistensiNya di jagat raya ini? Bagaimana dengan kita yang selalu berpaling dariNya? Masih saja ada yang meminta pertolongan kepada dukun, memohon – mohon pada dokter untuk mengembalikan anaknya yang sudah tiada, mengubah wajah dengan operasi plastik agar terlihat sempurna, dan masih banyak lagi. Sungguh, manusia memang merugi, tak pernah bersyukur, hanya mendekat kepada Penciptanya ketika musibah datang, menjauh ketika merasa senang akan duniawi. Padahal, Allah sudah menegaskan, bahwa Dialah tempat kita meminta, mengadu, mengutarakan semua rasa yang kita miliki. Hak Allah-lah untuk disembah, atas kekuasaan yang tak akan tertandingi, atas Penciptaan dan Memerintah makhlukNya. Astagfirullahaladzim, semoga kita semua adalah manusia – manusia yang senantiasa belajar untuk memahami dan mencintai Pencipta kita, Sang Maha dari segala Maha, Allah swt. Aamiin.

Ayat ketiga menjelaskan, bahwa Allah tidak memiliki keturunan, dan Allah tidakpula diturunkan. Kembali lagi ke ayat pertama, bahwa Allah Maha Esa. Allah menciptakan langit, bumi dan seisi jagat raya ini, juga kita; manusia. Manusia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi ini, lalu Allah mengutus Nabi – Nabi, sebagai penerjemah perintah Allah kepada manusia, sebagai penyeru dan pengingat kepada manusia untuk menyembah Allah, hingga pada Nabi yang terakhir; Rasulullah saw., yang menjadi penutup dari semua Nabi. Nabi yang diutus membawa agama kebenaran; Islam. Islam inilah yang menjadi penerang di muka bumi ini, dengan diturunkannya Al Quran sebagai penyempurna dari semua kitab. Hingga akhir zaman, Allah telah menjamin keaslian dari Al Quran. Maka, bagaimana bisa kita sebagai manusia belum juga mengakui eksistensiNya? Jikalau mengakupun, kita masih belum bisa menaatiNya. Astagfirullahaladzim, mari sama – sama belajar, Kawan. Semoga kita semua adalah manusia – manusia yang senantiasa diberi hidayahNya. Aamiin.

Ayat keempat menjelaskan, bahwa tak ada yang dapat menandingi Allah, dalam segi apapun. Dijelaskan pula pada Surat Al Baqarah (2:255); ‘Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus Mengurus (MakhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di Sisi Allah, tanpa izinNya. Allah mengetahui apa – apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa – apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang DikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat Memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Sangat jelas dalam ayat tersebut, kepengurusan Allah terhadap makhlukNya. Begitu besar rasa cintaNya terhadap makhlukNya. Lalu, adakah rasa cinta kita terhadap Pencipta kita yang Maha Baik ini?

Setelah mendengarkan semua ini, aku seakan terhempas jauh, malu akan diri sendiri. Banyak hal yang terlewatkan selama 20 tahun hidup di dunia ini. Apa yang telah kulakukan? Bagaimana bisa aku baru menyadari semua ini? Bukankah Allah sudah menyeru? Bukankah Allah begitu luar biasa mencintai makhlukNya yang hina ini? Namun, sakit sedikit sudah mengeluh, lapar sedikit sudah marah - marah tak jelas. Hina, berlumuran dosa, selalu merasa benar. Semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk bertaubat, sebelum kematian datang menjemput, sebelum kita menghadap Sang Pemberi Kehidupan. Bersiap diri menuju alam yang kekal abadi; akhirat. Aamiin.

Suatu renungan, yang perlu kita dalami. Bagaimana bisa, dengan penjelasan yang sejelas – jelasnya itu, banyak manusia yang mengaku beriman, tetapi tidak menaati ajaranNya? Islam KTP, ada yang mengaplikasikan sebagian ilmu Al Quran, tetapi tidak beriman kepada Allah. Bahkan, Islam pun terdiri dari golongan – golongan, yang saling menjatuhkan, saling hujat. Tidak benar, ketika kita merasa benar seorang diri. Saling mengingatkanlah, bukan saling tuduh dan menyalahkan satu sama lain, karena manusia tak pernah luput dari kesalahan, dan kita ini saudara, saudara sesama muslim. Don’t judge.

Allah Maha Besar, Maha Tinggi, Maha dari segala Maha. Rasa cintaNya begitu besar untuk makhlukNya. Masih ada alasan untuk tidak mencintaiNya?

Mari sama – sama renungkan, bermuhasabah diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar