Selasa, 18 Agustus 2015

Memantaskan Diri

Belakangan ini, pikiranku selalu terusik tentang hal yang satu ini; jodoh. Hei, ini bukan edisi baper ya, ini edisi muhasabah diri, InsyaAllah. Namun, aku tak hanya membahas jodoh, tetapi beberapa topik lain dalam posting-an ini. Izinkan aku berbagi cerita ya, semoga bermanfaat ^^

Silaturahmi. Aku baru mengerti esensinya akhir – akhir ini. Ketika aku kelimpungan menentukan tujuan hidup, Allah menggiringku untuk bersilaturahmi. Suatu hal yang kutakutkan sebelumnya, karena dulu aku merasa hidup terasing dan terbebani dengan bertemu orang lain.

Melalui silaturahmi ini, aku bertemu dengan orang – orang baru yang luar biasa, dan menemukan keluarbiasaan itu juga pada orang – orang yang pernah kutemui sebelumnya. Luar biasa, mengapa? Sebab melalui mereka, Allah menunjukkan hidayah-Nya sedikit demi sedikit, yang membuatku terpana, bahwa banyak detail kecil yang aku abaikan selama ini.

Betapa tidak, melalui kegiatan positif, yang membuatku dapat menyibukkan diri ketika libur panjang ini, aku merasakan inilah langkah awal untuk menuju hidup baru, hidup yang lebih damai tanpa rasa galau, hidup yang lebih dekat dengan Allah.

www.rumahnikah.com

Jodoh. Ya, entah mengapa, meskipun beberapa waktu lalu aku sudah mendapatkan petunjuk, aku masih merasa terikat dengan perasaan yang tak berujung pada makhluk Allah yang satu ini. Memang berkurang, tetapi belum sepenuhnya lepas. Namun, rasanya jauh lebih baik, karena ketika mengingatnya, aku menangis dan menyadari bahwa aku tak seharusnya lebih mencintai makhlukNya daripada Dia. Aku mulai sadar hakikat cinta yang sebenarnya.

Dari berbagai saran yang kudapat dari sahabat – sahabatku (aku lebih suka belajar dalam bentuk sharing, daripada membaca, karena aku lebih menalar dalam sharing), aku berkesimpulan, bahwa rasa cinta tertinggi yang harus kita persembahkan hanya satu, yaitu cinta untuk Allah. Lalu, aku berpikir, bagaimana cinta pada Rasul dan makhluk Allah lainnya? Ya, kita harus mencintai mereka semua karena Allah; mencintai suami, orangtua, bahkan sahabatpun juga. Sebab, cinta yang hakiki memang hanya karena Allah. Apalagi dalam situasi galau anak muda zaman sekarang (aku masih muda, jadi wajar hihi, dan aku sedang berusaha), cinta ditafsirkan dalam nafsu, materi, penampilan, hubungan darah atau keuntungan semata. Akupun baru menyadarinya sekarang. Bahkan, setelah mengetahuinya, menjalankannya lebih sulit dari yang kubayangkan, karena belum adanya keikhlasan dalam hati untuk menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Namun, perlahan pasti bisa, asal niat dan yakin, InsyaAllah.

Lalu, aku bertanya, jodoh itu ditunggu atau dikejar? Ternyata, hakikat jodoh itu sama seperti rezeki. Anda pasti sering mendengar; rezeki, jodoh, dan maut itu sudah digariskan oleh Allah, bahkan sebelum kita lahir. Artinya, kita tidak perlu resah dan bingung, mengenai ketiga hal ini. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha sungguh – sungguh dan berdoa dengan setulus hati. Nah, apakah rezeki itu ditunggu? Tidak, bukan? Kitalah yang harus berusaha dan menggapai rezeki tersebut, misalnya dengan bekerja, atau banyak memberi sedekah dengan ikhlas, InsyaAllah, rezeki itu akan datang dengan sendirinya.

Baiklah, itu mengenai rezeki. Lalu, bagaimana dengan jodoh? Ya, selama ini aku bingung untuk menanggapi berbagai aspek tentang jodoh. Ternyata, jodohpun sama halnya seperti rezeki. Kita yang harus menjemput jodoh itu. Wah, luar biasa, setelah aku mengetahui cara untuk menjemput jodoh, aku terhenyak, seakan dilempar ke dalam jurang yang dalam, tetapi Allah membiarkan aku melayang, tak terjatuh. Bagaimana caranya? Dengan memantaskan diri. Oh, jadi selama ini, pengertian memantaskan diri itu adalah cara untuk menjemput jodoh. “Wanita yang baik, akan mendapatkan laki – laki yang baik, sedangkan wanita buruk akan mendapatkan laki – laki yang buruk pula.” Aku berpikir berulang kali, dan ternyata memang sangat logis. Untuk mendapatkan hal yang baik, kitapun harus menjadi baik terlebih dahulu. Jadi kata – kata yang terdapat pada hadist maupun Al Quran itu bermakna yang sangat dalam.

Hal lain lagi yang perlu kita lakukan, berdoa dengan setulus hati dan bersabar dalam penantian. Sebab dengan seperti itulah, kita telah menjemput jodoh kita. Tak perlu pacaran, justru pacaran akan menjerumuskan kita ke dalam maksiat yang tak berujung, dan aku pernah mengalaminya, pengharapan kepada makhluk Allah yang sangat menyakitkan. Maksiat yang dilakukan oleh hati, tubuh, pikiran, maupun lisan. Hati, yang seharusnya kita persembahkan kepada Sumber Cinta yang hakiki, Allah swt., tetapi malah kita persembahkan untuk makhluknya, memuja – muja pacar, seolah dialah yang terpenting di dunia ini. Tubuh, yang seharusnya dijaga kehormatannya, diberikan secara cuma – cuma kepada yang bukan muhrimnya. Pikiran, yang seharusnya kita berpikir, bagaimana kiat agar Allah selalu meridhai semua hal yang kita lakukan, malah kita kotori dengan pikiran kotor dan keji. Lisanpun, yang seharusnya kita jaga dan selalu mengucapkan lafadz Allah swt. dan shalawat kepada Rasulullah saw., malah kita kotori dengan ucapan ‘sayang’, ‘aku cinta kamu’, Bunda, kamu lagi apa?’, padahal belum halal sebagai suami istri. Begitu mengerikan mengingatku pernah menjalani semua itu. Subhanallah, semoga kita semua adalah orang – orang yang senantiasa diberi hidayah oleh Allah. Aamiin.

Dengan begitu, jodoh akan datang, di waktu yang telah ditentukan oleh Allah, sebelum kita lahir. Janji Allah itu pasti, dan Allah tak pernah berdusta. Aku sudah mengalaminya sendiri, setelah enam tahun berjuang, melawan belenggu diriku sendiri, Alhamdulillah, aku dapat memerdekakan diriku sendiri dari belenggu tersebut. Lama memang, tetapi dengan kesabaran dan doa yang tulus, semua hal yang indah akan terwujud di balik penderitaan. Selalu ada pelangi, setelah badai hujan yang dahsyat. Itulah yang sahabatku katakan. Subhanallah, aku menangis menulis posting-an ini, begitu luar biasa Allah mengatur kehidupan manusia, bahkan sebelum kita lahir, dan pengaturan itu adalah wujud kasih sayang Sang Pencipta kepada makhluknya yang berlumuran dosa; manusia. Hanya saja, kita sebagai manusia, yang tak pernah bersyukur, yang tak pernah mau belajar, bahkan ketika sudah mengetahuinya pun, kita hanya menutup mata, hati dan telinga kita. Astagfirullah, semoga kita semua adalah orang – orang yang senantiasa bertaubat nasuha. Aamiin.

Lalu, bagaimana jika kita mengagumi seseorang yang begitu dekat dengan Allah? Apa yang harus kita lakukan? Perasaan kagum dan suka itu wajar, manusiawi. Namun, bersegeralah meminta kepada Allah, meminta yang terbaik, bukan meminta agar dia menjadi jodoh kita. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Lepaskan perasaan itu, ikhlaskan, biarkan pergi, dan dekatkan diri kita kepada Sang Pemilik Hati (akupun sedang berusaha).

Perbanyak silaturahmi, karena siapa tahu, jodoh kita datang dengan sendirinya melalui silaturahmi. Perbanyak juga kegiatan positif, yang bisa menghindarkan kita dari pikiran – pikiran membingungkan mengenai jodoh. Dan yang paling utama, bahagiakan semua orang. Nasihat dari sahabat – sahabatku, Jazakumullah ^^

Lalu, bagaimana dengan kematian? Aku belum sepenuhnya paham. Namun, jika boleh berpendapat, memantaskan diri adalah hal yang harus kita lakukan, sama halnya seperti jodoh. Mengapa? Sebab manusia yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Hal yang memang sudah kodratnya ya, yang baik dengan yang baik pula. Dan ingat, kematian pun sudah digariskan oleh Allah, sehingga, bisa jadi, jodoh terlebih dahulu, atau kematian terlebih dahulu. Kita tak pernah tahu. Jadi, kedua hal ini merupakan hal yang sejalan, menurutku. Akupun masih bergelut dengan rasa malas, yang selalu menjadi belenggu, baik dalam ibadah, maupun dalam berkegiatan positif. Semoga kita semua adalah orang – orang yang senantiasa memperbaiki dan memantaskan diri, untuk berhadapan kepada Allah dalam keadaan fitrah, seperti anak yang baru lahir, tanpa dosa. Aamiin.

Semua hal yang kita kerjakan di dunia ini, adalah ibadah. Jadi, apapun yang kita kerjakan, pastikan bahwa kita berdedikasi untuk Allah, Sang Pencipta yang mutlak untuk dicintai dan disembah. Memantaskan diripun jadi tidak berat, karena yang kita lakukan semuanya diniatkan untuk Allah swt. Ayo, kita sama – sama berusaha! InsyaAllah, kita pasti bisa!

Tersenyumlah, berbahagialah. Dunia ini ternyata menyimpan banyak harta karun, yang telah dikaruniakan oleh Allah, ketika kita mau mempelajarinya lebih dalam.

Selamat memantaskan diri, untukku dan semua umat di dunia ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar