Sabtu, 28 Maret 2015

Love – What a Stupid Feeling It Is

Cinta. Mungkin ada yang bilang, masih terlalu dini untuk membahas hal tersebut, jika baru masuk ke tahap dewasa awal (umur 20-an). Tetapi sebagian besar orang, pada umur tersebut, menanggapi serius hal ini. Aku tidak tahu, apa aku serius atau tidak menanggapinya untuk saat ini. Yang jelas, cinta membuatku merasakan warna – warni kehidupan ini.

Banyak teori mengenai cinta. Setiap makhluk Tuhan, pasti mengalami cinta, bahkan barang buatan manusia sekalipun. Dengan cinta, kehidupan ini ada. Karena di dalam cinta, selain ada suka, kebahagiaan, kedamaian, kasih sayang dan lainnya, cinta juga dapat membuat duka, frustasi, luka, trauma, kebencian dan lainnya. Cinta berarti memberi dan menerima. Cinta berbicara soal pengorbanan dan saling menerima apa adanya. Cinta bukan hanya antara dua insan yang merasakan getaran – getaran tertentu, tetapi cinta menyangkut semua aspek kehidupan. Masih banyak lagi teorinya, tetapi setidaknya, itulah yang aku dengar dan aku baca, dan yang bisa aku tulis di artikel ini.

Cinta? Lalu, menurutku, apa itu cinta? Ya, aku akan menceritakan sedikit kisah nyata dalam hidupku. Cinta bagiku adalah ketulusan, bagaimana kita dapat memandang hal – hal yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai sebuah kebaikan dan ketulusan. Dan bagaimana masalah, yang merupakan bagian dari cinta, menjadikan kita semakin terlatih untuk menghadapi kehidupan yang fana ini, kita menjadi orang yang lebih baik, kuat dan tulus menjalani hidup.

Dalam kehidupan asmara, mungkin aku masih terlalu dini untuk ini, tetapi aku telah mengalami beberapa kali perasaan kepada beberapa lawan jenis. Dan menghadapi yang satu ini ternyata sangat sulit dari yang kuduga. Tak sesimpel apa yang aku pikirkan. Lebih rumit daripada yang masalah – masalah lainnya.

Mungkin dulu, aku mengatasi masalah seperti ini dengan mengungkapkan perasaanku kepada orang yang aku suka. Ketika aku menyukai seseorang, aku akan mengatakan kepadanya, baik secara langsung maupun tidak. Namun, feedback yang aku dapat selalu berakhir dengan tragis, bertepuk sebelah tangan. Aku belajar, untuk menjadi kuat dengan penolakan. Aku tak pernah meminta untuk menjadi pacar, tetapi aku mengungkapkan perasaanku karena aku ingin, orang yang aku suka, tahu perasaanku yang sebenarnya. Namun, penolakan – penolakan itu membuat aku semakin berhati – hati dalam kehidupan asmara kini.

Aku menjadi waspada kepada setiap orang, aku menjadi tidak percaya pada lawan jenis dalam hal asmara, aku menjadi orang yang semakin acuh terhadap realita asmaraku saat ini, meskipun aku tahu, aku sangat kesepian. Bahkan orang yang aku baru kenal sekalipun, menilaiku tidak responsif terhadap lawan jenis.

Bukan berarti aku lesbian, bukan. Aku normal, sangat normal. Hanya saja, sekarang aku membatasi diriku dalam ruang khayalku, agar aku tidak terjebak lagi dalam penolakan – penolakan seperti dulu, tidak lagi terjebak dengan rasa sakit hati dan rasa rindu yang membelenggu hati dan pikiranku setiap detik waktu yang aku jalani dulu. Bahkan, jika aku menerima seseorang sekarang, bukan berarti trauma itu hilang begitu saja. Aku hanya berusaha menjalanI kehidupan normal, supaya aku merasa normal di tengah ketidakwarasanku.

Ketika ada seseorang yang mengejarku, menginginkanku, memilikiku, mengatakan perasaannya padaku, aku tertarik, tetapi ketertarikan itu berkembang hanya sebatas rasa sayang, tidak lebih. Namun, ketika aku tertarik, dan perasaan itu berkembang menjadi nyata dalam hati dan pikiranku, bahkan alam sadarku, hingga aku memimpikannya dalam tidurku hampir setiap malam, aku tak pernah mendapatkan feedback yang layak. Selalu ada penolakan, cinta rahasia, dan harga diri yang terluka untuk membayar semua rasa sakit dan malu karena terkadang aku berbuat di luar batas.

Saat ini, aku selalu sendiri, jauh dari keluarga, dan bahkan mungkin aku telah membentuk zona pribadiku yang cukup luas, sehingga aku lebih sering menyendiri ketimbang berkumpul bersama keluarga dan teman – temanku. Sejujurnya, aku terkadang merasa aku sendirian di dunia ini, tak ada yang peduli denganku, semua orang sibuk dengan urusan masing – masing, aku hanya ditemani sebuah laptop, dengan dunia kampus, musik, film yang memberikanku inspirasi dan kehidupan, dan games yang membosankan, tetapi ini menjadi duniaku sekarang.

Dan lagi – lagi, kini, aku hanya bisa memendam sebuah rasa yang tak bisa tersampaikan. Aku tak pernah bisa melihatnya di hari – hariku, meskipun kami sudah bertahun – tahun belajar di kampus yang sama. Aku hanya bisa memendam perasaan ini, yang berawal dari percakapan biasa, hingga aku merasa muak dengan semua rasa sakit hati yang aku alami. Bahkan untuk berbicara kepadanya, aku hanya dapat berangan – angan. Urusanku dengannya sudah selesai, sehingga aku tak penting untuknya, karena memang aku bukan siapa – siapa untuknya. Aku bukan hal penting baginya, hanya angin lalu.

Mengungkapkannya, menurutku bukanlah suatu solusi yang tepat, apalagi, aku berusaha untuk tidak melukai harga diriku dengan melakukan hal bodoh seperti dulu, karena posisiku sebagai perempuan, tidak pantas mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Aku sendiri sangat bingung dengan dirinya. Dia tak pernah bisa ditebak, unpredictable, yang membuatku semakin penasaran akan dirinya, tetapi juga semakin frustasi memikirkan kemungkinan – kemungkinan yang ada pada dirinya. Dia aneh dan berantakan, tetapi pemikirannya luar biasa jenius dan bijak, yang membuatku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Ini hanya perasaan sepihak. Sangat sulit menjalaninya, dan andai aku bisa memutarbalikkan waktu, aku ingin agar kami tak pernah bertemu, tak pernah saling kenal, tak pernah berbicara satu sama lain, tak pernah menjatuhkan hatiku padanya. Dia takkan pernah membaca artikel ini, aku yakin, karena dia tak pernah memikirkanku, dia tak pernah menganggapku ada, tak pernah.

Aku hanya bisa menyibukkan diri dengan kegiatan – kegiatanku, memunafikkan diri untuk menganggap bahwa perasaan itu tak pernah ada, memungkiri ekspektasi tinggiku terhadapnya, tertawa, mencoba menghibur diri, betapapun lelahnya hatiku menangis, memendam perasaan ini.

Ini masalah, dan masalah ini menjadikan aku semakin kuat, semakin tangguh. Aku memang lebih memilih untuk tidak mengenalnya, tetapi karenanya, setidaknya hatiku tidak kosong. Terima kasih untuknya. Aku bisa merasakan perasaan aneh, yang menjalar ke seluruh tubuhku, ketika aku memikirkannya. Hidupku berwarna lagi, walaupun mungkin sekarang akan mengelabu dan menjadi hitam. Aku hanya dapat melihat sosoknya dari jauh, memikirkannya, dan mengkhayalkan waktuku bersamanya, bahkan ketika mempunyai kesempatan yang langka untuk bertemu, aku terlalu takut untuk menatap wajahnya, aku takut, malu. Aku hanya dapat melihatnya dari belakang, tanpa pernah bisa meraihnya. Tak pernah, tak akan pernah.

I give up. I just give up.

Kembali ke pendapat awalku, bahwa cinta berbicara mengenai ketulusan. Aku tulus memiliki perasaan ini terhadapnya. Dan aku mencoba memendam perasaan ini dan merelakannya untuk bahagia dengan pilihan yang ia putuskan dalam hidupnya. This is secret love. Karena cinta tak harus memiliki, tak harus bersama, yang penting kita dapat menciptakan kebahagiaan untuk orang yang berarti dalam kehidupan kita, meskipun sangat sulit mengikhlaskannya, dan menjadi menderita karenanya.

Seperti yang aku katakan sebelumnya, film menjadi kehidupanku sekarang. Aku terlarut dalam emosi film. Aku selalu memimpikan kehidupanku berakhir indah seperti apa yang ada di film, tetapi itu hanya film. Fiksi, tidak nyata. Belakangan ini, saat aku libur, aku menonton sebuah drama Korea, Marriage Not Dating, aku terjaga hingga subuh, dan aku sangat tersentuh dengan salah satu arti lagu dari drama tersebut. Aku tidak tahu judulnya.

For a long time I only cried
I'm still longing for you
It was so hard back then
To keep watch over me
That feeling, that feeling...

For a long time I was lost
You opened my eyes but I only saw you leaving
Is this a dream of you and me?
Not a living reality

I just want you to love me
Just love me
Tell me that you love me
If you are like me
Praying, praying and praying again
When I know I can't have you
And even though I know this
I'm still searching for you like a fool

You don't even know 
Because I'm always laughing
How tired my heart is from crying
When you're lost just call for me
Just once remember me

If I call your name lovingly
Could we meet again as before?

I can't lived without you
Just stay with me
Tell me that you love me
If you are like me
Praying, praying and praying again
When I know I can't have you
And even though I know this
Like a fool I'm still searching for you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar