Jumat, 04 Desember 2015

Ada

Bandung.
Ada berjuta rasa yang kau tinggalkan.
Ada beribu kisah yang kau guratkan.
Ada beratus orang yang kau besarkan.
Ada berpuluh bangunan yang kau kokohkan.

Ada.

Ada sebuah rasa yang mengisahkanku pada seseorang, di antara megahnya bangunan di Kota Kembang.

Aku menantimu.
Dalam diamku.
Dalam doaku.
Langit telah mengetahui semuanya.
Langit telah melaporkannya kepada Sang Pemilik Semesta.

Lalu,
Aku hanya perlu melangkah.
Maju, mendekatimu.
Dan mencintaimu, di saat yang tepat.

Minggu, 18 Oktober 2015

Runtuhan Malam

Angin malam menerpa sebagian wajah dan bahuku di balik jendela,
Sambil kupandangi titik - titik cahaya di kejauhan,
Indah, sungguh indah,
Kerlap - kerlip yang timbul di permukaan gelapnya malam,
Sembari kudengarkan indahnya melodi yang terlantun dari beberapa instrumen,
Aku menerawang jauh,
Memikirkan semuanya,
Yang telah terjadi dalam hidupku.

Apa yang telah kulakukan?
Apa yang telah kuperbuat?
Apa yang telah kuberi?
Apa yang telah kuperbaiki?

Masih sanggupkah aku bermuhasabah diri di dunia hingga akhir waktu?
Sudah siapkah bekalku untuk meninggalkan dunia yang fana ini?

Dilema kudapati diriku,
Yang muncul seiring cepatnya kendaraan melaju,
Yang tadinya indah, titik - titik cahaya itu berubah,
Membentuk gerakan kilatan cahaya,
Gerakan yang seolah menimpaku bersama kegelapan yang menyertainya,
Yang membuatku bergidik ngeri,
Sebab...
Aku sadar,
Aku belum melakukan apapun,
Aku masih terdiam, terpaku di sini,
Bersama segala kemaksiatan yang kubuat.

Aku masih belum beranjak,
Dan mereka semakin runtuh,
Membuatku kehilangan arah dan tujuan,
Sementara aku semakin melunjak,
Tetap dalam belenggu diri jahiliyah yang tak kunjung diperbaiki.

Aku meringkik, layaknya keledai,
Betapa hinanya aku.

Rabu, 14 Oktober 2015

Untuk Kita, Semua Umat Muslim

Bismillahirrahmanirrahiim.

Waktu terus berputar,
Angin terus berhembus,
Matahari terus bergulir,
Burung – burung terus berterbangan,
Dunia masih berjalan sebagaimana mestinya,
Dan aku masih di sini, termenung.

Aku selalu bertanya,
Mengapa diriku di sini? 
Mengapa diriku diciptakan? Untuk apa?
Apakah jika aku hidup atau mati, keadaan akan terasa sama bagi dunia?
Siapa aku sebenarnya?
Dan ke mana tujuan hidupku?

Aku bersedih, merana, menyalahkan keadaan, menyalahkan dunia,
Aku tak mengerti diriku, aku tak bisa berdamai dengan diriku sendiri,
Kalut, putus asa, menyerah,
Sampai akhirnya Dia datang kepadaku,
Oh, bukan, selama ini aku buta akan kedatanganNya,
Aku mengabaikanNya, hingga tak menyadari bahwa apa yang aku rasakan selama ini adalah tanda cinta kasihNya kepadaku,
Rasa sakit, pilu, keputusasaan ini, menjadi pelembut hatiku untuk kembali kepadaNya.
Aku yang bodoh, tak pernah menyadari bahwa Dia selalu bersamaku,
Tak pernah mensyukuri skenario Sang Sutradara terbaik sepanjang masa.

Begitu hina diriku, di hadapanMu, Ya Rabb,
Berlumuran dosa dan keji yang tak tertahankan,
Kecilnya diriku, yang bahkan tak tampak di jagat raya ini,
Namun, aku dengan congkaknya mengakui bahwa aku memiliki semua itu,
Padahal semua yang ada di raga dan jiwa adalah milikmu,
Aku tak memiliki apapun,
Aku hanya memilikiMu,
Yang selalu setia denganku dalam keadaan apapun.

Ya Rabb, aku bersimpuh, bersujud kepadaMu,
Aku menyesali perbuatanku yang tak Kau ridhai,
Terimalah taubat ini, diri yang hina ini, yang selalu sombong untuk melangkah,
Terimalah aku menjadi salah satu kekasihMu,
Yang akan bersanding dengan kekasih sejatiMu nanti di rumah jannah yang kau ridhai,
Rasulullah saw., yang menanti kedatangan orang beriman, untuk masuk bersamanya,
Izinkan aku yang hina ini, untuk mensucikan diri di hadapanMu.

Sungguh, begitu nikmat luar biasa hidayah yang Kau berikan ini,
Kau memberikanku kekuatan,
Kau menopangku saat aku terjatuh, terpuruk,
Kau tak henti – hentinya memberikanku ‘hadiah’ kesehatan, kesempatan dan iman,
Kau tak pernah putus dalam mencintaiku,
Cinta yang hakiki, cinta yang menjadikanku yakin,
Cinta kepadaMu, Ya Rabb.

Puisi ini mewakilkan perasaan cinta kita, semua umat muslim, kepada Pencipta kita, Allah swt. Semangat berhijrah, bagi kita semua! Semoga pergantian tahun ini menjadi langkah istiqamah bagi kita untuk kembali kepadaNya. Selamat Tahun Baru Islam 1437 H! Barakallah!

Senin, 05 Oktober 2015

Maut

Bismillahirrahmanirrahiim.

Kawan yang dimuliakan Allah, sudahkah kita bersyukur hari ini? Sudahkah kita mengingatNya hari ini? Jika belum, ayo, bersama – sama berhijrah menuju kebenaran yang hakiki, jalan Allah, dimulai dari hal yang kecil ^^

Maut. Sesuatu yang datang tak terduga, tak seorangpun di jagat raya ini mengetahui kapan dirinya akan mati, menghadap Sang Illahi, kembali ke Sang Pencipta. Beberapa hari yang lalu, saat berangkat ke tempat praktik, aku dan temanku melihat kecelakaan terjadi di depan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Kami tidak melihat korbannya, tetapi posisi motor sejajar horizontal, berada di bawah bemper mobil yang rendah. Posisi yang cukup mengerikan. Semoga kejadian tersebut menjadikan korban dan semua pihak yang terlibat, termasuk kami yang melihat, menjadi lebih mengingat kematian, untuk lebih mempersiapkan bekal menuju akhirat. Aamiin.

www.ceritamu.com

Ya, kejadian seperti itu saja sudah membuatku bergidik ngeri. Bayangkan, sedetik kemudian kita meninggal karena tersedak makanan, atau mendadak serangan jantung, tanpa pernah mempersiapkan bekal amal shalih dan shalihah, yang akan menjadi penyelamat atau syafaat bagi kita di akhirat nanti. Bayangkan ketika kita mati di saat kita melakukan dosa, tidak mengingat Allah, bahkan di saat napas terakhir, kita tidak bisa melafadzkan Laa Ilahaillallah. Allahumma, Nauzubillah. Jangan sampai kita tergolong orang – orang yang seperti itu.

Sabtu, 26 September 2015

Media Sosial

Bismilllahirrahmanirrahim.

Media sosial. Ya, fenomena yang membooming saat ini di kehidupan masyarakat. Anda pasti memiliki, minimal dua, atau tiga media sosial. Dulu, sebelum zaman media sosial meledak seperti saat ini, terdapat beberapa media sosial ‘jadul’, yang memprakarsai lahirnya media sosial yang baru; Yahoo Messenger, Friendster, Skype, dan sebagainya. Dan yang kita gunakan saat ini antara lain Facebook, Blackberry Messenger (meskipun sudah diaplikasikan di android, tetap saja namanya Blackberry), Line, Whatsapp, Instagram, Path, Kakaotalk, Wechat, Snapchat, Google+, Beetalk, dan sebagainya. Anda memiliki semua itu sekarang? Ah, tentu, sangat memusingkan memiliki semuanya, padahal fungsinya sama; berkomunikasi via dunia maya. 

Tak hanya di kalangan menengah ke atas, trend media sosial inipun merambah hingga ke masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan harga hingga di bawah Rp.500.000,-, seorang tukang becakpun dapat mengantongi sebuah ponsel android murah. Antara gengsi dan kebutuhan, beda tipis. Ada yang menganggap, yang penting gaul karena sudah memiliki media sosial.

Instagram dan Line.
cyberpr.com dan www.prnewswire.com

Terpikirkan olehku, sejak berbagai media sosial membooming, semua orang mendadak jadi fotografer, mendadak jadi model foto, mendadak jadi sastrawan, mendadak jadi pencerita yang fasih, mendadak jadi artis karena banyak like dan comment, mendadak jadi ahli zikir akhir zaman, mendadak jadi penebar pesona yang memikat banyak laki – laki atau perempuan, mendadak jadi ajang pamer prestasi, mendadak semua orang mengetahui segala aktifitasnya, perasaannya, keluh kesahnya. Banyak mendadak, dan lama kelamaan menjadi kewajiban dalam mengeksiskan diri di dunia maya. Akupun salah satu insan yang mengalami hal tersebut. Cukup miris, menggelikan, memprihatinkan sekaligus menjadi bahan intropeksi diri bagi kita yang terlalu fanatik dengan dunia maya yang membuat kita lupa akan hal sederhana yang ada di hadapan kita; dunia nyata.

Jumat, 18 September 2015

From Allah, By Allah, For Allah

Bismillahirrahmanirrahim.

Apa kabar, Kawan? Semoga Anda selalu diberikan keberkahan Allah swt. Pencipta yang mutlak dicintai oleh semua makhluk, sebab Dialah sebaik – baiknya Pencipta, tak ada satupun hal yang dapat menandingiNya dari segi apapun.

Sejenak aku merenung, memikirkan kesibukanku belakangan ini. Aku… aku hanya merasa bahagia. Ya, selalu merasa bersyukur, dan berusaha untuk menepis keluhan – keluhan kecil yang tak seharusnya dipikirkan dan diucapkan. Godaannya memang banyak, tetapi ketika kita melewatinya dengan gigih dan sabar, InsyaAllah, kita akan merasa tenang dan damai.

Tower Crane Landmark Residence

Kawan, maafkan aku. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan denganmu. Sejak memasuki tingkat akhir, aktifitasku meningkat drastis. Namun, entah mengapa aku sangat menikmatinya. Menikmati kesibukanku. Bertemu dengan orang – orang baru, orang – orang yang menginspirasi, mendidik, memberi pelajaran, baik pengetahuan maupun mental. Setitik ilmu, di antara sekian banyak ilmu Allah di muka bumi ini, menjadi suatu kebermanfaatan bagiku, bagi umat manusia. Ilmu yang mahal, karena melangkahkan kaki untuk mencari ilmu saja terkadang terasa berat untuk dilakukan. Memerangi hawa nafsu, terutama malas dan mengantuk, menjadi perang diri yang tak pernah ada habisnya dalam mencari ilmu. Lalu, kukuatkan tekadku. From Allah, by Allah, for Allah. Bismillahirrahmanirrahim. Menjadi manusia berguna butuh perjuangan. Dan pengabdian diri kepada Allah swt. adalah hal utama yang mutlak untuk ditanamkan di dalam hati nurani, untuk menjadi manusia berguna. Sebuah niat lurus yang ditujukan hanya untuk Allah, dan menjadi acuan utama bagi kita dalam menjalani hidup. 

Efeknya luar biasa. Dari yang tidak bisa, menjadi bisa. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang tidak paham, menjadi paham. Dan bukan hanya ilmu yang didapat, tetapi juga keberkahan di dalamnya, sebab, ketika mempelajari sesuatu dengan berorientasi kepada Allah, kita akan melihat bahwa ilmu yang kita pahami adalah salah satu wujud kebesaran Sang Pencipta, yang diadaptasi dari alam ciptaanNya. Ya, melihat begitu banyak teknologi dalam berbagai bidang, menggambarkan betapa Maha Sempurnanya Allah. Begitu sempurna Allah menciptakan makhlukNya, sehingga manusia dapat mencapai tahap penemuan – penemuan yang luar biasa, padahal Einstein saja, hanya menggunakan sekian persen dari bagian otaknya dalam penemuan – penemuannya, lalu, bagaimana dengan kita? Mungkin lebih kecil. Bayangkan, ketika otak manusia digunakan dalam kadar lebih satu persen lagi, pasti penemuannya lebih luar biasa menakjubkan. MasyaAllah, semoga kita adalah orang – orang yang senantiasa bersyukur dengan keadaan diri. Aamiin.

From Allah, by Allah, for Allah. Tekankan itu pada diri kita, dalam segala aspek kehidupan kita, Kawan. Bila jiwa terusik dari mengingat Allah, berusahalah untuk kembali lagi. Jalan cahaya, jalan kemenangan, jalan yang diridhai, jalan yang lurus. Yuk, sama – sama berusaha istiqamah! Keep spirit!!

Senin, 14 September 2015

Hijrahku

Ketika semua sudut kota rantauan menjadi titik - titik kenangan, yang sama kuatnya seperti kota asal dengan berjuta sejarah masa kecil; Bandung membuatku jatuh cinta dengan segala pelajaran yang Allah berikan melaluinya, aku terpana akan pesona keindahan ciptaanNya yang terletak di dalam mangkuk pegunungan, yang kuhabiskan hampir setengah dari usia hidupku untuk mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Hai, Medan, bukannya aku tak mencintai kampung kelahiranku sendiri, aku hanya, menemukan sesuatu yang lebih baik di sini, dengan hijrahku. Aku tak akan menjanjikan apapun. Namun, ketahuilah, betapa aku merindukanmu. Tunggu aku, aku ingin pulang tidak dengan tangan kosong, melainkan banyak ilmu dan kebermanfaatan. Alhamdulillah, kau Bandung, aku mencintaimu di setiap jengkal jejak areamu. Dan kau Medan, aku merindukanmu. Home sweet home.

8 tahun hijrahku ke kota orang,
8 September 2015.

Senin, 07 September 2015

Dilema Masa Depan

Bismillahirrahmanirrahim.

Seperti yang Anda lihat sendiri di profilku, kini aku menduduki tingkat akhir bangku kuliah Pendidikan Teknik Arsitektur UPI. Tingkat akhir? Ya, tentu hal ini menjadi dilema tersendiri bagi mahasiswa sepertiku (Anda pasti akan, sedang, atau pasti pernah mengalaminya). Pendidikan iya, arsitektur iya. Lah, mau dibawa ke mana hubungan ini? Eh salah, maksudku, mau dibawa ke mana ilmu ini? Dengan ilmu yang masih sangat sedikit, masih sangat rentan untuk mengalami ‘lupa’, dengan pengalaman lapangan yang sangat jauh dari kategori ‘sering’, aku masih sangat ciut dalam memikirkan masa depanku nanti seperti apa. Bingung, akan seperti apa nantinya diriku di masa yang akan mendatang.

www.kubiktraining.com

Berbicara mengenai pendidikan, menurutku, hal itu suatu momok yang menakutkan. Mengapa? Mungkin, karena pengalaman organisasiku yang sangat minim, sehingga public speakingku jauh dari kategori baik. Aku masih sering gagap, sering kehilangan kata – kata saat di depan umum, bahkan bertanya pun rasanya masih ada belenggu yang melekat, jiwa serasa ditarik kembali ke dalam tubuh, saat ingin mengutarakan pendapat. Nah, apa hubungannya dengan pendidikan? Tentu, saat lulus nanti, aku akan gelar profesi sebagai guru. Menjadi guru ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, kita harus mampu mengenali karakter dari 40 siswa, apalagi jika hampir semua siswanya laki – laki (karena aku akan mengajar di SMK Teknik Bangunan). Itu baru sekelas, belum termasuk kelas lainnya. Menjadi guru, berarti harus menjadi pencerita yang baik, memiliki public speaking yang top dan andal. Tentu, ilmu dan skill pun menjadi modal yang sangat penting, sebagai bekal mengajar. Tak hanya itu, guru juga dituntut untuk menjadi teladan bagi para siswa, sehingga guru harus memiliki attitude yang baik dan sabar dalam menjalani tugasnya. Aku sendiri merasa berdosa, ketika mempelajari bahwa sulitnya menjadi guru, padahal saat bersekolah menengah dulu, hampir setiap kali ada saja celaan untuk guru, bahkan dosen (tetapi saat kuliah, esensi pengajar sangat berbeda dengan guru sekolah, dosen lebih dianggap killer oleh mahasiswa). Sungguh berdosanya diriku. Astagfirullahaladzim.

Join Us, Ukhti at Rumah Annisa!

Bismillahirrahmanirrahim.

Halo, Ukhti! Semangat belajar tidak hanya dibutuhkan di masa muda, tetapi seumur hidup kita. Sebagai muslimah yang baik, tentu kita harus banyak belajar, agar kita bisa menjadi insan, hamba Allah, istri dan ibu yang baik. InsyaAllah di Rumah Annisa, kita akan belajar banyak mengenai kehidupan di dunia ini, sekaligus mempersiapkan diri sebagai bekal di akhirat nanti. Khusus muslimah yang ada di Bandung, ayo ikuti kegiatan Rumah Annisa! Jalin silaturahmi, selalu belajar dari siapapun, dimanapun, kapanpun. Semangat istiqamah ^^

Baca info selengkapnya pada poster di bawah ini :)



Jumat, 04 September 2015

Barakallah Fii Umrikii

Bismillahirahmanirrahim.

Semakin belajar, maka semakin terlatih. Nah, gambar - gambar tidak jelas ini, merupakan karya hasil tak ada kerjaan di kost-an, sekaligus dalam program membahagiakan semua orang (entahlah, apa mereka bahagia atau tidak saat diberi ini hihihi, yang penting niatnya). Buat yang bertambah usia, berkurang pula umur kita, maka jadilah diri yang lebih baik lagi. Barakallah fii umrikii!!

Untuk yang lain, jangan khawatir, InsyaAllah, kalian akan dapat juga ^^

Rafida Putriana; 12 Desember 2014

Minggu, 30 Agustus 2015

Sekelumit Kisah Anak Seberang Pulau

Bismillahirrahmanirrahim.

Mungkin ini sekelumit curhatanku, tentang kerinduanku kepada rumah, pada malam yang syahdu aduhai ini untuk bertahajud. Namun, aku sedang berhalangan. Aku belum memejamkan mataku, karena aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati internet yang terakhir, di bulan ini, dari rumah keduaku di Bandung. Ya, aku harus kembali ke kost-an, siang nanti mungkin. Kembali ke pelukan kasur tipis, dengan dinginnya udara yang berhembus, dengan aktifitas yang sudah dua setengah bulan ini menghilang dariku; kuliah.

Beribu – ribu mil dari rumah, melewati berbagai pulau, lautan, bahkan samudera dan udara, aku merindukan keluargaku. Malam ini, aku kembali membuka twitter, kudapati adikku yang kedua, Novita Ariantie, memasang beberapa tweet tentangku, baik via Twitter maupun Instagram. Sudah lama aku tak membuka Twitter, dan aku agak kaget mendapat notifikasi itu. Tak kusangka, merekapun merindukanku. Hanya adikku yang ketiga, Putri Natasya, yang kurang bisa mengekspresikan perasaannya. Dia jarang sekali mengatakan bahwa dia merindukanku, meskipun aku tahu, bahwa dia memang merasakan itu. Sedangkan, adikku yang keempat, Sri Nindia Utami, dia sangat ekspresif, menyatakan bahwa dia sangat merindukanku.

Aku terlahir pada keluarga yang sederhana, bersama ketiga adik perempuanku. Aku adalah anak pertama. Ya, meskipun, setiap lebaran aku selalu dibelikan baju baru yang lebih banyak daripada adik – adikku, tetap saja, aku yang akan bertanggungjawab pertama kali, untuk keluargaku kelak. Aku yang disekolahkan tinggi – tinggi, lalu nantinya, InsyaAllah, aku akan menyekolahkan adik – adikku, melanjutkan perjuangan orangtuaku yang sudah mulai merenta akibat senjanya usia, meskipun ibuku masih berumur 42 tahun, sedangkan Bapak 54 tahun. Perbedaan usia yang sangat jauh. Tak hanya itu, aku ingin membalas jasa mereka, walaupun aku tahu, tak akan pernah bisa aku membalas, walau sebanyak apapun kuberikan. Kasih sayang mereka luar biasa, sedangkan aku, masih merengek meminta uang bulanan kepada Ibuku dengan nada kecewa. Ya Allah, Astagfirullah. Sungguh tak tahu berterimakasihnya aku ini.

Kamis, 27 Agustus 2015

The Spirit of Change!

Bismillahirrahmanirrahim.

Kawan, apa kabarmu? Semoga Allah selalu merahmati dan menuntun kita menuju hidayahNya selalu. Di sela ketidaksibukanku ini, aku ingin berbagi semangat dengan Anda. Semangat perubahan, perubahan menuju jalanNya! Yaaa, semangat!!!

Terpikir olehku, mengapa kita dilahirkan di dunia ini? Mengapa sebelum lahir, kita tidak boleh memilih menjadi siapa yang kita mau? Nah, jika disuruh memilih, siapa yang akan Anda pilih untuk menjadi diri Anda? Pasti yang berfigur baik, pintar, kaya, rajin, bukan? Ya, akupun mengakui. Pasti ingin yang baik – baik. Terkadangpun, aku selalu memikirkan, bagaimana rasanya terlahir di kalangan orang yang berada? Terlahir dari orangtua yang sangat Islami, atau bahkan orangtua yang berkeyakinan selain Islam? Pasti kehidupan kitapun berbeda dari kehidupan kita yang sekarang.

Namun, setelah menafakuri apa yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya, aku mengerti, mengapa aku dilahirkan sebagai ‘aku’, bukan ‘dia’, bukanpula ‘mereka’. Begitupula dengan Anda. Ya, semua yang terjadi adalah takdir, ketentuan Allah yang sudah direncanakan. Kita dikandung oleh Ibu, diberi nutrisi dari apa yang dikonsumsi ibu kita, dibawa kemanapun, kapanpun, selama sembilan bulan, oleh Sang Ibu tercinta. Sungguh, untuk para ibu di dunia ini, kalian sungguh mulia, kalian para ibu terbaik bagi kami. Aku mewakili anak – anak yang telah kalian besarkan di seluruh dunia, berterima kasih kepada kalian karena telah mengorbankan jiwa raga kalian untuk mengandung, melahirkan, memapah, mengurus kami dengan penuh kesabaran dan ketelitian. Tak ada satupun yang terlewatkan. Tak mampu kami membalas jasamu, tetapi dengan ridhamu, kami juga mendapat ridhaNya. Maka, kamipun akan melakukan yang terbaik semampu kami, untuk dirimu, untuk ridhaNya. Maafkan kesalahan – kesalahan kami sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati kalian, para ibu.

Senin, 24 Agustus 2015

Tak Ada Alasan untuk Tidak MencintaiNya

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, akhirnya, setelah bepergian selama beberapa hari berturut – turut, aku bisa mengistirahatkan tubuhku sejenak hari ini, dan menulis lagi. InsyaAllah, jika ada waktu, di lain kesempatan, aku akan menulis postingan perjalananku.

Ya, tepat pagi tadi, pukul 09.00, Minggu, 23 Agustus 2015, Rumah Annisa mengadakan silaturahmi. Rumah Annisa? Apa itu? Sejenis rumah liliputkah? Oh, bukan. InsyaAllah, pada postingan berikutnya, aku akan menampilkan profil Rumah Annisa, tetapi untuk sekarang, aku ingin men-share pelajaran pertama yang aku dapatkan pada silaturahmi Rumah Annisa ini.

Ayo, kita mulai!

Sebagai umat muslim, tentu kita mengetahui adanya Rukun Iman dan Rukun Islam. Nah, kali ini, yang dibahas oleh Teh Sammy (jika Anda lupa, baca http://nonawinda.blogspot.com/2015/08/manglayang-story.html terlebih dahulu), adalah salah satu Rukun Iman. Yang teratas dan tertinggi. Ya, beriman kepada Allah swt.

Dijelaskan pada Surat Tha Ha (20:14); ‘Sesungguhnya, Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.’

Dijelaskan pula pada Surat Muhammad (47:19); ‘Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang – orang mukmin, laki – laki dan perempuan. Dan Allah Mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.’

www.ozyle.com

Selasa, 18 Agustus 2015

Memantaskan Diri

Belakangan ini, pikiranku selalu terusik tentang hal yang satu ini; jodoh. Hei, ini bukan edisi baper ya, ini edisi muhasabah diri, InsyaAllah. Namun, aku tak hanya membahas jodoh, tetapi beberapa topik lain dalam posting-an ini. Izinkan aku berbagi cerita ya, semoga bermanfaat ^^

Silaturahmi. Aku baru mengerti esensinya akhir – akhir ini. Ketika aku kelimpungan menentukan tujuan hidup, Allah menggiringku untuk bersilaturahmi. Suatu hal yang kutakutkan sebelumnya, karena dulu aku merasa hidup terasing dan terbebani dengan bertemu orang lain.

Melalui silaturahmi ini, aku bertemu dengan orang – orang baru yang luar biasa, dan menemukan keluarbiasaan itu juga pada orang – orang yang pernah kutemui sebelumnya. Luar biasa, mengapa? Sebab melalui mereka, Allah menunjukkan hidayah-Nya sedikit demi sedikit, yang membuatku terpana, bahwa banyak detail kecil yang aku abaikan selama ini.

Betapa tidak, melalui kegiatan positif, yang membuatku dapat menyibukkan diri ketika libur panjang ini, aku merasakan inilah langkah awal untuk menuju hidup baru, hidup yang lebih damai tanpa rasa galau, hidup yang lebih dekat dengan Allah.

www.rumahnikah.com

Jodoh. Ya, entah mengapa, meskipun beberapa waktu lalu aku sudah mendapatkan petunjuk, aku masih merasa terikat dengan perasaan yang tak berujung pada makhluk Allah yang satu ini. Memang berkurang, tetapi belum sepenuhnya lepas. Namun, rasanya jauh lebih baik, karena ketika mengingatnya, aku menangis dan menyadari bahwa aku tak seharusnya lebih mencintai makhlukNya daripada Dia. Aku mulai sadar hakikat cinta yang sebenarnya.

Minggu, 16 Agustus 2015

Manglayang Story

Oke, sebelum hari berganti, sebelum mata terlelap dan aku tak bisa berpikir lagi, aku ingin menulis sebuah petualangan. Ya, tepat hari ini, Sabtu, 15 Agustus 2015. Ingatanku masih segar, tetapi kakiku mati rasa. Namun, petualangan hari ini merupakan salah satu hal yang menakjubkan dalam hidupku.

Berawal dari silaturahmi, ke rumah sahabat semasa SMA di 22 dulu, Desy Aisyah Wulandari. Dari sana, kami saling sharing mengenai pelajaran hidup, mengenai Islam. Walaupun sedikit demi sedikit, aku berusaha memperbaiki diri.

Keluarga Desy merupakan keluarga yang luar biasa, menurutku. A’ Ujang, kakak Desy yang sekarang menjadi dosen di salah satu Institut swasta ternama di Bandung, merupakan salah satu pencetus lembaga yang berkecimpung dalam bidang sosial. Maka, dengan lembaga itu, beliau beserta teman – temannya mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan. Dan aku salah satu yang menjadi bagian ‘orang lain’ tersebut. Awalnya, aku selalu menolak ajakan mereka, karena tugas kuliah begitu membelitku, tetapi sejak bulan Ramadhan kemarin, karena tidak ada kegiatan apapun, aku memutuskan untuk ikut serta dalam kegiatan sosial tersebut.

Sejak itu, aku selalu mengiyakan ajakan mereka, karena mereka sangat friendly dan hangat pada orang baru. Hampir setiap event, ada saja teman baru yang kukenal, yang semakin membuatku berpikir, betapa pentingnya arti silaturahmi. Aku menikmati saat – saat bersama mereka, saat di mana aku belajar mengenal arti persaudaraan sesama muslim. Bahkan, mereka tak segan memberi motivasi, berteman dengan ringan dan terbuka, sehingga, yang tadinya pemalu pun, akan mulai terbuka dengan sendirinya.

Seminggu yang lalu, aku diajak Desy untuk bersilaturahmi lebaran ke rumahnya. Aku mengira ada event tertentu, ternyata tidak. Namun, tak hanya aku yang datang, Teh Sammy, teman Teh Eksel (istri A’ Ujang), datang juga. Awalnya, kami tidak saling kenal, lalu, aku bertanya namanya. Dan, dari perkenalan itu, keluarlah motivasi, saling sharing, banyolan, bahkan cerita – cerita petualangan. Maka, hiking menjadi salah satu topik pembicaraan kami. Ternyata Teh Sammy cukup berpengalaman dalam petualangan ini. Ahaaa, akupun memiliki mimpi untuk bisa hiking suatu saat nanti. Exactly! Dari silaturahmi inilah, kami memutuskan untuk hiking ke Gunung Manglayang, Jawa Barat.

Sabtu, 08 Agustus 2015

STP Parahyangan - Antara Perjuangan dan Impian

Liburan kuliah selama dua bulan setengah ini, cukup membuatku bingung. Aku hanya diam di rumah, tanpa pekerjaan yang berarti, padahal sudah berusaha mencari, tetapi mungkin Allah menyuruhku istirahat, dari segala kegiatan, agar semester akhir nanti, pikiranku benar – benar fresh dan siap untuk beraksi kembali dengan segala keruwetan kuliah. Semangat! Oleh karena itu, untuk memanfaatkan waktu luang yang sangat banyak ini, aku ingin berbagi kepada Anda, dan menulis sebanyak – banyaknya selagi aku sempat, ditemani kesunyian dan lagu – lagu menyentuh dari Bee Gees, The Carpenters, Michael Buble, dan kawan – kawan.

Pada posting-an kali ini, aku ingin menge-share, bukan bermaksud sombong, tetapi ingin berbagi, dan siapa tahu ada yang berbaik hati mengkritik, maklum masih amatir, bahkan setelah ahli pun, kritik selalu diperlukan; tugas kuliahku pada Semester 6 lalu. Studio Perancangan Arsitektur III, yang aku kerjakan dengan peluh, tangis, biaya, pengorbanan dan perjuangan yang cukup berat bersama teman – teman seperjuanganku. Hasilnya? Alhamdulillah, B. Tak ada yang sia – sia memang. Semuanya berbuah manis, asal dikerjakan dengan niat yang tulus dan usaha yang sungguh – sungguh. Dan yang paling penting, doa ^^

Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Kami ditugaskan untuk merancang bangunan pendidikan, dan ini pertama kali, tugas full-digital yang diberikan oleh dosen kami, Prof. Dr. Mokhamad Syaom Barliana, M. Pd, M. T. Ada yang merancang SD, SMP, SMA, SMK, Sekolah Tinggi Bahasa, Pusat Rehabilitasi, dan lain – lain. Setiap kelompok terdiri dari tiga hingga empat orang. Kelompokku; aku bersama Diah Rizky Kartika dan Herlina Juniati, ditugaskan merancang Sekolah Tinggi Desain (STD). Namun, karena di Bandung, hanya ada satu referensi bangunan STD, itupun bangunan kecil dan tidak cukup untuk dijadikan referensi, maka kami bernegosiasi kepada dosen pembimbing kami, Suhandy Siswoyo, S. T, M. T, untuk merancang bangunan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP). Selain lebih terbayang, lokasi STP di Bandung, yang paling dekat dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), masih berada di jalan yang sama dengan lokasi UPI, Jalan Setiabudhi; STP Bandung, atau yang lebih sering dikenal dengan NHI. STP Bandung merupakan salah satu STP terkemuka di Indonesia, yang menghasilkan lulusan terbaik dalam bidang pariwisata dan perhotelan.

So, we were here! Bergelut dengan lima analisis, yang sempat membuat kami hanya tidur beberapa jam dalam beberapa hari; konseptual, programmatik, formal, kontekstual, dan utilitas infrastruktur. Analisis ini memakan waktu yang lama, karena banyaknya koreksi sana sini, baik dari Pak Barli maupun Pak Suha. Diskusi kelompok yang cukup ruwetpun menjadi salah satu alasan mengapa analisis tersebut dikerjakan sangat lama. Namun, Alhamdulillah, kami dapat menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu, dengan aplikasi CorelDraw dan SketchUp yang sangat membantu. Diah bertugas menghitung dan mencari data, Jun bertugas membuat masterplan di SketchUp, sedangkan aku bertugas membuat analisisnya di CorelDraw. Ini baru tahap awal. Tahap selanjutnya lebih berat lagi.

Bahagia

Hal ini membuatku ingin menulis. Menuangkannya dalam bahasa cerita.

Bahagia. Suatu perasaan damai dalam hati. Suatu hal yang didapatkan dari berbagai situasi dan cara. Sesuatu yang dapat ditularkan kepada orang lain, dapat berupa tangis haru, gelak tawa, atau senyuman yang tulus.

www.kaskus.co.id

Setelah hidup selama 20 tahun, meskipun aku tak terlalu berusaha untuk menemukan apa makna kebahagiaan yang sebenarnya, aku menemukannya kini. Aku memang selalu menjalani apa adanya. Jika tak dituntut, aku malas melakukannya. Salah satu kebiasaan buruk, tetapi Allah selalu menunjukkan kasih sayang dan hidayah-Nya. Alhamdulillah.

Aku hidup dan dikelilingi oleh orang – orang yang hebat. Orang – orang terkasih, yang ditunjuk oleh Allah, dan memberikanku pelajaran hidup yang berharga. Memang, terdapat masa – masa sulit, bahkan cukup lama, saat aku dalam masa pencarian jati diri. Namun, setelah melaluinya, ada sinar kehidupan yang cukup indah. Aku baru menyadarinya saat ini, saat seorang sahabat mengingatkanku. Betapa kurang bersyukurnya aku selama ini, mengeluh hal – hal kecil dan selalu berprasangka buruk terhadap semua hal.

Ternyata hal sederhana bisa menciptakan kebahagiaan. Bersyukur. Ya, dalam setiap keadaan. Membahagiakan orang lain juga. Saran dari seseorang yang aku kagumi. Saat aku menjalaninya, aku mendapati hatiku yang damai, bibirku tersenyum, karena membuat orang lain bahagia dengan ikhlas. Hanya berpikir memberi, tanpa pernah mengharapkan pamrih. Terima kasih untuk saranmu. Alhamdulillah, aku dipertemukan seorang sahabat baik sepertimu, yang mengingatkanku di kala aku salah (dan maafkan aku, aku sering membantah nasihatmu, hihihi).

Lain dengan perasaanku. Kini, hatiku sedang meraba dalam kegelapan. Aku telah menemukan secercah cahaya kecil. Aku tahu cahaya itu, tetapi aku masih harus berjuang untuk meraih cahaya itu.

Ya, hatiku sedang jatuh. Jatuh cinta kepada seseorang, yang sangat aku dambakan. Kami bertemu, dan penantianku selama tiga tahun ini, terjawab sudah.

Senin, 03 Agustus 2015

Masa Kecil

Rasanya sudah lama tak menyentuh blog ini. Tak menulis. Tak berpikir apa yang harus dituangkan dalam sebuah artikel. Namun, sebenarnya aku sering menulis untuk pribadiku sendiri. Selamat datang kembali! Entahlah, meskipun mungkin, tak ada yang pernah membaca blog ini, aku tetap mempertahankannya. Menulis menurutku adalah suatu kegiatan yang kutujukan pada diriku sendiri. Hanya beberapa faktor yang membuat aku menulis untuk orang lain, seperti tugas atau tuntutan kerja. Sebab, menurutku, menulis berarti mencurahkan segala hati dan pikiran kita untuk tulisan itu sendiri, menceritakan rahasia dan beban yang tak mampu kita tahan sendiri, karena terkadang orang – orang memang tak bisa dipercaya. Hanya Allah yang tahu, entahlah.

Manusia galau. Itulah julukan yang kuberikan kepada diriku sendiri. Selalu marah terhadap hal yang tak jelas. Selalu jatuh dan jatuh ke hati yang belum tentu akan menjadi jodohku nanti. Selalu tidak mensyukuri apa yang telah kumiliki. Selalu membandingkan hal yang lebih baik terhadap diriku; minder. Selalu mendengarkan lagu – lagu sedih yang membuatku semakin bergalau ria dan berakting seolah ada suatu adegan sedih saat itu. How is pitiful my life.

Suatu cerita, tentang masa kecilku yang kuanggap menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Sabtu, 28 Maret 2015

Love – What a Stupid Feeling It Is

Cinta. Mungkin ada yang bilang, masih terlalu dini untuk membahas hal tersebut, jika baru masuk ke tahap dewasa awal (umur 20-an). Tetapi sebagian besar orang, pada umur tersebut, menanggapi serius hal ini. Aku tidak tahu, apa aku serius atau tidak menanggapinya untuk saat ini. Yang jelas, cinta membuatku merasakan warna – warni kehidupan ini.

Banyak teori mengenai cinta. Setiap makhluk Tuhan, pasti mengalami cinta, bahkan barang buatan manusia sekalipun. Dengan cinta, kehidupan ini ada. Karena di dalam cinta, selain ada suka, kebahagiaan, kedamaian, kasih sayang dan lainnya, cinta juga dapat membuat duka, frustasi, luka, trauma, kebencian dan lainnya. Cinta berarti memberi dan menerima. Cinta berbicara soal pengorbanan dan saling menerima apa adanya. Cinta bukan hanya antara dua insan yang merasakan getaran – getaran tertentu, tetapi cinta menyangkut semua aspek kehidupan. Masih banyak lagi teorinya, tetapi setidaknya, itulah yang aku dengar dan aku baca, dan yang bisa aku tulis di artikel ini.

Cinta? Lalu, menurutku, apa itu cinta? Ya, aku akan menceritakan sedikit kisah nyata dalam hidupku. Cinta bagiku adalah ketulusan, bagaimana kita dapat memandang hal – hal yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai sebuah kebaikan dan ketulusan. Dan bagaimana masalah, yang merupakan bagian dari cinta, menjadikan kita semakin terlatih untuk menghadapi kehidupan yang fana ini, kita menjadi orang yang lebih baik, kuat dan tulus menjalani hidup.

Dalam kehidupan asmara, mungkin aku masih terlalu dini untuk ini, tetapi aku telah mengalami beberapa kali perasaan kepada beberapa lawan jenis. Dan menghadapi yang satu ini ternyata sangat sulit dari yang kuduga. Tak sesimpel apa yang aku pikirkan. Lebih rumit daripada yang masalah – masalah lainnya.