Sabtu, 02 Agustus 2014

Sejam di Halte

Kali ini aku ingin menceritakan sesuatu. ‘Sejam di Halte’. Judul yang sederhana bukan? Waktu yang sangat singkat, namun begitu bermakna. Menguak rahasia yang terhimpit selama ini. Melepas belenggu yang mengikat erat. Membebaskan jiwa diri yang terkekang lama. Aku lakukan itu. Yes, I did it.

Pembicaraan tak disengaja antara dua perempuan yang pernah tinggal satu rumah, di tempat yang tak diduga. Kami bercerita tentang keluarga, hubungan darah, silaturahmi, persaudaraan, didikan, larangan dan perasaan. Begitu banyak kebenaran yang belum terungkap selama ini, prasangka buruk dan sikap saling menjatuhkan di antara kedua belah pihak. Di halte itu, semua terkuak. Hanya sejam. Namun, maknanya begitu berarti bagi keduanya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Aku tak bisa membacanya. Namun, dengan duduk berdua di halte itu, dan menguak semuanya, belengguku lepas. Lepas. aku menyatakan ketakutanku selama ini. Dan aku lega karena dapat mengakuinya.

Masa depan dapat diraih dengan menghadapi apa yang ada di depan mata. Aku berusaha. Aku berusaha menjadi lebih baik lagi, meletakkan harapanku setinggi – tingginya, menjadi diriku sendiri. Ya aku sedang berusaha. Bukan berarti aku harus mencapai kesempurnaan. Namun, bahagialah yang harus aku raih. Tak hanya aku, tetapi kita semua.

I wanna say thanks to Allah, my mom and dad, my uncle and aunt, all of my families, and all of my teachers and friends. You give many of colours in my life, goodness, love, passion and spirit for my life. Thank you so much.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar