Sabtu, 08 Agustus 2015

STP Parahyangan - Antara Perjuangan dan Impian

Liburan kuliah selama dua bulan setengah ini, cukup membuatku bingung. Aku hanya diam di rumah, tanpa pekerjaan yang berarti, padahal sudah berusaha mencari, tetapi mungkin Allah menyuruhku istirahat, dari segala kegiatan, agar semester akhir nanti, pikiranku benar – benar fresh dan siap untuk beraksi kembali dengan segala keruwetan kuliah. Semangat! Oleh karena itu, untuk memanfaatkan waktu luang yang sangat banyak ini, aku ingin berbagi kepada Anda, dan menulis sebanyak – banyaknya selagi aku sempat, ditemani kesunyian dan lagu – lagu menyentuh dari Bee Gees, The Carpenters, Michael Buble, dan kawan – kawan.

Pada posting-an kali ini, aku ingin menge-share, bukan bermaksud sombong, tetapi ingin berbagi, dan siapa tahu ada yang berbaik hati mengkritik, maklum masih amatir, bahkan setelah ahli pun, kritik selalu diperlukan; tugas kuliahku pada Semester 6 lalu. Studio Perancangan Arsitektur III, yang aku kerjakan dengan peluh, tangis, biaya, pengorbanan dan perjuangan yang cukup berat bersama teman – teman seperjuanganku. Hasilnya? Alhamdulillah, B. Tak ada yang sia – sia memang. Semuanya berbuah manis, asal dikerjakan dengan niat yang tulus dan usaha yang sungguh – sungguh. Dan yang paling penting, doa ^^

Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Kami ditugaskan untuk merancang bangunan pendidikan, dan ini pertama kali, tugas full-digital yang diberikan oleh dosen kami, Prof. Dr. Mokhamad Syaom Barliana, M. Pd, M. T. Ada yang merancang SD, SMP, SMA, SMK, Sekolah Tinggi Bahasa, Pusat Rehabilitasi, dan lain – lain. Setiap kelompok terdiri dari tiga hingga empat orang. Kelompokku; aku bersama Diah Rizky Kartika dan Herlina Juniati, ditugaskan merancang Sekolah Tinggi Desain (STD). Namun, karena di Bandung, hanya ada satu referensi bangunan STD, itupun bangunan kecil dan tidak cukup untuk dijadikan referensi, maka kami bernegosiasi kepada dosen pembimbing kami, Suhandy Siswoyo, S. T, M. T, untuk merancang bangunan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP). Selain lebih terbayang, lokasi STP di Bandung, yang paling dekat dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), masih berada di jalan yang sama dengan lokasi UPI, Jalan Setiabudhi; STP Bandung, atau yang lebih sering dikenal dengan NHI. STP Bandung merupakan salah satu STP terkemuka di Indonesia, yang menghasilkan lulusan terbaik dalam bidang pariwisata dan perhotelan.

So, we were here! Bergelut dengan lima analisis, yang sempat membuat kami hanya tidur beberapa jam dalam beberapa hari; konseptual, programmatik, formal, kontekstual, dan utilitas infrastruktur. Analisis ini memakan waktu yang lama, karena banyaknya koreksi sana sini, baik dari Pak Barli maupun Pak Suha. Diskusi kelompok yang cukup ruwetpun menjadi salah satu alasan mengapa analisis tersebut dikerjakan sangat lama. Namun, Alhamdulillah, kami dapat menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu, dengan aplikasi CorelDraw dan SketchUp yang sangat membantu. Diah bertugas menghitung dan mencari data, Jun bertugas membuat masterplan di SketchUp, sedangkan aku bertugas membuat analisisnya di CorelDraw. Ini baru tahap awal. Tahap selanjutnya lebih berat lagi.


Next step, tahap perancangan. Hal ini semakin berat, karena kami tak lagi mengerjakannya secara berkelompok, melainkan secara individu. STP yang kami rancang, belum memiliki masterplan yang fiks, sehingga kami berusaha untuk membuatnya kembali, kali ini dengan bantuan Autocad, karena aku lebih bersahabat dengan Autocad. And tadaaaa! Kun fayakun, jadilaaahh! Sekolah Tinggi Pariwisata Parahyangan. Sunda, tetapi sangat berteknologi. Dan akhirnya, Pak Suha menge-fiks-kan masterplan kami. Alhamdulillah


Berlanjutlah aku ke siteplan, blockplan, denah, dan kawan – kawan. Diah dan Jun sudah berada di jalur lain, jalur masing – masing. Dengan konsep yang sama, yaitu iket Sunda, bangunan yang kami buat memunculkan bentuk tersendiri yang khas dari kelompok lain. Denahnya berbentuk lingkaran. Diah bertugas merancang Hotel (iket Sunda Barangbang Semplak), Jun merancang Gedung Rektorat (iket Sunda Makutawangsa; dosen mengkritik, seharusnya nama gedung tersebut bukan Gedung Rektorat jika diaplikasikan pada Sekolah Tinggi, tetapi dibuat dengan nama lain, aku lupa nama yang seharusnya. Maafkan aku, Jun, namanya juga belajar ya, pasti ada saja kesalahan, hihihi), dan aku sendiri merancang Gedung Perkuliahan Jurusan Hospitaliti (iket Sunda Julang Ngapak). Ketiga pilihan rancangan yang diperoleh dari hasil undian, hihihi. Aku bersyukur mendapat tugas merancang gedung yang paling mudah, hihihi, maafkan aku ya, Diah dan Jun :p

Pernah suatu hari, aku terlambat ke kampus (salah satu kebiasaan burukku, apalagi sejak nge-kost). Di depan kelas, sudah ada yang presentasi. Aku kaget, karena ini mendadak, dan kami semua harus mempresentasikan hasil rancangan yang telah kami buat. W H A T T H E _________? Dan beberapa waktu sebelum istirahat shalat, aku dipanggil maju ke depan. Dan aku baru merancang DENAH! Sungguh memalukan, karena progress kerja individuku sangat lelet. Apalagi dengan bentuk denah lingkaran, aku semakin kelimpungan, sementara kelompok yang lainnya bentuk sederhana yang menyerupai persegi panjang. Namun, ternyata aku mendapat respon positif dari dosen, meskipun progressnya masih sangat lambat. Alhamdulillah.

Sebulan menjelang GARIS KEMATIAN, kami benar – benar gencar. Aku memang termasuk orang yang cukup perfeksionis, sehingga, walaupun aku mengerjakan dari awal dengan sungguh – sungguh, tetap saja akulah yang terakhir mengumpulkan tugas. Jika ada cacat sedikit, menurut pemahamanku, aku akan memperbaikinya hingga menjadi apa yang aku inginkan. Maka, terbengkalailah pekerjaan lain, yang seharusnya sudah kukerjakan. How pitiful I am. Hiks.

Teman – temanku, yang berbeda kelompok bangunan (mereka merancang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi), menginap di kost-an-ku. Eryanti Septian dan Indah Triwinahyu, duo kembar yang sejatinya selalu unik. Eer, dengan wajah polos dan selalu punya beribu pertanyaan kepada teman – temannya, untuk mengerjakan tugas, dan Indah, yang belakangan ini, namanya berubah jadi Indah Tripleknahyu, sangkin kurusnya; punya otak miring, lebih miring dari menara Pisa di Italia. Kami menjadi pos penjaga malam, hansip yang siap menangkap maling tak terduga, dan sebenarnya, cukup mengganggu tetangga sekitar (maafkan kami, salam arsitektur!), karena kami selalu tertawa keras hingga ke ujung gang. Betapa luar biasanya begadang karena deadline. Sebelum tengah malam tiba, kami selalu menyiapkan cemilan, dan yang paling wajib; KOPI! Sebuah kebiasaan buruk, karena aku bisa memakan serbuk kopi hingga tiga bungkus setiap hari, dan meningkat menjadi enam hingga tujuh bungkus setiap hari ketika mengerjakan tugas. Mungkin karena itulah aku masih on hingga pagi esoknya tiba kembali. Teman – temanku hanya bisa menggeleng kepala. Mungkin Anda akan mengantuk – antukkan kepala ke tembok, mengetahui kelakuanku ini. Perhaps. Lol.


Sayangnya, aku tak sempat membuat 3D eksteriornya, dan tugas itupun sebenarnya sangat jauh dari kata 'selesai'. Aku hanya membuat 3D interiornya, sesudah mengumpulkan tugas itu, dengan kemampuan yang sangat minim. Inilah hasilnya.



Seperti yang kukatakan dari awal, aku hanya ingin berbagi dan mengharapkan kritik yang membangun, menyakitkan pun tak apa, karena aku sudah terbiasa disakiti (aduh, hahaha, ini bukan edisi baper ya, tak ada kata baper dalam kamus hidupku mulai sekarang!). Semoga bermanfaat, dan terhibur dengan cerita nyata yang konyol ini. Thanks for read!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar