Sabtu, 08 Agustus 2015

Bahagia

Hal ini membuatku ingin menulis. Menuangkannya dalam bahasa cerita.

Bahagia. Suatu perasaan damai dalam hati. Suatu hal yang didapatkan dari berbagai situasi dan cara. Sesuatu yang dapat ditularkan kepada orang lain, dapat berupa tangis haru, gelak tawa, atau senyuman yang tulus.

www.kaskus.co.id

Setelah hidup selama 20 tahun, meskipun aku tak terlalu berusaha untuk menemukan apa makna kebahagiaan yang sebenarnya, aku menemukannya kini. Aku memang selalu menjalani apa adanya. Jika tak dituntut, aku malas melakukannya. Salah satu kebiasaan buruk, tetapi Allah selalu menunjukkan kasih sayang dan hidayah-Nya. Alhamdulillah.

Aku hidup dan dikelilingi oleh orang – orang yang hebat. Orang – orang terkasih, yang ditunjuk oleh Allah, dan memberikanku pelajaran hidup yang berharga. Memang, terdapat masa – masa sulit, bahkan cukup lama, saat aku dalam masa pencarian jati diri. Namun, setelah melaluinya, ada sinar kehidupan yang cukup indah. Aku baru menyadarinya saat ini, saat seorang sahabat mengingatkanku. Betapa kurang bersyukurnya aku selama ini, mengeluh hal – hal kecil dan selalu berprasangka buruk terhadap semua hal.

Ternyata hal sederhana bisa menciptakan kebahagiaan. Bersyukur. Ya, dalam setiap keadaan. Membahagiakan orang lain juga. Saran dari seseorang yang aku kagumi. Saat aku menjalaninya, aku mendapati hatiku yang damai, bibirku tersenyum, karena membuat orang lain bahagia dengan ikhlas. Hanya berpikir memberi, tanpa pernah mengharapkan pamrih. Terima kasih untuk saranmu. Alhamdulillah, aku dipertemukan seorang sahabat baik sepertimu, yang mengingatkanku di kala aku salah (dan maafkan aku, aku sering membantah nasihatmu, hihihi).

Lain dengan perasaanku. Kini, hatiku sedang meraba dalam kegelapan. Aku telah menemukan secercah cahaya kecil. Aku tahu cahaya itu, tetapi aku masih harus berjuang untuk meraih cahaya itu.

Ya, hatiku sedang jatuh. Jatuh cinta kepada seseorang, yang sangat aku dambakan. Kami bertemu, dan penantianku selama tiga tahun ini, terjawab sudah.


‘Burung, apakah dia lebih indah diletakkan di sangkar, atau dibiarkan terbang bebas di langit luas?’ Aku menjawab, ‘dibiarkan terbang’. ‘Begitu pula jika kamu mencintai seseorang, lepaskan dia. Kita, manusia, tak memiliki apa – apa di dunia ini. Semua titipan Allah. Oleh karena itu, berdoalah, dan meminta kepada Allah. Bukan meminta dia untuk menjadi jodohmu, tetapi mintalah yang terbaik untuk dirimu. Doakan dia yang kau cintai, karena justru doamu untuknya akan berbalik lagi untukmu. Bahagiakan orangtuamu, keluargamu, bahagiakan orang lain. Karena dengan begitu, kamu akan bahagia dengan sendirinya. Ini pelajaran hidup. Untuk saat ini, fokus dulu kuliah. Masih banyak yang harus kamu lakukan, kamu raih. Dan dengan begitu, kamu pun akan ikhlas melepaskan orang yang kamu cintai, kelak akan datang jodoh terbaik, di saat yang tepat dan mental yang siap untuk ke jenjang pernikahan.’ Itulah wejangan yang aku serap darinya.

Aku memikirkan sarannya. Benar. Aku harus melakukan itu. Akupun membaca artikel yang membahas mengenai cinta. Ternyata, begitulah seharusnya selama ini, bukannya mengikat perasaanku pada seseorang yang belum halal bagiku. Aku terkejut, karena aku pernah membaca mengenai zina mata, hati, dan lisan, tetapi aku melupakan itu selama ini. Melihatnya dari jauh, memandang fotonya saja sudah berzina mata. Membicarakannya dengan perasaan yang gembira kepada orang lain saja, sudah termasuk zina lisan. Bahkan, memikirkan dan berangan – angan tentangnya pun, termasuk zina hati. Aku melakukan ketiganya selama ini, tanpa menyadari bahwa itu adalah zina. Ini alasan yang cukup menalar logikaku. Hal ini membuatku semakin yakin untuk tawakal kepada Allah tentang pilihan hatiku.

Ada lagi, sebuah kutipan yang membuatku semakin mengerti, bahwa sarannya benar. Kutipan dari Line (Dakwah Islam > @likeislam - @Hanissazhafira_az).
Salah jika kamu berpikir aku pergi, karena tidak menyukaimu.| Karena aku benar - benar menyukaimu aku memilih untuk mundur.

Salah jika kamu berpikir aku mundur, karena tidak serius denganmu.| Karena aku benar - benar serius ingin bersamamu, aku memilih mendoakanmu selagi aku belum mampu menjadi pasangan halalmu.

Salah jika kamu berpikir doa saja tak cukup untuk bersatu.| Tahukah kamu? Selain ikhtiar, ada senjata yang kupunya yakni "doa". Dengan doa apa yang sulit menjadi mudah, yang berat menjadi ringan, dan yang tak mungkin menjadi mungkin.

Mungkin saat ini kamu kecewa. Karena aku lebih memilih menjauh darimu dan mendekat dengan-Nya.

Dan mungkin kamu berpikir aku hanya main – main. Datang di depanmu menghadirkan rasa rindu dan cinta. Tapi seketika aku pergi tanpa ada rasa duka.

Yakinlah... Bukan inginku menjadikanmu resah dan kecewa.

Tapi sungguh aku lebih takut jika Allah kecewa.

Aku lebih resah bila takdir dari-Nya tidak berpihak pada kita.

Mungkin... Dengan menjauh segalanya menjadi terasa dekat. 

Dekat dalam doa.

Dan percayalah doa mampu mengubah segala yang tak mungkin menjadi mungkin.

Maka... Bersabarlah dalam doa.

Aku belum mampu menghadirkan dalil – dalil, karena ilmuku masih sangat terbatas, dan aku takut akan terjadi kesalahpahaman. Maka, aku mencari perumpamaan yang ringan, yang masih sanggup ditalar oleh logikaku.

Kata – kata di atas tadi, semakin meyakinkanku lagi, bahwa semua indah pada waktunya. Allah telah merencanakan yang terbaik untuk setiap insan, tergantung dari apa yang ia perbuat dan usahakan. Apa yang ia pilih nantinya, itulah yang terbaik baginya.

Selama ini, hatiku salah dalam menanggapi perasaan yang dialami semua insan ini. Aku selalu menggebu – gebu dan menjadikan seseorang yang kusukai sebagai objek penting dalam hidupku. Galau, baper (bawa perasaan), berharap, bahkan berkhayal bagaimana rasanya menjadi bagian dari dirinya. Istilah – istilah itu menjadi wajib kualami setiap kali aku jatuh cinta. Dan sebelum aku mendapatkan jawaban ini, istilah – istilah itu masih merupakan misteri mengerikan bagiku, karena rasanya menyakitkan, tetapi tak ada obatnya. Namun, setelah mendapatkan jawaban dari sana – sini, terutama dia, yang menyadarkanku, aku semakin yakin, bahwa ketika kita jatuh cinta, maka kita harus meminta kepada Allah. Meminta yang terbaik, bukan meminta dia supaya menjadi jodoh kita. Mendoakan agar dia selalu bahagia. Metode mencintai yang seharusnya kulakukan dari dulu, dan tentunya untuk semua orang yang mengalami jatuh cinta (dalam keadaan belum halal). Memeluknya erat, dalam dekapan doa. Menangis dalam setiap doa, yang selalu tercantum namanya. Menjadikan perasaan itu sebagai ajang pendekatan diri kepada Allah yang lebih intensif dari sebelumnya. Tidak menuntut apapun kepada Allah, tetapi meminta yang terbaik, karena Allah tahu mana yang terbaik untuk kita semua.

Lagi – lagi, di balik penderitaan dan kesabaran, selalu ada lembaran baru yang indah. Menunggu saat yang tepat, lelaki yang tepat, dan kesiapan yang matang. Allah memang menjanjikan sesuatu yang pasti, bukan sekedar PHP (Pemberi Harapan Palsu), seperti istilah anak muda sekarang.

Bahasan artikel ini merupakan salah satu hidayah terbesar selama 20 tahun hidupku. Namun, aku tahu, aku masih dalam tahap proses dalam menjalankan ‘ikhlas melepaskan perasaan’. Belum sepenuhnya melepaskan, karena tak ada hal yang instan, tetapi ini jauh lebih baik. Dan maklum, aku sudah memasuki kepala dua, sehingga, jatuh cinta itu bukan hal yang main – main lagi, tetapi serius. Ya, pernikahan. Namun, aku harus meraih masa depan gemilang yang menunggu di dimensi futuristik terlebih dulu. Membahagiakan banyak orang, terutama orangtua dan adik – adikku. 

Bahagia? Ya, aku bahagia. Kini, aku tahu caranya bahagia. Aku tahu cara mengatasi hatiku yang sedang jatuh cinta. Aku ingin berbagi dengan Anda. Semoga, kita semua termasuk orang yang bahagia dan menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Aamiin.

Hai, jodohku di masa depan! Siapapun dirimu, aku sedang menunggumu, tetapi aku harus mengejar impianku dulu. Tunggu aku, ya! Dengarkanlah lagu ini, yang menggambarkan perasaanku padamu saat ini; The Carpenters – Someday.


#Hai, sahabatku! Aku semakin yakin! Terima kasih atas saranmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar