Sabtu, 27 Desember 2014

Sebuah 'Arti' di Balik Kehidupan

This is life. 
Hidup ini keras. 
Hidup ini sulit. 
Hidup ini indah. 
Hidup ini tak ada artinya, aku ingin mengakhirinya. 
Aku tak mau mati, tetapi aku juga tak mau hidup seperti ini. 

Begitu banyak anggapan manusia mengenai kehidupan. Jadi, apa itu kehidupan? Apa maknanya? Jawabannya, tergantung. Tergantung setiap manusia yang menjalaninya. Ada yang menganggap bahwa hidup ini indah, hanya dengan sebuah gerobak, yang dipenuhi dengan botol plastik untuk dijual kembali, hanya dengan mengonsumsi makanan seadanya setiap hari, dengan pakaian yang tak pernah tergantikan dan hanya merasakan air membasahi tubuh saat hujan tiba. Mereka tetap menjalani hidup dan menganggap bahwa hidup ini memang harus begini adanya. Mereka selalu bersyukur.

Adapula yang memiliki keluarga yang bercerai berai. Mereka menganggap hidup ini kejam, karena memisahkan keluarga mereka sehingga saling timbul kebencian, keinginan untuk balas dendam, tak senang melihat pihak lain senang dan banyak lagi. Mereka saling menjatuhkan, berusaha keras mendapat yang terbaik untuk diri sendiri, tetapi tak berusaha memahami bagaimana perasaan orang yang dihadapinya, meskipun itu sedarah dengannya. Hidup penuh dengan kebencian, menurut mereka.

Di sisi lain kehidupan, adapula yang bergelimangan harta, bermandikan jutaan uang rupiah, bahkan dolar setiap detik hidupnya, menikmati fasilitas liburan mewah ke manapun mereka pergi, menyantap makanan termahal dari seluruh dunia, mengendarai kendaraan seharga triliyunan rupiah. Bayangkan, betapa menyenangkannya hidup mereka. Ada yang memanfaatkan kesempatan kemewahan itu untuk menguasai dunia; menurut mereka, hidup ini tentang memikirkan cara bagaimana dapat menguasai semua hal tanpa terkecuali. Ada yang membiarkan dirinya bergelimang harta, tetapi hatinya terasa hampa, tak merasa gembira sekalipun makan dengan piring yang terbuat dari emas; menurut mereka, hidup ini penuh dengan kehampaan. Sekalipun dikelilingi oleh harta karun. Ada yang berpikir untuk mendermakan setengah, bahkan hampir semua yang ia miliki, karena ia merasa tak berhak atas semua itu; menurut mereka, Hidup ini adalah ketidakbahagiaan atas semua yang ia peroleh. Namun, adapula yang mendermakannya dan memanfaatkannya untuk membuat orang lain memiliki pekerjaan, mengembangkan potensi yang ada pada diri orang lain; menurut mereka, hidup adalah bagaimana cara agar apa yang ia miliki, baik itu harta, pemikiran, keluarga, harus bermanfaat bagi orang lain.

Tak hanya itu, adapula yang memulai segalanya dari titik nol, di mana perjuangan benar – benar menjadi sahabat yang berarti di masa – masa sulit. Mereka tak pernah berhenti untuk bermimpi, berambisi, berharap. Mereka adalah orang – orang yang menganggap bahwa hidup merupakan sebuah pilihan; hancur atau bangkit.

Cerita – cerita di atas adalah segelintir prosa kehidupan yang telah digoreskan manusia – manusia di muka bumi ini. Entahlah, mungkin makhluk yang menyerupai manusia di galaksi lainpun mengalami hal yang sama dengan kita. 

Lalu, bagaimana denganku? Jika Anda tak mau tahu, cukup berhenti membaca sampai di sini.

Aku menganggap, bahwa hidup menyangkut antara rencana dan spontanitas. Selalu ada prioritas dan ekspektasi terhadap hasil dari rencana tersebut. Namun, bagaimana rencana itu berjalan? Terkadang, ekspektasi atau harapan yang terlalu berlebih dapat membuat manusia menyerah, karena memiliki mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih. Terlalu rendahpun bukan berarti baik, kita akan malas melakukan apapun, karena kita tidak mempunyai motivasi, goal, untuk menjalankan rencana tersebut.

Prioritas. Menyusun hal yang paling penting, hingga hal yang sangat tidak penting. Apa yang terjadi? Spontanitas terkadang menjadi pengganggu bagi prioritas. Di saat kita tidak membutuhkan sesuatu, kita membelinya karena harganya yang terlampau murah, karena ingin punya apa yang belum kita punya, iri dengan orang lain, sehingga merasa harus memilikinya juga, karena jatuh cinta pada pandangan pertama, entah karena warnanya, gambarnya dan banyak lagi. Semua hal tersebut berlaku. Benarkah? Aku pernah, bahkan hingga sekarang mengalami hal itu.

Lalu, rencana. Menghubungkan ekspektasi dan prioritas dalam menyusun rencana, menjadi hal yang terbaik dalam menjalani hidup. Namun, lagi – lagi spontanitas berbicara. Dia menolak mentah apa yang tertera di rencana tersebut.

Aku berpikir bahwa, spontanitas menjadikan hidupku lebih bermakna, lebih berwarna. Bagaimana tidak? Meskipun aku telah menyusun beribu – ribu rencana kecil maupun besar dalam hidupku, spontanitas selalu ada di sana. Contohnya, aku berencana untuk menjadi seorang arsitek yang andal di kemudian hari. Aku merencanakan hal itu saat aku masih kelas XII SMA. Namun, apa yang terjadi? Aku malah terjebak dan masuk ke Departemen Pendidikan Teknik Arsitektur, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kata pendidikan seolah menjadi suram bagiku, karena aku bukan diarahkan menjadi seorang arsitek, tetapi menjadi guru sang calon arsitek nantinya. Aku merasa sangat putus asa, pada awalnya. Dan UPI adalah universitas yang sangat tidak aku inginkan dulu, meskipun aku tahu kampus tersebut merupakan salah satu kampus yang besar di Indonesia. Lalu, bagaimana setelah aku masuk ke sana?

Jawabannya adalah, aku sangat bersyukur. Meskipun banyak penolakan dalam diriku pada awalnya, dan hingga sekarang masih ada segelintir penyesalan, tetapi aku semakin terbiasa dan malah menemukan hal – hal yang baru dalam kehidupanku. I found my new family, my new friends, my new experience. Banyak hal yang berubah karena itu, dan aku merasa menjadi manusia baru, yang bebas dari belenggu paradigma konservatif dan lemah. Walaupun demikian, adapula masalah yang ditimbulkan. I can’t trust anyone, I’m afraid for falling in love, I’m confused for my future.

Berwarna kan? Itulah yang dilakukan spontanitas. Ada sisi baik, adapula sisi buruk. It means we must not in the right way. Because nobody is perfect. Tak ada yang abadi. Aku ingat, salah satu sahabat terbaikku (long time no see, and I miss you), kurang lebih mengatakan hal ini, “Hidup ini seperti lampu. Dan dalam rangkaian lampu, terdapat baterai. Baterai memiliki kutub positif dan negatif. Jika sakelar dinyalakan, maka lampu akan menyala. Namun, bayangkan, apa yang terjadi jika kedua kutub sama – sama positif atau sama – sama negatif? Lampu tidak akan menyala. Ya, sama seperti kehidupan. Kutub positif adalah orang baik, kutub negatif adalah orang jahat. Lampu adalah kehidupan. Ketika di kehidupan terdapat orang baik dan orang jahat, maka kehidupan akan terus berlangsung. Namun, jika hanya ada orang baik di dunia ini, atau hanya ada orang jahat di dunia ini, roda kehidupan tidak akan berputar. Bukan berarti menyuruh untuk berbuat buruk atau melakukan kejahatan, tetapi memang sudah kodratnya kehidupan seperti itu. Kita hanya dapat berusaha semaksimal potensi kita untuk mempercayai apa yang kita yakini dan menjalaninya.”

Jadi, apa kesimpulannya? Menurutku, jalani saja apa yang ada di hadapan kita. Tetap berencana, tetapi jangan pula takut akan spontanitas, karena hidup akan lebih berwarna dan bermakna dengan kehadirannya. Tetap tidak berhenti belajar dan meyakini apa yang terbaik bagi kita, karena, setiap orang berhak memilih apa yang terbaik untuk hidupnya.

Entahlah, mungkin Anda menganggap, bahwa semua yang aku paparkan tadi hanyalah bualan belaka. Namun, tergantung siapa yang membacanya, setiap orang memiliki persepsi dan paradigma masing – masing mengenai kehidupan. I just tell you what I think and I feel. Thanks for read.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar