Minggu, 30 Agustus 2015

Sekelumit Kisah Anak Seberang Pulau

Bismillahirrahmanirrahim.

Mungkin ini sekelumit curhatanku, tentang kerinduanku kepada rumah, pada malam yang syahdu aduhai ini untuk bertahajud. Namun, aku sedang berhalangan. Aku belum memejamkan mataku, karena aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati internet yang terakhir, di bulan ini, dari rumah keduaku di Bandung. Ya, aku harus kembali ke kost-an, siang nanti mungkin. Kembali ke pelukan kasur tipis, dengan dinginnya udara yang berhembus, dengan aktifitas yang sudah dua setengah bulan ini menghilang dariku; kuliah.

Beribu – ribu mil dari rumah, melewati berbagai pulau, lautan, bahkan samudera dan udara, aku merindukan keluargaku. Malam ini, aku kembali membuka twitter, kudapati adikku yang kedua, Novita Ariantie, memasang beberapa tweet tentangku, baik via Twitter maupun Instagram. Sudah lama aku tak membuka Twitter, dan aku agak kaget mendapat notifikasi itu. Tak kusangka, merekapun merindukanku. Hanya adikku yang ketiga, Putri Natasya, yang kurang bisa mengekspresikan perasaannya. Dia jarang sekali mengatakan bahwa dia merindukanku, meskipun aku tahu, bahwa dia memang merasakan itu. Sedangkan, adikku yang keempat, Sri Nindia Utami, dia sangat ekspresif, menyatakan bahwa dia sangat merindukanku.

Aku terlahir pada keluarga yang sederhana, bersama ketiga adik perempuanku. Aku adalah anak pertama. Ya, meskipun, setiap lebaran aku selalu dibelikan baju baru yang lebih banyak daripada adik – adikku, tetap saja, aku yang akan bertanggungjawab pertama kali, untuk keluargaku kelak. Aku yang disekolahkan tinggi – tinggi, lalu nantinya, InsyaAllah, aku akan menyekolahkan adik – adikku, melanjutkan perjuangan orangtuaku yang sudah mulai merenta akibat senjanya usia, meskipun ibuku masih berumur 42 tahun, sedangkan Bapak 54 tahun. Perbedaan usia yang sangat jauh. Tak hanya itu, aku ingin membalas jasa mereka, walaupun aku tahu, tak akan pernah bisa aku membalas, walau sebanyak apapun kuberikan. Kasih sayang mereka luar biasa, sedangkan aku, masih merengek meminta uang bulanan kepada Ibuku dengan nada kecewa. Ya Allah, Astagfirullah. Sungguh tak tahu berterimakasihnya aku ini.

Sungguh, bukan karena aku tak ingin menjadi mahasiswa yang baik, tetapi, aku kuliah bukan hanya sekedar mencari ilmu. Ada tujuan sederhana di balik itu. Aku ingin berbanjir peluh dan stres, untuk sekedar membuat orangtuaku tersenyum. Untuk membiarkan mereka menikmati masa menjelang tua, dan masa tua nanti, dengan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Bukan malah memikirkan ‘apa yang harus kita makan besok? Apa yang harus kita lakukan untuk membayar sekolahmu?’. Sudah cukup lama mereka berjuang, mereka tersesat, dan anak – anaknyapun ikut terpengaruh pula. Aku ingin mengembalikan mereka ke ‘jalan yang seharusnya’. Jalan menuju ridhaNya. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat kepada kita semua. Aamiin.

Begitupula dengan adik – adikku. Aku ingin membimbing mereka menjadi insan yang baik di mataNya, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sekarang, perlahan akupun mulai mengubah haluan hidupku, ke arah yang lebih jelas, lebih masuk akal dan masuk, jauh ke dalam sanubariku; ridhaNya. Ya, aku mulai mengerti dengan jelas apa yang harus aku lakukan. Semoga Allah memberikan kita semua hati yang lapang untuk menerima hidayahNya. Aamiin.

Novi. Adikku ini lahir pada awal November 1997. Dulu, saat aku belum berangkat ke Bandung, aku dan dia bagaikan kucing dan anjing. Selalu berkelahi, bahkan ketika aku mengajari dia belajarpun, ketika dia tak mengerti, aku selalu marah - marah (emosiku memang lebih parah dulu) dan membuatnya menangis. Dan, teman masa kecilku, Ferry Wijaya Siregar, mengingatkanku, bahwa Novi pernah memakan kotoran hidungnya sendiri, saat kecil dulu. Aduh, konyol! Novi ini juga yang sangat mirip denganku, wajah kami setipe, mengikuti garis wajah ibu. 

Nah, ini adikku yang sering diajak berpergian oleh Uak di dekat rumahku. Ke Berastagi, Rantau Prapat, Danau Toba, Kaban Jahe, Samosir mungkin, dia sering diajak ke sana. Aku? Mengurus dua adikku, Tasya dan Tami. Dan aku memang lebih tertutup dibandingkan Novi, yang fleksibel untuk mengenal orang.

Saat ini, adikku yang berbeda hanya 2 tahun dariku, telah memasuki jenjang perguruan tinggi September nanti. Jurusan Akuntansi. Mahasiswi baru! Sedangkan aku harus segera hengkang, maklum, mahasiswi tingkat lama, hihihi. Tahun depan, InsyaAllah, wisuda! Mohon doanya, Kawan ^^

Tasya. Adikku ini lahir pada bulan Natal tahun 2002. Bidadari cantik, Subhanallah satu ini juga merupakan adikku yang tingkat emosinya tinggi. Namun, dia cantik, dan garis wajahnya berbeda denganku dan Novi, yang mengindikasikan, bahwa kami bukan kakak - kakaknya -_- Dulu, aku sempat pernah berjanji untuk merayakan ulangtahunnya, tetapi belum kucapai hingga sekarang. Pernah juga ada satu kejadian menggemparkan, saat Tasya berumur tiga tahun, dia sedang bermain di rumah tetanggaku; 5 bersaudara, yang notabenenya nakal. Aku, kala itu sedang berada di rumah. Saat ibuku menanyakan di mana Tasya. Aku kelabakan, aku tak tahu di mana keberadaannya, aku mencari hingga menangis, mencari hingga berjalan jauh, tetapi Tasya tetap tak ada. Setelah dicari - cari, Tasya ditemukan di rumah tetanggaku, dengan pintu tertutup, padahal seluruh tetangga - tetangga kami gencar mencarinya. Aku jadi dimarahi habis - habisan. Namun, lebih baik daripada dia yang hilang. Aku tak bisa bayangkan, rasanya, aku akan mengutuk diriku sendiri jika Tasya tetap tak ditemukan.

Suatu kali pula, saat berada di rumah Mbah, malam hari, kami bermain kejar - kejaran, Tasya tersungkur, dan gigi serinya potong sebelah. Aku masih ingat sekali, senyum di wajah mungilnya, dengan gigi terpotong, dan lesung pipinya yang manis. Sayang, aku melewatkan masa - masa di mana mereka tumbuh besar. Adik - adik kecilku tumbuh tanpa sepengetahuanku. Ingin rasanya mengulang masa itu kembali.

Diapun punya kebiasaan menghisap jari tengah dan jari manis saat balita dulu. Entah kapan dia lepas dari itu. Kehidupan di Bandung membuat aku lupa dengan detail kecil seperti itu, maafkan aku.

Dulupun, aku paling benci, jika ada yang mengolok - olok adikku. Masih polosnya aku, yang kutahu hanyalah melindungi adik - adikku. Aku tak segan mengolok - olok balik, atau bahkan berkelahi karena ejekan - ejekan tersebut. Namun, kini aku belajar, bahwa hidup tak boleh seegois itu.

Tami. Adikku yang lahir di akhir Juni 2004 ini merupakan adikku yang paling lucu. Ini anggapanku dulu, sedangkan Novi merupakan adik yang paling menyebalkan, dan Tasya, adik yang paling rapuh menurutku, yang harus dilindungi. Tami juga memiliki garis wajah yang mirip dengan Tasya, mereka lebih mirip Bapak, ketimbang Ibu. Tami, dia paling sering dicubiti, paling cerewet, paling menggemaskan. Aku mencubitinya setiap waktu. Aku pernah merayakan ulangtahunnya dengan uang celengan Rp.30.000,- >> http://nonawinda.blogspot.com/2015/08/masa-kecil.html. Bahkan hingga sekarangpun, dia yang paling gencar merindukanku. Memintaku pulang dengan cepat. Saat aku ke Medan Desember 2013 kemarin, dia selalu memintaku untuk menyisiri dan mengepang rambutnya, sebelum dia berangkat sekolah. Ketika aku memasak nasi goreng untuknya, dia mengatakan bahwa nasi goreng buatan Bapak lebih enak daripada buatanku (katanya keasinan, sedih). Saat kecilpun, aku selalu menggendongnya, ketika dia kelelahan berjalan di luar. Mengipasi badannya, ketika tidurnya mulai dipenuhi peluh dan nyamuk (Medan kan panas). Aku yang selalu membuat susu di botol dotnya ketika Ibu belum pulang. Pernah suatu kali, aku bersama Tami, hanya berdua di rumah, saat itupun listrik padam, lampu mati, aku menyalakan semprong dan lilin, menggendong adik kecilku yang ketakutan karena gelap (saat itu Tami masih sekitar satu setengah tahun), lalu aku membuatkan susu, dan menunggu Ibu Bapak dan adikku pulang, sembari menidurkan Tami, lalu mendengar radio jadul. Kenangan.

Jadilah, kami punya dua pasang kembaran di keluarga; Aku dan Novi, Tasya dan Tami. Namun secara sifat, kami bercampur ria.

Aku dan Tasya sama - sama tertutup, pemalu, emosian, lalu kulitnya lebih terang, jika dibandingkan dengan Novi dan Tami. 

Aku dan Tami lebih penurut, sama - sama polos, agak telmi (telat mikir), sebab dulu, jika disuruh beli sesuatu ke warung, aku selalu lupa apa yang harus dibeli, atau uangnya yang ketinggalan, hingga aku balik ke rumah dan tidak mau balik lagi ke warung, hihihi. Begitupula Tami sekarang. Sama bolotnya seperti aku, hihihi. Dan mungkin dari segi akademis, kami sama - sama harus berjuang keras untuk berpikir. Ya, maklum, karena telmi tadi hehehe. IQ-ku pun pas - pasan, Alhamdulillah, yang penting semangat juangnya!

Hmm, Novi dan Tami, mereka berdualah yang fleksibel dalam bergaul, mengenal orang yang baru dikenal, lebih terbuka, dan kulit mereka lebih gelap dari aku dan Tasya.

Nah, Novi dan Tasya? Mungkin ya, mereka lebih tanggap dalam berpikir, tak bolot sepertiku dan Tami. Aku sendiri bingung entah mengapa, aku terlalu boloho (istilah Sunda). Menyedihkan.

Aku dan Novi? Alhamdulillah, kami sama - sama berprestasi, tetapi lebih pintar Novi, sebelum masuk TK saja dia sudah bisa menghitung dan membaca, aku? TK dulu. Aku lebih butuh perjuangan untuk berprestasi. Dan semangat juang kami lebih besar daripada Tasya dan Tami. Wajah kamipun setipe, benar - benar anak Ibu.

Tasya dan Tami? Mereka duo bidadari di keluarga kami. Cantik, wajahnya anak Bapak. Tetapi dari segi karakter, mereka benar - benar berbeda. Yang satu tempramental, yang satu juga tempramental tetapi masih menurut. Ini personilnya tempramental semua sepertinya, hmmm~
 
Aku masih ingat, bagaimana minggu pagi kami. Aku bangun paling siang, pukul 09.00 WIB, sedangkan seisi rumah sudah bangun sejak pagi. Aku sering melewatkan sarapan, sehingga, saat jam itu, aku dan adik - adikku berkumpul di ruang tamu, atau dapur, kami memakan satu bungkus biskuit gula Unibis yang berbungkus hijau hingga habis (bukan promo), ditemani secangkir mug besar berwarna biru berisi teh, sembari menonton kartun TV yang tayangnya nonstop hingga siang tiba (sangat berbeda dengan sekarang). Kami memakannyapun sangat berantakan, dan aku yang membersihkan -_- Namun, itu salah satu kenangan yang tak terlupakan. Masih ingatkah kalian, adik - adikku?

*****

Selain itu, yang ingin aku capai adalah keluargaku bisa mendapat hidayahNya. Selama ini, ya, dari kecil, mungkin karena faktor lingkungan, keluargaku kurang mengerti hakikat Islam. Islam kami hanya sebatas KTP. Aku, yang di Bandung ini, merasa sedih, karena aku bisa sedikit demi sedikit mendapatkan hidayah dari Allah, itupun, aku masih mendapati diriku kacau, masih meraba – raba. Apalagi mereka, yang jauh disana. Ingin rasanya aku menggeret rumahku yang di Medan itu, ke Bandung, supaya pergaulan mereka lebih baik di sini, supaya mereka lebih mengenal Islam, mendekat kepadaNya, sama – sama belajar mengenai kehidupan dunia yang fana ini dan kehidupan akhirat yang kekal kelak. Namun, apalah dayaku, asa belum mampu mengubah semua itu, mungkin suatu saat nanti, semoga Allah membukakan jalanNya. Aamiin.

Ibuku merupakan figur ibu yang luar biasa, selalu menanamkan kepada kami, bahwa kerja keras sangatlah penting, semangat pantang menyerah, kesederhanaan, kesabaran, tekad, semua tercermin pada sosok ibu. Kepolosan ibu yang dulunya gadis desa nan jelita ini pun menjadi suatu kekonyolan tersendiri bagi kami. Ibu terlalu polos, sehingga, terkadang sangat mudah dipengaruhi, tetapi juga membuat kami tertawa. Dan posisi ibuku menjadi tulang punggung di keluarga kami. Ada sisi positif dan negatifnya pasti.

Akupun berharap, semoga Ibu dan adik – adikku bisa menggunakan hijab syar’i suatu saat nanti. Pelan – pelan saja, akupun masih dalam proses. Bismillah.

Bapak, ya, begitulah. Meskipun orang lain menganggapnya ‘gila’, kami tetap menyayanginya. Ya, pemikirannya memang selalu di luar nalar. Bahkan, tak ada percakapan tanpa emosi yang meledak – ledak, tetapi juga dibumbui dengan banyolan yang terkadang membuat kami berdua tertawa terbahak – bahak (Bapak sama anak tak beda jauh, hihihi). Meskipun temperamental, Bapak selalu mengutamakan pendidikan anak – anaknya. Bapak selalu punya mimpi yang ‘tak masuk akal’ dan tak pernah benar – benar dijalani. Namun, pemikiran – pemikirannya, terkadang membuat aku terpana. Bapak begitu mengenal psikologi orang, meskipun hanya dari cerita. Luar biasa. Ide dan kreativitasnya pun sangat brilian, Allah menjadikan tangan dan matanya sebagai media seni yang luar biasa, sungguh, gambar – gambarnya menakjubkan, kriya yang beliau buatpun dapat menjadi produk jual yang tinggi, jika dijual. Tulisannyapun sangat indah, dibandingkan aku yang kaku (efek kuliah di Arsitektur mungkin, dan gambarkupun lebih kaku, daripada beliau). Hanya saja, Bapak tak ahli dalam dunia berbisnis, dan sifat inipun menurun ke diriku (aku sungguh gagap dalam berbisnis).

Satu lagi, figur seorang kakak (lagi – lagi perempuan); Cinta Yolanda, yang Allah pertemukan denganku, saat aku lulus SMP. Subhanallah, sungguh, luar biasa sejatinya kudapati diriku merinding. Aku tak pernah menyangka, dapat bertemu dengan kakak se-Bapak yang telah lama berada di Taiwan. Ya, kakakku pernah menjadi perawat di salah satu rumah sakit di sana, dan pernah menjadi penjaga buah di salah satu rumah penduduk di Taiwan. Kak Cinta mengalami masa kecil yang luar biasa pahit, dan pada usia 14 tahun sudah harus membanting tulang sendiri ke negeri orang, tanpa Ibu, tanpa Bapak.

Ya, sebelum Bapak menikah dengan Ibuku, Bapak bercerai dengan istrinya yang terdahulu, dan menghasilkan seorang anak perempuan. Kak Cinta. Dahulu, sewaktu aku masih SD, Bapak menyimpan fotonya bersama Kak Cinta, sewaktu dia masih berumur di bawah lima tahun. Fotonya cukup jelas, dan frame-nya pun ada yang besar, ada yang kecil. Aku melihat tulisan di belakang bingkai foto itu; Cinta Yolanda, 21 Januari 1991. Lalu, Bapak bercerita, bahwa Kak Cinta adalah anak pertama Bapak, dari istrinya yang dulu. Bulan kelahirannya sama denganku! Beda usianya pun tak terpaut jauh. Rambutnya keriting, dengan gaun merah berjumbai di bagian lengan dan mengkilat di bagian dada; Kak Cinta pada usia balita. Aku mengatakan kepada Bapak, aku ingin bertemu dengannya. Namun, jawaban yang Bapak berikan adalah, ‘Kak Cinta ada di Jawa. Entah di mana, Bapakpun tak tahu’. Kecewa? Ya, tentu saja, tetapi mungkin karena masih SD, aku tak terlalu memikirkan hal itu. Masih polos.

Allah mungkin memberikan jawaban. Ke Bandung-lah aku, pada 7 September 2007. Lalu, beberapa tahun di Bandung, saat aku akan memasuki jenjang SMA, datanglah kabar gembira, bahwa Kak Cinta dulunya tinggal di Blitar. Kabar ini datang dari teman Paklekku. Alhamdulillah, akhirnya, Paklek menjemput Kak Cinta ke Blitar, dan membawanya ke Bandung, untuk bertemu denganku dan Bulekku.

Subhanallah, pertemuan yang luar biasa. Selama 14 tahun menanti, akhirnya aku bertemu dengan kakakku. I have an older sister! It’s amazing! Biasanya, akulah yang paling tua, akulah yang melindungi dan menjaga adik – adikku, kini, aku merasa dilindungi. Merasakan jadi seorang adik. Dan aku punya seorang kakak. Kak Cinta menggunakan kacamata, tinggi badannyapun lebih dariku, mungkin sekitar 170 cm (aku 164 cm), rambutnya lurus (mungkin di-smoothing, sebab, saat balita, rambutnya keriting seperti Bapak). Dan wajahnya, hmmm, lebih cantik dariku. Kuakui, garis hidungnya tegas, meskipun tidak bisa dikatakan mancung, tetapi lebih cantik dariku. Garis wajahnyapun tegas, pipinya lebih tirus, susunan giginyapun rapi (aku lebih berwajah bulat, tembam dan gingsul sana sini, Alhamdulillah). Subhanallah, aku langsung kagum, langsung dekat pertama kali bertemu. Langsung curhat, semuanya, bahkan dia membantuku membersihkan rumah. Logat Jawanyapun tak luput dari perhatianku, dan karena dia pernah tinggal di Taiwan, maka Bahasa Mandarinnya pun fasih. Aku langsung jatuh cinta dengan Kak Cinta.

Kak Cinta hanya sekitar dua minggu di Bandung, lalu dia ke Blitar dan melanjutkan pekerjaannya di Taiwan sebagai perawat. Kini, Kak Cinta sudah menikah, dengan Mas Iwan, dan dikaruniai seorang anak laki – laki, Aileen Bobby. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah ya, Kak, Mas. Alhamdulillah, aku memiliki keponakan akhirnya, dan laki – laki, jadi Bapak dan Mas Iwan ada temannya, hihihi.

Ya, yang aku harapkan, semoga keluarga kita dapat menyatu, dapat berkumpul suatu saat nanti. Semoga kita sama – sama dalam perjalanan menuju ridhaNya. Aamiin.

Merantaulah! Dunia ini tak sebatas sungai dan pepohonan dekat rumahmu.
(Dokumentasi Pribadi; Curug Tilu Leuwi Opat)

Sungguh, perjuangan menjadi anak rantauan sangat banyak rintangannya. Namun, inilah yang membuat kita mengenal dunia dari sudut pandang yang berbeda, membuat kita lebih bijaksana dalam berpikir dan bersikap, karena kita ditekankan sebagai seorang individu yang mandiri dalam mengambil keputusan, sekecil apapun itu. Kitapun menjadi pribadi yang mudah beradaptasi dalam lingkungan apapun, tahan banting dalam segala kondisi. Oleh karena itu, perjalananku tak akan terhenti di Kota Bandung tercinta ini. InsyaAllah, aku bercita – cita untuk menjelajahi tempat lain, belajar hidup di kota lain, negeri lain. Selagi belum menikah, menikmati masa muda, dan selagi umur masih ada. Semoga.

Hei, Anda! Ya, Anda! Ayo, keluar dari sarangmu, jelajahi dunia! Banyak hal indah, banyak yang harus dipelajari, dunia tak sebatas sungai dan pepohonan yang ada di dekat rumahmu. Keluarlah! Merantaulah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar