Rabu, 02 Juli 2014

Desain Interior

Menurut D. K. Ching, desain interior adalah merencanakan, menata, dan merancang ruang-ruang interior dalam bangunan. Tatanan fisik dapat memenuhi kebutuhan dasar akan sarana untuk bernaung dan berlindung, menentukan langkah sekaligus bentuk aktivitas, memelihara aspirasi dan mengekspresikan ide - ide yang menyertai segala tindakan, mempengaruhi penampilan, perasaan dan kepribadian seseorang. Sehingga maksud dan tujuan desain interior adalah untuk memperbaiki fungsi, memperkaya nilai estetis dan meningkatkan aspek psikologis dari ruang interior.

Menurut Sumardji (1995), desain interior adalah karya arsitek atau desainer yang khusus menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan, bentuk-bentuknya sejalan perkembangan ilmu dan teknologi yang dalam proses perancangan selalu dipengaruhi unsur-unsur geografi setempat dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang diwujudkan dalam gaya-gaya kontemporer.

Desain interior terus mengalami perkembangan yang berarti, dan saat ini pula, beragam gaya yang digunakan pada desain interior cukup menarik minat penggunanya. Berikut adalah beberapa gaya desain interior yang pernah dan berkembang saat lampau, maupun saat ini.


1. Gaya Retro
Menurut French, retro adalah gaya budaya usang atau masa lampau. Tren, mode, atau fashion, dari masa lalu postmodern secara keseluruhan, tetapi sejak saat itu menjadi fungsional atau norma dangkal lagi.

Menurut Kriyamedia, kata retro sendiri merupakan kependekan dari retrospektif, yaitu kembali ke masa lalu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, retro berarti menyiratkan suatu pergerakan ke arah masa lalu sebagai pergantian suatu kemajuan ke arah masa depan. 

Berikut adalah contoh dari gaya retro.

dekor-minimalis.blogspot.com

architectaria.com 

http://desaininterior.me/2013/10/desain-interior-studio-hermes-bernuansa-tahun-60an/

2. Gaya Art Nouveau
Art Nouveau berasal dari bahasa Perancis, yang artinya seni baru (new art). Art Nouveau merupakan suatu style seni internasional yang mengalami peralihan menuju modernisme, arsitektur dan desain yang mencapai puncak popularitasnya pada awal abad 20 (1880-1914) dan memiliki ciri khas pada highly style, bergelombang - gelombang, desain yang melengkung-lengkung sering dipadukan dengan gambar flora ataupun motif - motif tumbuhan lainnya. Aliran ini muncul di Eropa dan Amerika mulai tahun 1819 hingga menjelang perang dunia pertama pada tahun 1914.

Namun, pendapat lain mengatakan Art Nouveau berakhir pada tahun 1920 oleh klasisisme pasca perang. Pada dasarnya aliran ini muncul sebagai sebuah reaksi terhadap industrialisasi dan gaya mesin yang dianggap menghilangkan sifat manusiawi dalam seni dan pembuatan barang-barang kebutuhan manusia. Oleh karena itu ukiran dan ulir flora yang dibuat juga cenderung tampil ‘berlebihan’ untuk menekankan ketrampilan yang sifatnya sangat emosional. Gaya ini diaplikasikan dalam seni, arsitektur, furniture serta perabot logam dan ilustrasi buku serta berbagai barang cetakan.Nama Art Nouveau diambil dari nama toko di Paris, Maison de l’Art Nouveau yang dibuka pada tahun 1895 oleh Siegfried Bing. Di Eropa aliran ini menggunakan beberapa nama:
  • Di Jerman: Jugendstil (gaya muda) dari nama majalah Die Jugend 
  • Di Austria: Vienna Secession 
  • Di Italia: Stile Liberty 
  • Di Spanyol: Modernista 
  • Di Inggris: Glassgow school 
Berikut adalah contoh dari gaya Art Nouveau.



3. Gaya Klasik Victorian
Gaya Klasik Victorian untuk desain rumah merupakan gaya interior yang mengadaptasi Eropa Timur yang memiliki sedikit pengaruh dari gaya arsitektur Persia dan juga Arab. Gaya Victoria banyak disenangi oleh para pecinta rumah klasik karena atmosfer kerajaan yang dimiliki. Jika Anda senang dengan cerita klasik dari Eropa, gaya-gaya interior layaknya istana kerajaan di zaman Romawi kuno atau zaman Bizantium, mungkin bisa menjadi pilihan yang menarik. Saat ini, gaya Victorian seperti ini bisa diterapkan dengan cara yang lebih mudah.

Untuk interior desain rumah, Anda cukup memanfaatkan warna - warna pastel untuk dinding. Tidak perlu menggunakan wallpaper karena cat warna pastel untuk dinding sudah cukup. Sementara itu, lantai marmer bisa diakali dengan berbagai pilihan marmer klasik. Dalam pemilihan marmer, Anda tidak perlu memilih yang mahal karena lantai marmer yang memiliki corak klasik, seperti corak warna pastel dan pucat bisa menjadi pilihan yang tepat. Untuk pewarnaan interior, Anda sebaiknya tidak memanfaatkan pewarnaan yang terang. Ini karena gaya klasik Victorian tidak pernah menggunakan warna terang. Warna yang dominan adalah warna pastel yang cenderung pucat, namun memberi kesan elegan dan juga mewah.

Berikut adalah contoh dari gaya klasik Victorian.







4. Gaya Eklektik
Konsep interior dan eksterior memang menjadi langkah awal bagi Anda yang ingin membangun sebuah rumah. Tak melulu mengandalkan gaya klasik maupun gaya modern demi mendapatkan kesatuan gaya hunian. Unsur tradisional yang ditabrakkan dengan unsur modern malahan akan menampilkan gaya baru, yakni gaya eklektik.

Unsur tradisional yang ditampilkan akan menjadi aksentuasi yang membuat tampilan hunian Anda menjadi unik. Unsur tradisional juga tidak berarti ketinggalan zaman atau kuno karena dianggap out of date.

Berikut adalah contoh dari gaya eklektik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar