Senin, 14 Juli 2014

Pilihan

Semua berawal dari niat. Percaya ga, dengan kalimat yang satu ini? Jadi, kalau ga ada niat, kita ga bisa mencapai sesuatu? Gitu?

Percaya ga, dengan yang namanya keberuntungan? Saya sih, ga begitu percaya. Toh semua yang kita dapatkan memang sudah sepantasnya kita dapatkan, karena semua itu bergantung dari kerja keras, doa dan pilihan yang kita tentukan.

Ngomong - ngomong soal pilihan, saya mau cerita tentang pilihan - pilihan saya, dulu. Banyak pertimbangan, banyak hal yang harus dikorbankan, banyak hal baru yang saya jumpai, dan itu sudah pasti, jika saya memilih sesuatu yang tak biasa saya jalani.

8 September 2007 adalah tahun, saat saya menginjakkan kaki di Bandung pertama kali. Setahun sebelumnya, saya memang sudah diberi pilihan itu, namun saya mengabaikannya. Namun, saya berubah pikiran, karena beberapa alasan.

Mulai saat itu, semuanya berubah. Pindah sekolah, jauh dari orangtua, jauh dari kampung halaman, rumah baru, kamar baru, suasana baru, tetangga baru, semuanya baru, dan perlu waktu untuk beradaptasi dengan baik. Dalam beberapa hari sejak kedatangan saya di Bandung, saya terserang flu. Maklum, kaget dengan cuaca Bandung yang dinginnya wow banget. Hoho.

Ga mudah memang. Saat - saat pertama, saya terkena homesick. Belum terbiasa, mungkin. Masih melekat kenangan - kenangan rumah yang begitu hangat, air mata dan pelukan ibu yang pertama kali saya rasakan sedemikian dalamnya, saat melepas kepergian saya ke Bandung. Masih begitu kentara. Basah di kepala.
Yah, saya lanjutkan hari - hari rantauan yang mengalir begitu saja. Dan banyak kesalahan yang saya perbuat, saya tahu itu. Namun, saya begitu mengagumi dan menyayangi sosok yang selalu memarahi saya, dan selalu diam karena tingkah saya. Saya bukan benci, tapi saya ga bisa menunjukkan rasa sayang itu dalam keadaan normal. Semuanya serba jaim dan dibuat - buat. Saya minta maaf.

Yah, begitulah. Kehidupan SMP yang cukup lugu dan alay menurut saya, hahaha. Guru ga ada, kami sekelas malah ribut ga karuan, dan selalu ada kamera handphone untuk ber-narsis ria. Tinggal nyari posisi dan tempat yang bagus, dan ce-krek! Fotonya langsung jadi. Alay hohoho.

SMP berakhir, dan itu artinya harus lanjut ke SMA. Pilihannya? SMAN 8 Bandung dan SMAN 20 Bandung. Apa hasilnya? Ternyata, saya salah strategi, dan ga masuk ke salah satu, atau dua - duanya! Saya kecewa, tapi mau diapakan lagi coba? Usaha, doa, semuanya sudah dilakukan. Pilihannya? Ini yang cukup berpengaruh.

Akhirnya, welcome in SMAN 22 Bandung! Sebenarnya NEM saya cukup untuk masuk ke sana, tapi salah strategi, dan tau - tau masuk ke SMA itu. SMA yang dulunya saya jelek - jelekkan, dan saya acuhkan. Senjata makan tuan. Ya, saya sadar itu.

Kehidupan SMA juga mengalir begitu saja, masih tetap alay dan lugu, walaupun tidak separah sewaktu SMP. Saya makin rajin ke perpustakaan, pinjam buku ini, buku itu, dan alhasil, menumpuklah buku - buku itu di rumah, dan dipelajari kalau ada ulangan aja. Sekitar 30 buku ada, dan satu hilang entah ke mana. Ganti rugi deh. Dan gimana ngembaliin bukunya dengan jumlah yang sebanyak itu? Minta bantuan angkutan.. ke temen, hehehe.

Letak perpustakaan di SMAN 22 Bandung itu tergolong kurang strategis, karena letaknya di sudut kiri sekolah. Ujung banget, apalagi dari kelas X. Tapi, kelas XII, saya bahagia banget, karena letak perpustakaan tepat di... depannya! Merdeka banget hahaha. Dan ada lagi yang menyebabkan saya kenapa saya doyan banget bolak - balik ke perpustakaan. Novel. Stres banget kalau ga baca novel sehari aja. Bahkan, saat perjalanan pulang sekolah, kan jalan kaki, biasanya saya selalu baca novel. Alhasil, seringkali saya tersungkur dan kepala saya kena timpuk tiang. Sangkin addict-nya.

Begitulah hari - hari di dua - dua. Mengalir begitu aja. Ketawa, mewek, serius, santai, lieur, nangis, semuanya pernah ada. Laki - lakinya gila, semua. Ga ada yang waras, demi apa. Perempuannya? Wah, kelas udah kayak salon, sangkin banyaknya yang ngaca, dan ada yang bawa sisir, roll rambut, pengeriting rambut, macem - macem. Kerjaan SMA tuh, gitu. Oh ya, karena lagi jaman - jamannya Blackberry, mayoritas anak - anak punya BB, dan sampai harus beli terminal buat kabel - kabel cas-an yang menggumpal. Dan terminalnya ilang, entah ke mana.

Kuliah. Dulu ya, kelas XI, ada temen yang cerita tentang kakaknya yang masuk Farmasi UNPAD. Wah, saya langsung tergiur, denger cerita - ceritanya yang belajar tentang obatlah, kesehatanlah, apalah. Udah fiks mau kuliah di sana.
Dulu juga ya, tapi setelahnya, kelas XII, ada mata pelajaran Seni Rupa, dan khusus perspektif. Awalnya saya bener - bener ga ngerti, apa, bagaimana, dan mengapa ada perspektif. Tapi makin lama saya suka, dan jatuh cinta sama mata pelajaran ini. Saya tidak hanya senang dan suka dengan mata pelajaran ini, tetapi saya juga senang dengan guru Seni Rupa saya (almarhum). Beliau pernah bilang ini pada awal semester kelas XII (saya kurang tau persis seperti apa kata - kata aslinya, tapi kurang lebih seperti ini) "Kenapa nilai rata - rata kelas ini menurun? Saya salah, saya harus memperbaiki kalian, saya harus bekerja lebih keras lagi". Kata - kata itu selalu saya ingat. Saya kagum dengan beliau yang berdedikasi tinggi dalam mengajar dan mendidik.

Saya terus mencintai perspektif, dan hingga saya menjadi joki perspektif saat itu. Ampuni saya, ya Allah, maafkan saya, Pak... Tetapi dari kecintaan saya ini, akhirnya saya memilih jurusan yang saya geluti saat ini di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung; ARSITEKTUR. Saya mau banget mengucapkan terima kasih sama guru Seni Rupa saya, tetapi ternyata setelah kelulusan kami, beberapa bulan kemudian, beliau berpulang ke sisi - Nya... Semoga Allah merahmatimu, Pak, terima kasih atas semua didikanmu...

Jadilah, saya di Program Studi Pendidikan Teknik Arsitektur, UPI. Loh, kenapa pendidikan toh?
Saya hanya berpegang pada brosur salah satu bimbingan belajar waktu itu. Dan saya kira mau ada pendidikan apa ga, sama aja. Dan salahnya, saya malah langsung he eh dan terima - terima aja, tanpa caritau lebih lanjut. Tapi ternyata, pendidikan dan non-pendidikan beda. BEDA. Nyesek, jadi guru deh nanti.

Saya masuk dengan jalur SNMPTN undangan (sekarang jalur SNMPTN aja). Saya juga mencoba alternatif lain, dengan mendaftarkan diri melalui PMDK Politeknik Bandung (POLBAN), dan lagi - lagi program studi yang berhubungan dengan bangunan; Program Studi D4 Teknik Perawatan dan Perbaikan Gedung. Hasilnya? Saya lolos seleksi. Saya tau dari teman saya saat nama saya di-mention via facebook. Tapi saya ga langsung memberitau paman, sebab kami memang sedang mengharapkan beasiswa Bidikmisi dari UPI.

Saya memberitau kabar gembira itu, setelah daftar ulang peserta yang lolos seleksi, ditutup. Dan saat dicek kembali ke websitenya, nama saya udah ga ada lagi di situ. Saya bener - bener patah hati saat itu (bukan untuk yang pacaran aja hoho). Di satu sisi, saya ingin sekali kuliah di POLBAN, karena memang jurusannya sesuai dengan minat saya, peluang kerjanya tinggi, dan cukup menjanjikan. Tetapi di sisi lain, saya juga berharap bahwa saya mendapat beasiswa itu, supaya bisa mengurangi beban paman saya. Biaya kuliah itu ga main - main. Dia serius.

Dengan langkah yang ragu, saya kuliah di UPI. Awalnya, masih terbelenggu dengan rasa minder, pada teman - teman SMP dan SMA saya yang masuk ke perguruan tinggi ternama. Saya tetap bersyukur, namun saya masih mengeluh dengan pilihan yang yang saya ambil. Saya menyesal, sungguh menyesal.

Faktanya? Setelah menjalani hari - hari kuliah, saya merasakan perubahan dalam diri saya. Saya jauh lebih optimis, yakin dan saya selalu berusaha keras untuk mendapatkan yang terbaik. Tiada hari tanpa menggambar. Pensil, penghapus, penggaris udah jadi makanan sehari - hari. Kertas apalagi, uh jangan tanya. Namanya aja udah unik *dan eneg ngeliatnya hahaha (jahat); kertas padalarang. Ada puisi nih, ngarsitektur banget hahaha.

Ya aku mah da apa atuh. 
Aku hanya selembar padalarang suci, 
yang digoreskan oleh luka dari sesosok pangeran yang bernama pensil,
 namun luka itupun dimusnahkan dengan kasih yang penuh sayang, 
oleh seonggok penghapus pentel... 



Lebay, hahaha :D


Lupakan puisi itu. Oke? Lupakan.

Di kelas ini juga, saya mendapatkan keluarga baru. Solidaritas, pengorbanan, kepemimpinan, semua saya rasakan di sini. Ada juga beberapa kejadian yang menimbulkan perselisihan di kelas ini. Yah, itu wajar, kalau kita belum pernah berkelahi atau marah pada orang lain, berarti kita memang belum dekat dengan mereka. Artinya? Kami dekat.

Apalagi, saat saya menyatakan pulang (untuk pertama kalinya, sejak enam tahun saya di Bandung) ke Medan, kota kelahiran saya, pada masa akhir semester tiga. Ketua jurusan memberikan support dan solusi kepada saya, begitupun teman - teman, yang sangat men-support saya untuk melanjutkan kuliah. Saya merasakan solidaritas yang luar biasa, bahkan salah satu sahabat saya, pingsan, karena asmanya kambuh mendengar saya tidak akan melanjutkan kuliah lagi. Saya benar - benar terpukul, sedih, kecewa, karena saya pikir saya tidak akan melanjutkan kuliah. Saya pikir masa depan saya akan berhenti, memudar gitu aja, hilang tanpa bekas. Dan sebagai kenang - kenangan, saya menitipkan tugas besar mata kuliah Struktur Bangunan I pada sahabat - sahabat saya. Itu menyedihkan. Saya terpukul. Sakit batin luar biasa.

Meskipun saya terpukul karena nasib kuliah saya yang berakhir gitu aja, di sisi lain saya benar - benar antusias, sebab saya pulang kampung untuk yang pertama kalinya, sejak saya di Bandung enam tahun yang lalu. Dan maklum, karena pertama kali naik pesawat, saya malah membawa banyak barang. Alhasil, muatan bagasi saya berlebih hingga 23 kilogram! Padahal quotanya hanya 15 kilogram. Alhamdulillah, ada orang baik yang mau membantu saya. Beliau kelebihan bagasi hingga enam kilogram. Dua kilogram lagi? Kami bagi dua, dan dipegang masing - masing. Saat tiba di Bandara Kuala Namu, kami berpisah, dan saya tidak tau siapa nama Bapak yang baik hati itu. Terima kasih, Pak.

13 Desember 2013, saya menginjakkan kaki kembali di kota kelahiran saya. Keluarga saya sudah menyambut di tempat penjemputan. Saya sangat terharu, dan benar - benar meluapkan kerinduan enam tahun yang benar - benar melimpah untuk mereka. Ibu dan Bapak semakin tua, semakin keriput dan kulitnya yang semakin kasar, karena kerja keras. Adik - adik saya, yang semakin tumbuh besar, dan sangat berbeda dari yang kujumpai terakhir kali, saat mereka masih kecil - kecil.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa saya berpikir kuliah saya akan berhenti di tengah jalan. Tetapi saya justru mendapat respon yang positif dari Bapak. Dia men-support saya untuk melanjutkan kuliah. Rasanya? Bahagia, sangat bahagia.

Selama tujuh hari di Medan, saya benar - benar menghabiskan waktu dengan keluarga. Ke rumah Nenek, Uwa, Sepupu, dan lain - lain. Nenek semakin renta, namun beliau tetap dapat mengingat saya dengan baik. Saya benar - benar terharu. Saya tidak sempat bertemu dengan teman - teman lama saya. Tujuh hari yang begitu bermakna. Singkat memang, tapi saya harus mengejar ketertinggalan mata kuliah lainnya, dan lagipula, saat itu, menjelang UAS. Jadi dengan berat hati saya meninggalkan Medan. Demi masa depan saya.

Saat ini, inilah saya, dengan berbagai keterbatasan diri, dan ketidaksempurnaan. Bukan mencoba untuk menjadi sempurna, tetapi mencoba untuk lebih baik lagi. Saya berusaha meraih impian - impian, membahagiakan semua orang. Setidaknya, jika tidak membahagiakan, saya tidak mengecewakan. Hidup untuk bahagia, bahagia dalam setiap aspek kehidupan. Banyak peluang, dan jangan sia - siakan itu.

Terima kasih untuk keluarga, guru, dosen, sahabat, teman - teman dan semuanya yang telah hadir dalam kehidupan saya. Kalian memberikan warna dalam kehidupan saya. Maaf, saya telah banyak mengecewakan kalian dan berbuat salah... Semoga saya lebih baik lagi. Aamiin.


Salam,
Nona Winda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar