Jumat, 19 September 2014

Salamku untukmu, Sahabatku

Ketika aku menulis catatan ini, aku tahu betapa rindunya aku pada seseorang. Yang dulu selalu menemani dalam keadaan suka maupun duka. Yang dulunya begitu menyebalkan, tetapi sangat aku nantikan kehadirannya. Dia yang dulu pernah aku suka, dan bahkan hingga kini aku tetap menyukainya, sebagai seorang sahabat, seorang kakak, seorang pendengar yang baik. Aku merindukannya.

Sudah setahun lebih kami tidak berkomunikasi. Banyak perubahan yang terjadi dan aku ingin menceritakan semuanya padanya. Dia merupakan pendengar yang baik, filsuf yang hebat, psikolog yang andal, pelindung sejati, penghibur di saat lara dan… dia sahabatku tentunya. Sahabat yang terbaik dari yang terbaik.

Ingin sekali rasanya bercerita panjang lebar mengenai perubahan – perubahan yang belakangan ini terjadi. Apa tanggapannya? Solusinya? Pengibaratannya? Ya, dia dapat mengibaratkan atau memberikan perumpamaan – perumpamaan tentang kehidupan. Yang paling aku sukai adalah karena perumpamaan tersebut dikaitkan dengan ranah sains.

Aku sangat menyukai saat dia berbicara mengenai banyak hal, sebab wawasannya begitu luas, sikapnya begitu baik dalam menghadapi aku yang bodoh ini. Ya, tentu saja, kami sangat bertolak belakang. Dia begitu jenius, dengan pemikiran – pemikirannya yang sangat brilian, dia mempunyai teman – teman yang sama jeniusnya dengannya. Sedangkan aku? Jika orang Sunda gaul pasti akan berkata ‘da aku mah apa atuh’. Tak ada yang istimewa. Aku hanya anak rantauan yang sedang berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik di tanah orang.

Hai, sahabatku. Aku hanya ingin kamu tahu, aku tidak pernah sedikitpun membencimu, takkan sekalipun. Aku hanya… hanya… merasa malu, karena selalu mengeluh di hadapanmu, selalu menangis tersedu, selalu mengadu, sehingga aku memilih untuk menjauh darimu. Namun , kini aku sudah lebih dewasa dan tegar, lebih memahami apa dan bagaimana hidup ini terus berjalan. Aku tak akan berusaha untuk menjadi sama sepertimu. Namun, aku berusaha untuk menjadi diriku sendiri, dengan perjuanganku, pengorbananku dan peluhku untuk lebih baik lagi. Aku selalu merindukan persahabatan kita. Semoga kamu bahagia, di manapun dan kapanpun kamu berada, begitupun aku.


Salam rindu,


Sahabatmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar