Senin, 03 Agustus 2015

Masa Kecil

Rasanya sudah lama tak menyentuh blog ini. Tak menulis. Tak berpikir apa yang harus dituangkan dalam sebuah artikel. Namun, sebenarnya aku sering menulis untuk pribadiku sendiri. Selamat datang kembali! Entahlah, meskipun mungkin, tak ada yang pernah membaca blog ini, aku tetap mempertahankannya. Menulis menurutku adalah suatu kegiatan yang kutujukan pada diriku sendiri. Hanya beberapa faktor yang membuat aku menulis untuk orang lain, seperti tugas atau tuntutan kerja. Sebab, menurutku, menulis berarti mencurahkan segala hati dan pikiran kita untuk tulisan itu sendiri, menceritakan rahasia dan beban yang tak mampu kita tahan sendiri, karena terkadang orang – orang memang tak bisa dipercaya. Hanya Allah yang tahu, entahlah.

Manusia galau. Itulah julukan yang kuberikan kepada diriku sendiri. Selalu marah terhadap hal yang tak jelas. Selalu jatuh dan jatuh ke hati yang belum tentu akan menjadi jodohku nanti. Selalu tidak mensyukuri apa yang telah kumiliki. Selalu membandingkan hal yang lebih baik terhadap diriku; minder. Selalu mendengarkan lagu – lagu sedih yang membuatku semakin bergalau ria dan berakting seolah ada suatu adegan sedih saat itu. How is pitiful my life.

Suatu cerita, tentang masa kecilku yang kuanggap menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Sejak kecil, aku mengalami masa kanak – kanak yang indah, mengalami kreativitas yang luar biasa, baik karena imajinasi maupun solusi akan ketidakmampuan. Aku sering bersepeda, hingga kulitku hitam, aku senang bermain air di sungai, mandi, bahkan mencuci pakaian, apalagi saat air ledeng macet. Aku sering bermain petak umpet (di Medan disebut alif berondok), alif patung (mungkin di Sunda berubah menjadi ucing patung), batulima (permainan batu berjumlah lima yang dimainkan bersama bola bekel), pecah piring (aku tak tahu istilah di Sunda), jika hujan, aku sering merengek kepada Bapak atau Ibuku, untuk bermain di luar, mandi hujan, berlari – larian, merasakan tetesan air yang tak terhitung jumlahnya, jatuh dari langit yang berawan. Aku juga sering bermain bulutangkis dan kasti. Aku sering mengalami masa saat aku dikejar – kejar oleh teman – teman laki – laki begitu bel istirahat dibunyikan. Aku sering menjadi bahan bulian di kalangan teman laki – laki, mereka menyebutku Kumis. Karena aku bersifat pemarah dan mudah tersinggung, tapi juga cengeng dan tukang galau, maka aku sering marah – marah karena ejekan itu, lalu menangis. Bahkan, di masa saat nama orangtua sering dijadikan bahan ejekan, aku sering marah – marah dan menangis. Aku baru menyadari, bahwa dari dulu aku memang sudah galak. Aku baru sadar saat diriku menginjak dewasa. Sungguh lama.

Aku juga sering bermain Kontes AFI (Akademi Fantasi Indosiar) bersama teman – temanku. Saat bermain seperti itu, aku sering berakting menjadi juri, lalu aku bernyanyi terakhir, sebagai penutup dari permainan tersebut. Aku juga sering bermain sekolah – sekolahan, dan entah mengapa, aku sering sekali ditunjuk menjadi guru. Tak hanya itu, aku juga sering bermain taman ria (istilahnya di sini pasar malam). Aku mengajak teman – temanku, aku membuat uang – uangan sendiri, membuat tiket permainan, dan bahkan permainannya benar – benar aku rancang sendiri. Sungguh luar biasa kreativitas itu, dulu. Aku juga tak menyangka, bahwa aku bisa berpikir sejauh itu. Sekarang? Belum apa – apa sudah malas, menyerah. Aduh, diriku.

Ketika ada tetangga yang memperbaiki rumah, aku sering mampir dan mengajak adik – adikku untuk bermain. Ya, bermain pasir. Anda tahu apa yang aku lakukan? Aku membuat denah dari pasir itu. Ada beberapa ruangan; ruang tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi. Dan, aku terkejut, baru menyadari saat aku di masa pertengahan kuliah; mungkin takdirku untuk kuliah di Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur ini, sudah tersirat sejak dulu, sejak aku masih di masa kanak – kanak. Guru + denah. Siapa yang sangka? Atau mungkin hanya suatu kebetulan? Entahlah.

Sejak kecil, aku tak pernah didekatkan dengan teknologi, sehingga aku hanya tahu wujud tamagochi, tetapi aku tak pernah memainkannya. Ketika aku ingin alat yang terdapat game tetris (aku lupa nama alatnya), padahal saat itu harganya hanya Rp. 10.000,- tetap butuh waktu yang lama untuk memilikinya. Dengan rayuan maut, aku memaksa Bapak untuk membelikannya, dan beliau selalu mengatakan ‘belum ada uang’. Namun, akhirnya dibelikan, entah kapan, aku lupa, dan alatnya berwarna cokelat. Aku senang sekali saat itu. 

Mungkin namanya Brick Game.
www.ecplaza.net

Aku tak pernah memiliki komputer sebelumnya. Aku mulai mengenal komputer sejak SMP, itupun hanya sebatas mengetik dengan teknik 11 jari dan wordart. Hal itu merupakan suatu kemajuan besar saat itu. Akupun belum memiliki telepon genggam saat itu. Namun, entah mengapa, hidupku cukup bahagia, meskipun tanpa handphone di sisiku. Berbeda dengan kini. Zaman memang berubah. Bahkan, sangat pesat dan tak terduga.

Bahkan, saat aku merengek meminta congklak, dan tak pernah dibelikan, aku berpikir, bagaimana caranya agar aku dapat memainkannya, meskipun aku tak memilikinya. Anda tahu apa yang aku lakukan? Aku mengumpulkan batu, biji salak, atau guguran tumbuhan yang aku sebut mata kucing (berwarna merah, seperti biji kedelai wujudnya, tetapi lebih halus teksturnya). Lalu, aku menggambar lingkaran – lingkaran seperti yang ada di congklak pada kertas yang aku sambung, sehingga panjang membentang. And, tadaaa! Sebuah congklak ciptaanku sendiri terbentuk. Terkadang aku bermain bersama adik atau temanku, tetapi terkadang aku bermain sendiri. Sedikit autis memang, tetapi entah mengapa, aku tak menganggap hal tersebut menjadi suatu masalah. Mungkin sejak itu, aku menjadi mandiri dan tak masalah meskipun harus melakukan segalanya sendirian. Enggan untuk meminta tolong. Lebih tepatnya, jika masih bisa mengerjakan sendiri, mengapa harus meminta bantuan orang lain? Namun, jika sudah tak sanggup, dan tak memungkinkan, baru aku meminta bantuan orang lain. 

Aku juga sering bermain tos gambar. Mulai dari gambar Barbie, hingga Power Ranger, semuanya ada. Baik dengan cara tos, maupun beradu seperti judi, dengan taruhan jumlah gambar, aku bisa. Aku sering menang, dan memiliki banyak gambar hingga seplastik besar penuh. Aku juga sering bermain bongkar pasang (BP). Aku memiliki banyak pakaian untuk pemainnya, aku membuat perabotannya dari gambar tos, menyenangkan rasanya, terkadang aku bermain di dalam rumah, terkadang di teras, tetapi di teras, risikonya terbang terbawa angin.

Aku juga senang bermain masak – masakan. Pernah, suatu hari, aku memotong daun sejenis talas (atau mungkin itu memang talas) untuk bahan masak – masakan, dan seketika, ular hijau meliliti tanganku. Aku menjerit panik, berlari ke rumah, dan saat di sekitar selokan, aku berusaha, melepaskan lilitan ular itu dari tanganku. Dan Alhamdulillah, ularnya pun pergi. Hingga saat ini, aku masih sedikit parno melihat daun tersebut jika dari dekat, dan merasa sedikit bergidik ketika melihat daun yang berbulu.

Ini daun talas, mirip. Atau mungkin yang dulu itu memang daun talas.

Pernah suatu kali, saat adikku yang terakhir, Sri Nindia Utami (aku memberinya nama yang sama dengan temanku) berulang tahun yang ke-2, pada 29 Juni 2006, aku memiliki uang di celengan sebesar Rp.30.000,-. Aku berusaha untuk membahagiakan adikku. Dengan sedikit uang yang aku punya, aku nekat merayakan ulangtahunnya, meskipun, sangat sangat sangat sederhana. Aku meminta Bapak untuk menemaniku membeli konsumsi dan kado untuk adikku (saat itu harga jajanan masih sangat murah, sehingga aku bisa membeli banyak jajanan). Lucu, aku membeli sandal jepit dan bedak, sebagai kadonya, karena uangku tinggal sedikit lagi. Dengan langkah bahagia, aku segera menghias ruang tamu di rumahku. Ibu Bapakku hanya bisa menggeleng kepala melihat rencanaku ini, tetapi akhirnya mereka membelikan kue yang saat itu lagi up to date di kalangan ibu – ibu di sekitar rumahku. And, tadaaaa! Jadilah pesta ulang tahun Ami yang ke-2, dengan sentuhan musik ulangtahun dari DVD, kami berpesta. Sungguh sangat sederhana, dan tentunya aku sangat bahagia, karena bisa membuat adikku bahagia. Aku mengundang beberapa tetangga untuk datang ke rumah, dan menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuk adikku tercinta. Syukurlah, setidaknya mereka mau datang, dan bahkan ada yang memberi kado, atau uang. Meskipun ulangtahunku tak pernah dirayakan oleh orangtuaku, justru, aku ingin merayakan ulang tahun ketiga adikku itu, karena dulu, saat aku masih kecil, perayaan ulangtahun di kalangan anak – anak itu dianggap mewah, seperti suatu ‘kewajiban’ di masa kecil untuk merayakan ulangtahun. Dulu, aku berpikir seperti itu, tetapi sekarang mindset-ku sudah berubah. Namun, tetap saja, aku belum bisa mewujudkan impian itu hingga sekarang untuk adikku yang kedua dan ketiga; Novita Ariantie dan Putri Natasya. Kini mereka sudah besar, tetapi aku menganggap mereka selalu menjadi adik – adik kecilku, karena aku tidak tumbuh besar selama 8 tahun bersama mereka, seolah aku sendirilah yang mengalami kedewasaan.

Saat Ami ulangtahun. Foto langka.

Pernah, suatu waktu, pada ulangtahunku yang entah keberapa, hujan sangat deras, kami sekeluarga berada di rumah, kecuali Bapak. Mungkin karena sudah terbiasa tidak mengalami hal spesial di hari ulangtahun, aku merasa semua berjalan sebagaimana mestinya. But, suddenly, my mom made cake, it’s called bolu. Terkejut, aku mengira bolu itu pesanan orang. Ternyata untukku, yang sedang bertambah usia, dan aku selesai mandi saat itu (memalukan hahaha). Lalu, Ibu membubuhkan lilin di atas bolu tersebut, meskipun sederhana, aku sangat bahagia. Kami menyanyikan selamat ulangtahun, ibu memelukku, dan membisikkan telingaku, ‘selamat ulang tahun’. Aku tak menyangka, karena yang kutahu, ibu bukanlah ibu yang romantis, yang sering membelai kepala, atau memeluk dan mencium, tetapi mungkin ketika aku masih balita, Ibu sering melakukan itu. Selama itu, mungkin karena aku memiliki tiga adik, perhatian ibu teralihkan, atau mungkin aku yang tak pernah ngeh akan kasih sayangnya. She’s the best mom in the world. Tak lama kemudian, Bapak tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup, dengan vespanya yang sudah terdengar dari radius puluhan meter. Beliau membawa KFC (Kentucky Fried Chicken), yang saat itu sangat terdengar mewah bagiku, bagi kami. Kami menunggu Bapak yang sedang mengganti baju, lalu setelah semua berkumpul, kami makan bersama dengan bahagia di ruang tamu. Hal – hal yang kuanggap biasa saat ini, ternyata dulu merupakan kemewahan tersendiri bagiku. Hal yang menciptakan kebersamaan yang begitu berarti dan sederhana, hingga aku tak pernah melupakannya. Sekarang, justru kebersamaan yang mahal bagiku. Mereka jauh, tetapi mereka selalu ada di hati dan jiwaku.

Bolu, kue ulangtahunku yang kesekian. Buatan Ibuku tercinta.

Ada satu kejadian lucu. Kala itu aku masih kelas 4 SD. Ada temanku yang merayakan ulangtahun di kelas, Melisa, dan kami pernah bertengkar karena masalah tempat duduk (Melisa, jika kamu membaca ini, maafkan aku ya, atas kekonyolanku dulu. Kamu tahu, kita masih anak – anak dulu, hihihi). Melisa membawa bolu, dan membaginya ke semua murid, dan guru kami yang ada di kelas kala itu, Bu Tarigan. Lalu, setelah bel berbunyi, aku segera bergegas keluar, berhenti di depan pintu kelas, merenung, lalu menangis. Temanku bertanya (aku lupa siapa dia), ‘kenapa kamu menangis?’. Aku menjawab dengan isakan yang semakin keras, ‘aku ga punya ulangtahun’. Aku berpikir saat itu, karena tak pernah merayakan ulangtahun, aku jadi tak memiliki ulangtahun. Oh my God! Aku lupa reaksi temanku, tetapi saat aku menceritakan kejadian itu di rumah, ibuku tertawa terpingkal – pingkal, dan menunjukkan bahwa hari ulangtahunku jatuh pada 14 Januari. Aku hanya mengangguk, tak paham mengapa ibu tertawa, padahal hatiku sedang bersedih. Mungkin karena itu, ibu membuat inisiatif untuk memberi surprise sederhana yang kuceritakan sebelumnya. Dan aku tergelak kini, karena polosnya aku, baru mengetahui ulangtahunku saat kelas 4 SD.

Paling sering dulu, ketika lebaran, anak – anak dan remaja berkumpul, mengunjungi rumah kami satu persatu, bahkan kami berkunjung ke rumah tetangga yang terkenal galak. Tak hanya lebaran, bahkan saat natal atau tahun baru tiba, kami juga berkunjung ke rumah tetangga Kristiani yang merayakannya. Toleransi, sangat kental saat itu. Kami berkunjung untuk mencoba semua kue, hingga kami merasa lelah dan kekenyangan, dan pulang ke rumah masing – masing. Tak hanya di kalangan tetangga, bahkan di kalangan teman SD dan teman SMP-ku. Tak ada gadget, tak ada smartphone. Berkumpul, ya benar – benar berkumpul. Tak ada yang menunduk untuk mengecek timeline Instagram, atau update Path, atau selfie dengan tongsis. Semuanya berkumpul, tertawa bersama. Aku bukan membenci teknologi. Aku hanya merindukan kebersamaan, di mana semua orang benar – benar terfokus pada kebersamaan dan kebahagiaan.

Saat sekolah adalah masa cinta monyet. Selalu, dulu. A cinta B, D cinta E, ditulis di dinding, papan tulis, meja, kursi, diukir di pohon, digurat di aspal. Cie cie. Hingga salah satu teman lelakiku, mengakui perasaannya kepada teman perempuanku (aku tak akan sebutkan namanya, takut dia malu hahaha). Sungguh konyol, dan berakhir dengan penolakan. Padahal waktu itu, temanku memberikan hadiah, tetapi aku lupa apa hadiahnya. Dan konyolnya lagi, hal ini terjadi di tengah jalan! Jalan Rotan, yang selalu menjadi saksi bisu masa kecilku <3

Aku sendiri pun tak luput dari kasus cie cie itu. setiap bel istirahat berbunyi, selalu ada tiga orang teman laki – laki, yang menyerbuku, mengejarku, hingga aku lelah dan memarahi mereka. Jika aku sudah marah, mereka akan tertawa terpingkal – pingkal, dan aku malah balik mengejar mereka. Kan apa banget, hahaha, tetapi aku rindu masa – masa itu. Dan aku baru tahu, sekarang, ada lagi seseorang yang ternyata juga menyukaiku dulu, tetapi baru mengaku sekarang. Aku merasa geli sendiri, karena aku tahu, dia dulu lebih pendek dariku, tetapi mungkin lain cerita sekarang. Dia mengatakan, bahwa aku manis, tetapi dia terlalu takut untuk dekat denganku, karena aku terlalu galak. Jadi, sebelum kepindahannya ke Jawa, dia mengakui perasaannya ke teman perempuanku yang lain (aduh sinetron banget, tapi ini nyata!). Wah, sejak SD aku sudah dicap galak oleh teman – temanku. Bahkan hingga sekarang. Memangnya, aku galak ya?

Intinya, ternyata aku memiliki banyak fans kala SD. Sekarang? Hah, ada yang mengirim SMS saja sudah bersyukur, walaupun hanya menanyakan tugas. Hahaha.

The Big Five Girl? Hah, masih ingatkah mereka? Tentu. Aku, Eby Aulia Harahap, Elvi Chairunnisa Harahap, Dini Anggraini Sianturi, Sri Hartika. Geng gong SD, yang terkenal pintar, dan cukup eksis, karena geng itu terbentuk saat kelas 6 SD, sehingga seisi sekolah tahu. Kami bersaing dalam akademik, bermain bersama, setiap bel istirahat berbunyi, kami selalu meneriakkan salam penyatuan geng; T H E   B I G   F I V E    G I R L   Y E A H! Alay memang punya geng itu, tetapi kami merasa tidak alay dulu, karena kami sangat positif, tidak seperti sekarang, geng yang selalu menunjukkan aurat ke mana - mana. Kangen <3

Sayangnya, tak banyak dokumentasi saat masa kecil dulu. Sebab kami lebih menikmati kebersamaan saat itu, dan mungkin karena keterbatasan kamera juga. Hihihi.

Masih banyak sebenarnya, kejadian menyenangkan di masa kecilku. Sangat indah, sangat bahagia, meskipun terkadang aku menangis, dan kini menyadari bahwa tangisan pada saat itu, adalah tangisan seorang anak yang dikelilingi oleh orang yang ia cintai. Banyak yang dapat meredakan tangisnya. Seorang anak yang tumbuh besar, dan beranjak dewasa, di umur yang ke-20 ini. Ya, diriku. Berkat rahmat Allah, berkat mereka. Tak pernah ada yang menggantikan itu. Terima kasih untuk kalian semua. Terima kasih untuk Anda juga yang telah membaca ini.

Childhood is pure, full of happiness, and romantic.

Wanita hebat dalam hidupku, Nenek dan Ibuku, Bulek Niknik juga <3

Sepupuku; Puja dan aku di kampung halamanku, Perbaungan, Desember 2013 lalu.

Adikku ketiga; Putri Natasya. Wajahnya beda tipe denganku, seolah kami bukan adik kakak.

Aku bersama adikku yang terakhir; Sri Nindia Utami. Wajah beda tipe, tapi sikap yang hampir sama. Kami selalu klop. Aku merindukannya. Mereka semua.

Sekarang? Anda bertanya bagaimana aku sekarang? Aku sedang meraih impian dan mulai memasuki langkah baru untuk hal yang serius dan berkomitmen; pernikahan. Namun, suatu saat nanti. Aku sedang merajut jalan menuju ke sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar