Sabtu, 13 September 2014

Kemudahan

Setiap malam, langit selalu memancarkan perasaannya. Dan kali ini, saya akan menceritakan suatu perasaan yang sangat membingungkan bagi saya, dan menyulitkan. 

Manusia selalu merasa benar, di manapun dan kapanpun mereka berada, tanpa menyadari siapa diri mereka sesungguhnya, dan bagaimana mereka hidup. Tak ada yang disesali, pada awalnya, tetapi selalu di akhir. Namun, manusia selalu merasa dirinyalah yang terhebat, merekalah yang berkuasa, merekalah yang harus didahulukan, merekalah yang harus terpenuhi keinginannya. Sungguh, manusia memang tak pernah puas. Ketamakan manusia di dunia ini menjadikan bumi dalam bahaya, dengan eksploitasi berbagai sumber daya alam yang semakin menipis di dunia ini. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Yang pintar mengelabui yang awam, yang awam membeli semua produk penipuan yang pintar. 

Hakikat manusia yang sebenarnya adalah makhluk sosial, bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, dan tentu membutuhkan orang lain. Namun, hal ini justru semakin dipisahkan dengan kecanggihan teknologi, yang membatasi interaksi sosial tersebut. Bahkan, yang bertatap muka sekalipun, tak pernah lepas dari handphone, yang saat ini menjadi kebutuhan wajib setiap orang. Lalu, apa artinya tatap muka? Apa artinya bersilaturahmi? Apa makna sebuah pertemuan dengan realita yang seperti ini? 

Tentu, saya merupakan salah satu manusia yang mengalami hal tersebut. Memang, dari segi kepraktisan dan kemudahan, teknologi menjadi sebuah jalur yang menyenangkan untuk didalami dan dipelajari. Tapi dari sisi kemanusiaan? Banyak orang yang mengabaikan lawan bicaranya, karena terlalu asyik dengan media sosialnya. Banyak ibu yang membiarkan anaknya bermain sendiri, tanpa mempedulikan anaknya yang ingin bermain dengannya. Banyak teman atau sahabat yang merasa kecewa, karena ceritanya tak pernah diberi tanggapan, bahkan didengar. Banyak orang yang merasa hanya menjadi kambing congek saat bertemu dengan sahabat atau orang yang disayanginya. Banyak yang memiliki berjuta – juta teman di media sosial, tetapi sosialisasi di kehidupan nyatanya sangat buruk. Banyak energi listrik yang terbuang, untuk sebuah televisi yang menemani dirinya bermedia sosial ria. Banyak orang yang mengalami kecelakaan hanya karena membalas sebuah comment di media sosial. Begitu banyak anak yang tidak mengetahui mainan tradisional dalam kehidupan nyata. 

Begitu banyak, banyak sekali hal – hal yang terjadi karena fenomena teknologi ini. Saya bukan men – judge bahwa teknologi itu salah, bukan. Saya pun pengguna teknologi saat ini, hingga kemudian hari, walaupun tidak secanggih yang lainnya. Namun, yang saya rasakan adalah, bahwa meskipun saya bersama orang lain dalam suatu ruangan, saya merasakan jarak yang jauh, yang memisahkan kami. Semua orang sibuk dengan perangkat teknologinya masing – masing. Begitukah makna dari manusia sosial saat ini?

Saya berharap, semua orang dapat bersikap bijak dalam menggunakan fasilitas kemudahan yang ada saat ini; TEKNOLOGI. Semoga kita menjadi manusia yang berguna dengan adanya kemudahan ini, bukan menjadi manusia yang apatis dengan realita di sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar