Rabu, 05 November 2014

Santolo Story

Santolo. Sebuah pantai yang terletak di sisi selatan Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pesona keindahannya yang begitu indah dan menciptakan cerita tersendiri bagi pengunjungnya, membuat banyak orang berbondong – bondong berwisata ke tempat ini, termasuk kami. 



Ya, kami adalah 13 orang pencari cinta dari Pendidikan Teknik Arsitektur (PTA), Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Setidaknya itu yang dikatakan oleh editor film pendek yang berjudul Santolo Movie, M. Fadhel Rabbani. Perjalanan dimulai sejak 24 Oktober 2014, pukul 15.00 WIB. Begitu mendadak, Dan semua berawal dari mobil bak terbuka. Pick up, yeah! Sepanjang jalan, kami dilihat oleh orang – orang. Malu, tapi kocak. Kami benar – benar beratapkan langit, menyatu dengan mendungnya Bandung saat itu. 


Saat itu belum merupakan perjalanan yang sesungguhnya. Dengan pick up tersebut, kami akan mengambil mobil sewaan yang ada di rumah sanak saudara Fajar Santoso. Namun, tebak apa yang terjadi! Mobil tersebut digunakan oleh orang lain dalam beberapa waktu. Mengapa? Sebab sebelumnya baterai handphone Fajar sedang low, dan tak dapat dihubungi, sehingga mereka mengira mobil tersebut tidak jadi disewa.

Finally, we wait for the cars. Hingga pukul 18.30 WIB, kedua mobil tersebut tiba. Sebelumnya, kami ngebaso dulu. Saya masih ingat dengan plang basonya; LANANG. Brand yang cukup menarik untuk berjualan baso. Simpel, tradisional dan mudah diingat.

Setelah kenyang dengan baso Lanang, kami menaiki mobil yang kami sewa, Rush dan Grand Max. Formasi penumpang adalah sebagai berikut.
Rush:
Baris ke 1: Fadhel, M. Aqlida Muslim
Baris ke 2: Nia Namira Hanum, Kartika Ismi Alawy, Rafida Putriana.

Grand Max: 
Baris ke 1: Fajar, Randi Gustryandi
Baris ke 2: M. Andi Gopar, Hikmat Saputra
Baris ke 3: Nona Winda (saya), Herlina Juniati dan Kurnia Cahyaningtyas. P

Tak dapat dielakkan lagi, macet harus dihadapi. Di mana – mana. Sepanjang jalan. Kami menggunakan rute yang aneh, dan membuat kami melalui jalan yang sama kedua kalinya. Ini terjadi karena kami harus menjemput satu personil lagi, yang akan ikut ke Santolo, Marissa An Nisa. P. K. Kami harus menjemputnya di daerah Ujungberung, dan itu artinya, kami harus putar balik melalui jalan yang cukup jauh. Fajar, sebagai supir, mengajukan syarat agar Marissa membelikannya sebungkus nasi goreng. 

Setelah bertemu dengan Marissa, bukan hanya Fajar yang mendapat nasi goreng, tetapi penumpang juga. Ada tiga bungkus untuk yang lain. Baiknya Marissa. Terima kasih, Mar!

***