Minggu, 16 Agustus 2015

Manglayang Story

Oke, sebelum hari berganti, sebelum mata terlelap dan aku tak bisa berpikir lagi, aku ingin menulis sebuah petualangan. Ya, tepat hari ini, Sabtu, 15 Agustus 2015. Ingatanku masih segar, tetapi kakiku mati rasa. Namun, petualangan hari ini merupakan salah satu hal yang menakjubkan dalam hidupku.

Berawal dari silaturahmi, ke rumah sahabat semasa SMA di 22 dulu, Desy Aisyah Wulandari. Dari sana, kami saling sharing mengenai pelajaran hidup, mengenai Islam. Walaupun sedikit demi sedikit, aku berusaha memperbaiki diri.

Keluarga Desy merupakan keluarga yang luar biasa, menurutku. A’ Ujang, kakak Desy yang sekarang menjadi dosen di salah satu Institut swasta ternama di Bandung, merupakan salah satu pencetus lembaga yang berkecimpung dalam bidang sosial. Maka, dengan lembaga itu, beliau beserta teman – temannya mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan. Dan aku salah satu yang menjadi bagian ‘orang lain’ tersebut. Awalnya, aku selalu menolak ajakan mereka, karena tugas kuliah begitu membelitku, tetapi sejak bulan Ramadhan kemarin, karena tidak ada kegiatan apapun, aku memutuskan untuk ikut serta dalam kegiatan sosial tersebut.

Sejak itu, aku selalu mengiyakan ajakan mereka, karena mereka sangat friendly dan hangat pada orang baru. Hampir setiap event, ada saja teman baru yang kukenal, yang semakin membuatku berpikir, betapa pentingnya arti silaturahmi. Aku menikmati saat – saat bersama mereka, saat di mana aku belajar mengenal arti persaudaraan sesama muslim. Bahkan, mereka tak segan memberi motivasi, berteman dengan ringan dan terbuka, sehingga, yang tadinya pemalu pun, akan mulai terbuka dengan sendirinya.

Seminggu yang lalu, aku diajak Desy untuk bersilaturahmi lebaran ke rumahnya. Aku mengira ada event tertentu, ternyata tidak. Namun, tak hanya aku yang datang, Teh Sammy, teman Teh Eksel (istri A’ Ujang), datang juga. Awalnya, kami tidak saling kenal, lalu, aku bertanya namanya. Dan, dari perkenalan itu, keluarlah motivasi, saling sharing, banyolan, bahkan cerita – cerita petualangan. Maka, hiking menjadi salah satu topik pembicaraan kami. Ternyata Teh Sammy cukup berpengalaman dalam petualangan ini. Ahaaa, akupun memiliki mimpi untuk bisa hiking suatu saat nanti. Exactly! Dari silaturahmi inilah, kami memutuskan untuk hiking ke Gunung Manglayang, Jawa Barat.

Gunung Manglayang merupakan salah satu wisata yang terdapat di Bandung Timur. Gunung ini merupakan rangkaian pegunungan; Gunung Burangrang, Tangkuban Perahu dan Bukit Tunggul. Gunung Manglayang memiliki ketinggian 1.818 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang merupakan gunung terendah di antara rangkaian pegunungan tersebut. Ya, sangat cocok bagi pemula sepertiku.

Tibalah di hari H! Aku mengajak sahabat semasa kuliahku, Diah Rizky Kartika. Teh Sammy mengajak Teh Elsa (tiba – tiba ingat kartun Frozen hihihi), Teh Eksel mengajak Teh Wulan. Aku, Desy, Nok (adik Desy dan A’ Ujang), Teh Eksel dan Diah berangkat pukul 06.00 WIB, diantar oleh A’ Ujang hingga Masjid Al-Jabbar ITB, depan Kampus UNPAD, Jatinangor. Karena sebelumnya kami berjanji untuk bertemu pukul 08.00 bersama Teh Sammy.

Desy, Nok, Aku dan Diah di depan Masjid Al-Jabbar ITB, Jatinangor.

Ah, aku sudah lelah. Besok dilanjutkan ~

***

Aku terbangun dari tidurku. Maklum, kakiku belum bisa diajak kompromi sejak tadi malam. Baiklah, kita lanjutkan.

Kami berlima tiba di sana pada pukul 07.15 WIB. Memang sih, kami terlalu pagi untuk tiba, tetapi lebih baik daripada terlambat. Kamipun menunggu. Aku dan Diah belum sarapan, sehingga kami bersarapan ria dulu dengan sepiring nasi kuning di depan kampus UNPAD, sembari membicarakan kenangan tugas SPA III yang telah ku-posting sebelumnya; kenangan konyol, hihihi. Lalu, kami kembali berkumpul dan mengobrol ini itu, mengenal diri satu sama lain.

Beberapa saat kemudian, Teh Wulan tiba. Oh ya, aku pernah bertemu dengannya bulan Ramadhan kemarin, saat event buka bersama di salah satu panti asuhan. Lalu, sedikit terlambat, Teh Sammy bersama Teh Elsa, datang, dan langsung mencarter angkutan umum (angkot), menuju pos utama akses puncak Gunung Manglayang via Jatinangor, di Baru Beureum (setelah Kiara Payung). Sepanjang jalan, aku terpana. Ternyata, UNPAD memiliki lahan botani dan agrotani yang jauh lebih luas dari UPI. Sayangnya, karena sedang musim kemarau, lahannya tandus. Jalan yang muluspun, lama kelamaan tergantikan dengan bebatuan yang cukup membuat angkot yang kami isi bergoyang cukup keras. Shake it off!!

Karena begitu mengerikannya medan jalan tersebut, Teh Sammy menyuruh sang supir untuk berhenti sebelum pos utama Baru Beureum. Kami berjalan sedikit, dan belum apa – apa sudah mengeluh, betapa berdosanya kami, yang selalu tak bisa mensyukuri hal sekecil apapun pada diri kami. Manusia. Begitulah. Astagfirullahaladzim.

Tibalah kami di pos yang kami tuju. Cukup melelahkan, padahal belum mulai mendaki. Kami duduk di warung ibu bersahaja, entah siapa namanya, tetapi beliau cukup bersahaja, menurutku. Saat itu, bersamaan dengan datangnya dua orang perempuan. Mereka menanyakan apakah mereka boleh bergabung dengan kami. Tentu saja, mengapa tidak? Dan mereka memperkenalkan diri, Amelia Melinda dan Tri, dari SMA Bina Muda, Cicalengka. Mereka hanya berdua pergi ke sana, mengendarai motor dari Cicalengka ke pos utama Baru Beureum ini. Wah, mereka hebat! Angkot tadi saja rasanya sudah kelimpungan menuju pos ini, mereka? Two tumbs up!

Sebelum kami mulai mendaki, kami melakukan pemanasan terlebih dahulu. That was my first hiking in my life, at Manglayang Mountain. Belum apa – apa, rasanya aku sudah senang bukan kepalang. Alhamdulillah

Jadilah kami, sepuluh perempuan kuat dan tangguh, yang akan menaklukkan Gunung Manglayang ini; Aku, Diah, Desy, Nok, Teh Sammy, Teh Elsa, Teh Eksel, Teh Wulan, Amel dan Tri. Tanpa lelaki yang mendampingi. Petualangan dimulai!

Teh Sammy, pernah mendaki gunung ini sebelumnya, dua kali via Batu Kuda, dua kali pula via Jatinangor. Jadi, Teh Sammy-lah yang memimpin di posisi paling depan, dan Teh Elsa sebagai pelindung di belakang.

Namun, ternyata susunan posisi itu berubah – ubah, Tri selalu memimpin, aku terkadang di urutan pertama, kedua, atau terakhir. Salut, dia begitu kuat. Dan memang, banyak di antara kami yang belum pernah mendaki gunung, sehingga harus saling bantu membantu. Khusus Teh Wulan, Amel dan Tri, mungkin berat badan kalian akan turun beberapa kilo karena pendakian ini, hihihi.

Diah dan aku, saat pendakian. Sangkin fokus mendaki, kami tidak sempat berfoto banyak.

Ternyata, mendaki gunung tak semudah yang kubayangkan. Lihatlah, banyak orang – orang di pedesaan yang mendaki-turun gunung setiap hari, demi sesuap nasi. Aku saja, yang masih muda dan, Alhamdulillah, diberi kesehatan yang cukup, saat mendaki gunung ini sebentar saja sudah mengalami kelelahan yang luar biasa, bagaimana mereka? Sungguh, hidup memang harus selalu dipenuhi rasa syukur, di setiap detail kecil anugerah yang diberikan Allah swt.

Teh Sammy mengatakan, bahwa ketika mendaki gunung, akan terlihat, siapa yang benar – benar menjadi kawan sesungguhnya. Ya, memang benar, kesetiakawanan sangat diuji di sini, dan seberapa tidak mengeluhnya orang tersebut pada kehidupanpun, akan diuji di sini. Bahkan, yang sebelumnya tidak saling kenalpun, bisa menjadi akrab hanya dengan melakukan ekspedisi pendakian ini. Terlihat, orang yang belum pernah mendaki gunung sebelumnya, pasti selalu lempeng melewati kelompok pendaki lain, sedangkan yang sudah pernah, setiap ada kelompok lain yang lewat, pasti disapa, ditanya asalnya darimana, saling menyemangati, jika ada kelebihan makanan, akan diberikan kepada kelompok pendaki lain, bercanda satu sama lain, bahkan, berfoto bersama. Kebersamaannya sangat terasa. Itulah salah satu esensi pendakian yang aku rasakan di ekspedisi Manglayang ini.

Sebelum pendakian ini, malam kemarinnya, temanku mengatakan bahwa, dia mempunyai firasat buruk tentang ini. Aku terkejut, mendapati diriku cukup yakin untuk memenuhi salah satu impian mudaku ini; mendaki gunung, dan sepanjang jalan, jika aku mengingat perkataan temanku itu, aku berzikir dan berserah kepada Allah, atas apapun yang terjadi kepadaku, kepada kami. Lagi – lagi, aku terpana, aku mendapat esensi ini, seolah – olah aku akan mati dalam ekspedisi itu. Subhanallah, banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam pendakian ini.

Wow, daebak! Medannya cukup terjal dan ngebul. Musim kemarau masih menyelimuti Indonesia, sehingga Manglayangpun tak luput dari kekeringan. Alhasil, jalan setapak tersebut cukup licin oleh debu, dan adegan jatuh saat pendakian terjadi beberapa kali. Mendaki cukup sulit, sangat menguras tenaga, dan kami membutuhkan bantuan tongkat, dari dahan yang patah untuk menopang tubuh kami. Bahkan aku tak bisa bayangkan, apa yang terjadi jika aku tidak berolahraga sebelumnya (saran sahabatku yang baik hati, tetapi menyebalkan, arigatou gozaimashita!), pasti tak hanya kakiku yang mati rasa, tetapi seluruh badanku.

Hutannya pun tidak terlalu lebat, sehingga, sinar matahari banyak menembus gunung ini. Cukup membuat pendaki mandi keringat saat melakukan ekspedisi. Ditambah pula dengan kebulnya tanah gunung; saat mulai mendaki, pakaian bersih dan rapi, tetapi saat menuruni gunung, pakaian lusuh, bau keringatpun menyengat.

Saat pendakian, kami melewati dan dilewati oleh beberapa kelompok pendaki lain, dan Amel, menjadi peserta pendaki yang paling heboh, karena terus menyerocos, ketika pendaki lain lewat. Kami tertawa melihat tingkahnya yang konyol. Adapula, kelompok pendaki lain yang terdiri dari tiga orang laki – laki, selalu menyusul atau disusul oleh kami. Dan konyol, mereka meminta difoto dan mengatakan, ‘stok DP untuk sebulan ke depan, Teh’, katanya. Alhasil, kami tertawa, dan menjadi akrab. Karena tak tahu nama mereka, jadi kami hanya memanggil Aa’ Assalamualaikum, sangkin seringnya mengucapkan salam setiap kami bertemu, hihihi.

Jalan setapaknyapun (jangan bayangkan jalan setapak yang ada di taman, itu jauh dari yang Anda bayangkan), cukup membuat kami terpana, karena, mungkin, selama musim hujan, aliran air memenuhi jalan tersebut, sehingga memunculkan erosi yang cukup besar, dan menghasilkan lubang yang cukup dalam pada jalan setapak.

Kami memulai pendakian sekitar pukul 09.20 WIB. Dan kami tiba di puncak bayangan pada pukul 11.30 WIB. Sedangkan, untuk menuju puncak utama, akan memakan waktu sejam lagi. Ah, tidak, cukupkan sampai di sini! Kami sudah cukup lelah dan lapar, mungkin next time, jika Allah mengizinkan, hehe.

Puncak bayangan tersebut sangat gersang, dan panas (apalagi kami tiba saat matahari tepat di atas ubun – ubun kepala). Namun, pemandangannya, sangat indah, tetapi lebih indah jika musim hujan, karena polusi udara tidak begitu kentara di pemandangan Kota Bandungnya. Terlihat pula Gunung Geulis, yang biasanya terlihat jelas, tetapi saat itu terlihat samar, karena polusi udara. Destinasi ekspedisi selanjutnya, mungkin. Aamiin.





My selfie time.

Ini juga menjadi hal yang ditunggu – tunggu; selfie time! Niatnya memang pamer sih, kuakui. Berfoto – fotoria-lah kami di atas sana, dengan berbagai pose, ekspresi wajah, angle foto, metode berfoto (selfie, bertongsis-ria atau difoto). Bahkan, Aa’ Assalamualaikum tadi ikut berfoto bersama kami. Menyenangkan. Adapula, salam yang ditulis di kertas, dari Gunung Manglayang-lah, 1818 mdpl-lah, apalah, bermacam – macam; untuk keluarga, suami dan anak, bahkan mantan (duh). Aku mah, salam saja buat keluarga, teman – teman, dan calon jodoh di masa depan, entah siapapun itu, dari hati, tak perlu ditulis di kertas, hihihi.





Our selfie time.

Setelah selesai berfotoria, kami memutuskan untuk istirahat di tempat yang teduh dan makan. Suatu pelajaran, ketika mendaki gunung, jika tidak menginap, persiapkan makanan berat dan ringan, serta minum yang cukup banyak, begitupula dengan alas duduk; koran atau karpet, dan tentunya plastik untuk sampah, karena kebersihan sangat penting. Kasihan, alam sudah meronta karena kelakuan manusia. Seteguk air di puncak itupun rasanya seperti air surga, yang menghilangkan dahaga pendakian dalam sekejap. Maka, bersantairia-lah kami, berdesak – desakan, karena yang membawa alas duduk hanya beberapa orang. Dengan makanan seadanya, dan cerita – cerita inspiratif, motivasi – motivasi yang membuat kami tergerak untuk melakukan sesuatu, rencana – rencana ekspedisi atau petualangan baru yang akan mempertemukan kami lagi, InsyaAllah jika umur masih ada, dan silaturahmi yang akan kami lanjutkan di waktu mendatang. Semua itupun tak luput dari banyolan, yang membuat kami tertawa lepas, di puncak bayangan Gunung Manglayang. Selagi masih muda, selagi masih diberi kesehatan, ke-single-an, rezeki, nikmati masa muda, raih mimpi – mimpi yang ingin kita lakukan, karena ketika sudah menikah, atau masa tua nanti, belum tentu kita dapat menikmatinya. Bukan berarti foya – foya, tetapi memaknai suatu ekspedisi menjadi pelajaran hidup dan motivasi berharga untuk dikenang dan direnungkan. Banyak tempat indah yang harus dikunjungi, mensyukuri kebesaran Sang Pencipta. Subhanallah.

Terbesit dalam pikiranku, untuk melakukan ekspedisi pendakian, atau budaya suatu daerah, baik dalam maupun luar negeri, bersama suamiku kelak. Semoga kami masih dipanjangkan umur dan diberi kesempatan. Aamiin.

Tepat pukul 13.15 WIB, kami menuruni Manglayang. Ah, bye – bye puncak utama, bukannya aku tak ingin ke sini lagi, tetapi aku lebih memilih tempat yang baru untuk dikunjungi. Menuruni gunung ternyata lebih sulit dari mendakinya. Juga lebih melelahkan, karena kaki kita menahan pijakan tubuh. Apalagi dengan kebulnya tanah gunung, yang membuat setiap orang pasti mengalami jatuh ‘gedebug’. Apalagi, aku berada di depan Nok, yang seringkali jatuh, dan aku otomatis menjadi penahannya. Terkadang akupun ikut terjerembab. Serasa main sosorodotan, hihihi. Seharusnya orang yang jatuh ditolong, eh, kami malah tertawa ketika melihat salah satu dari kami jatuh, baru menolongnya. Ada kepuasan batin tersendiri, hihihi. Padahal aku juga kadang terjatuh.

Dengan tongkat yang kami bawa saat mendaki, kami menuruni gunung yang kemiringannya hampir 75 derajat, dengan penuh kehati – hatian. Selalu positive thinking, dan dibawa enjoy, InsyaAllah ekspedisi pendakianpun akan menyenangkan, meskipun medannya mengerikan. Ah sayang, aku tak sempat memetik salah satu tanaman liar untuk dijadikan kenangan dari Manglayang. Perjalanan turun gunungpun tak luput dari perpisahan; Amel dan Tri sudah menghilang dari posisi depan kami bertiga (aku, Nok dan Diah), dan posisi di belakang kami pun sudah tak kelihatan batang hidungnya. Jadi, kami sempatkan untuk foto – foto, meskipun merasa terasingkan, hehehe.



Jalan setapak yang mengalami erosi akibat aliran air hujan pada musim hujan; merasa terasingkan, kami sempatkan berfoto.

Amel dan Tri sudah tiba sebelumnya, dan akhirnya kami semuapun tiba kembali di warung ibu bersahaja tadi. Lelah rasanya, dan pakaian menjadi berdebu. Lalu, kami membersihkan diri, dan berwudhu untuk shalat dzuhur. Saat itu, kami tiba pukul 14.45 WIB. Satu persatu dari kamipun, pulang. Amel dan Tri pulang duluan, lalu Teh Elsa dan Teh Sammy menyusul, karena ada rapat (wah, pasti luar biasa lelahnya!). Setelah shalat dzuhur, kami bergegas pulang, berjalan lagi menuju angkot yang sudah menunggu. Teh Wulan pulang dengan Damri, alhasil, sisa dari kami menunggu kembali di Masjid Al-Jabbar ITB tadi pagi, sembari melaksanakan shalat Ashar. 

A’Ujang pun tiba sekitar pukul 16.30 WIB, dengan membawa si kecil lucu yang dipanggil ‘Cuka’ oleh Desy; Arkan. Batita menggemaskan yang berumur satu setengah tahun ini, sangat pintar dan lucu. Kami pulang lewat Tol Purbaleunyi.

Setelah tiba di rumah Desy, aku dan Diah pamit pulang.

Ekspedisi pendakian yang sangat menyenangkan! Pengalaman baru, berbagi pengalaman hidup, teman baru.

-Puncak Bayangan Gunung Manglayang, 15 Agustus 2015-

(Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-70 pada 17 Agustus 2015 nanti!)

1 komentar: