Sabtu, 12 Juli 2014

Karena Kita Punya Masalah

Luar biasa hari ini! Kemarin juga. Dua hari berturut - turut menjelajahi sebagian besar kota Bandung, yang sedemikian tak terlihatnya, jika di lihat dari peta dunia. Lelah, apalagi dalam keadaan bulan puasa seperti ini, cukup membuat tenggorokan dehidrasi dan badan lemas. Namun, apapun yang dijalani, selama itu dalam kebaikan dan perjuangan, tetap akan membuahkan hasil dan kemaslahatan bagi siapapun yang mengalaminya, termasuk perjalanan kami kemarin dan hari ini.

Mungkin, jika bukan karena tuntutan tugas, saya tak akan pernah jalan - jalan dan menikmati hiruk - pikuk aktivitas kota Bandung. Dua tuntutan tugas, yaitu mata kuliah Media Pembelajaran dan Permasalahan Arsitektur, cukup berat memang, tetapi justru dari tugas - tugas ini, saya belajar mengenai hal baru dan mendatangi tempat - tempat yang belum pernah saya kunjungi. Banyak sudut - sudut kota Bandung ini yang belum terjamah, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sendiri, dan hanya segelintir tunawisma saja yang bersedia bertempat tinggal di sana. Di mana? Ayo, tebak!

Kita mulai, perjalanan kali ini, pada 10 Juli 2014.
Setelah mendapat pinjaman kamera dari Bapak Kos, yang sangat baik hatinya, saya kembali melanjutkan tidur. Nah, loh? Maklum, saya bangun tengah malam dan tidur pada pagi hari.
Lalu, saya bergegas berangkat sekitar pukul 10.30 WIB. Saya mengajak teman - teman saya secara mendadak, alhasil saya harus menunggu hingga setengah jam kemudian. Saya sedikit kesal, namun saya tetap harus berpikiran positif. Maklum, shaum.

Saya dan kedua teman saya menaiki bus Damri dari Terminal Ledeng. Entah apa alasannya, saya sangat suka menaiki bus tersebut. 

Sampailah kami di Jalan Braga. Tak ada festival apapun, tak ada event apapun. Semuanya berjalan seperti biasanya, dengan aktivitasnya masing - masing. Dalam perjalanan, saya men-shoot beberapa hal yang menurut saya penting dalam pembuatan tugas video saya. Dan ternyata, memang banyak masalah yang ada di kota ini. Jangankan hal yang besar, hal yang terkecil sekalipun tetap masih menjadi masalah pada kota yang dulunya dijuluki "Kota Kembang" ini. Saya pun masih bertanya - tanya, apakah julukan itu masih berlaku di kota ini? Atau ini hanya sekedar kenangan yang harus kita kubur dalam - dalam, akibat keserakahan manusia dalam mengeksploitasi lahan dan alam?


PROYEK PEMBANGUNAN BURUK YANG LOLOS IZIN 
Miris memang. Pembangunan terus - menerus dilakukan, dan entah apa dan siapa yang patut dipersalahkan atas semua ini. Proyek - proyek pembangunan gedung yang sebenarnya tidak layak untuk dilanjutkan, karena membuat kerugian bagi masyarakat di sekitarnya. Mereka mengekploitasi air, sumber daya alam lainnya yang merupakan milik negara. Mengapa proyek yang seperti selalu lolos begitu saja? Bahkan, pembuatan proyek tersebut pun asal - asalan. Dan yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana membuat proyek yang besar dengan menekan modal seminimal mungkin. Hasilnya? Ya, begitulah, seperti yang sering kita lihat, banyak bangunan baru yang hanya bertahan dalam beberapa tahun saja. 

Maaf, saya jadi berbicara pengalaman sebelumnya, saat jurusan kami mengunjungi sebuah proyek di Bandung, yang tidak akan saya sebutkan namanya. Bayangkan, hasil pembuangan akhir air kotor olahan dibuang langsung ke sungai yang ada di belakang proyek tersebut! Sungguh mengenaskan, bukan? Air yang digunakan warga untuk melakukan aktivitas sehari - hari, seperti mencuci pakaian, mencuci piring, mandi dan sebagainya, dicemari oleh air buangan sebuah bangunan. Memang, airnya sudah diolah, namun, itu hanya sebatas pengolahan air kotor biasa, yang jika tidak digunakan lagi, seharusnya dibuang ke saluran air kotor, bukan ke sungai, yang tidak boleh dicemari. Bahkan, dengan adanya proyek ini, sumber air yang dulunya melimpah, malah digunakan untuk sumber air bangunan proyek tersebut. 


PENCEMARAN SUNGAI
Baik, kita akan lanjut ke perjalanan semula. Setelah berjalan jauh (efek shaum) menyusuri Braga, kami tiba di Sungai Cikapundung. Inilah keadaan sungai tersebut.



Tidak terlalu buruk, hanya saja masih ada sampah yang melintas di sungai ini. Dan ini harus diperbaiki, baik dari kebijakan Pemerintah Kota Bandung, maupun budaya masyarakatnya.


FASILITAS UMUM YANG DIJADIKAN DOMISILI TUNAWISMA
Selanjutnya, kami menyeberangi jalan dengan menggunakan jembatan penyeberangan yang ada di persimpangan alun - alun Kota Bandung. Dan lagi - lagi, saya merasa terpukul dengan keadaan fasilitas umum tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi, banyak pengemis atau gelandangan yang tidur nyenyak di sana, dengan keadaan jembatan penyeberangan yang kumuh dan tak terawat. Berikut adalah situasi yang tidak nyaman tersebut.






Menyedihkan. Ya, memang. Kota Bandung yang sudah meranah kepada julukan Kota Metropolitan, masih saja ada yang seperti ini. Sampah tak terurus, pengemis yang tertidur nyenyak di fasilitas umum kota, merupakan salah satu masalah kota ini. Masih salah satu loh, dan masih banyak lagi yang lain.


PARKIR SEMBARANGAN
Apa lagi yang menjadi masalah di kota ini? 
Coba lihat ini.




Di mana ini? Coba tebak!
Ya, kawasan alun - alun Bandung. 
Apa masalahnya? 
Ya, parkir sembarangan! Entah karena kendaraan pribadi yang terlalu banyak, atau lahan parkir yang sudah semakin terbatas, atau budaya masyarakat dan oknum tertentu yang menjadikan parkir sembarangan ini menjadi hal yang lumrah. Dan memang banyak faktor yang menjadi penyebab parkir sembarangan ini. Bahkan di sisi jalan raya yang terdapat di sekitar kawasan Pasar Baru, dengan sengaja dipasang garis parkir berwarna putih dengan kemiringan tertentu. Apa akibatnya? Lalu lintas semakin padat, bukan? Apalagi ditambah dengan angkutan kota (angkot) yang sering berhenti sembarangan, yang semakin memperparah lalu lintas kota Bandung.


SAMPAH
Selintas, kita berpikir, ini sungguh kotor. Kotor! Di mana 'rasa memiliki' kita sebagai warga negara Bandung ini? Eh, saya lupa, saya kan bukan asli Bandung. Saya anak rantauan, tetapi saya sangat mencintai kota ini. Selain saya sudah menginjak hampir tujuh tahun tingga di sini, saya juga merasa bahwa setiap sudut kota Bandung memiliki kenangan berarti. 

Bandung semakin maju, namun semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Tak usah jauh - jauh, apakah kita sudah membudayakan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya? Apakah kita sudah mempunyai 'rasa memiliki' terhadap kota tempat kita tinggal? Apakah kita tahu berbagai informasi mengenai pemisahan sampah dan dampak yang dihasilkan jika kebiasaan membuang sampah sembarangan terus - menerus dilakukan?

Mulailah dari diri sendiri. Dari hal yang kecil saja dulu. Ketika kita hendak membuang sampah, dna kita tidak menemukan tempat sampah, letakkan sampah tersebut di dalam tas. Jika tidak menyandang tas, simpanlah sampah tersebut di dalam saku. Dan apabila tidak ada saku juga, peganglah, InsyaAllah sampah tersebut akan menjadi pahala karena kita mencintai lingkungan kita sendiri. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman?




Desain tempat sampah pun perlu diperhatikan lagi, agar menjadi solutif dan menjadikan orang mau membuang sampah pada tempat sampah tersebut. Dengan desain tempat sampah kota seperti saat ini, yang menggunakan trash bag dan tidak pernah jelas kapan penggantian rutin dari trash bag itu sendiri, membuat masyarakat menjadi enggan membuang sampah pada tempatnya, bahkan sampah - sampah yang mereka miliki justru diletakkan di atas tempat sampah tersebut. Alhasil, sampah - sampah tersebut berserakan di tepi jalan dan menjadi surga bagi kucing liar yang mencari makanan. Dan ini menjadi salah satu tugas kami, mahasiswa - mahasiswi arsitektur nantinya untuk mengubah desain tersebut menjadi lebih menarik, dan lebih membudayakan kebiasaan baik. Bukan hanya tempat sampah, tetapi banyak hal yang harus diberi sentuhan ajaib supaya bisa berfungsi sebagaimana mestinya, dan memberikan manfaat kepada khalayak ramai, tanpa memandang status sosial.


PEDAGANG KAKI LIMA
Jika kita memperhatikan keadaan sekitar, banyak hal yang menjadi terbuang dan disia - siakan oleh masyarakat Bandung sendiri. Saat kami berjalan di sekitar belokan jalan Dewi Sartika, saya menemukan ini. Sebuah tanda kenangan dari Pemerintah Kota Bandung dan salah satu perusahaan rokok ternama, yang berisi lagu Halo - Halo Bandung. Siapa yang tidak tahu lagu itu? Jika orang Bandung tidak tahu, maka hal tersebut patut dipertanyakan. Entah ke mana rasa cinta terhadap kota Bandung ini, dengan sengaja pedagang kaki lima berjajar dan berjualan di sebelah tanda tersebut, sehingga tak seorang pun yang melihatnya, kecuali orang yang benar - benar jeli. Padahal, tanda tersebut adalah penghargaan bagi Kota Bandung, yang harusnya dipelihara. 





Begitu banyak pedagang kaki lima, yang berjualan di sekitar alun - alun. Tumpah ruah, di trotoar, di halaman Masjid Agung, di gang - gang kecil, dan banyak lagi. Padahal, ada larangan ini.


Oh ya, saya ingat. Saat saya melakukan penelitian ke Taman Lanjut Usia (Lansia) semester lalu, pada hari Minggu, mendadak taman tersebut berubah menjadi pasar kaget yang cukup ramai dikunjungi masyarakat Bandung. Saya juga benar - benar kaget dengan adanya pasar kaget ini. Ini perbandingan antara hari biasa dna hari Minggu di Taman Lansia, yang saya dokumentasikan saat itu.




Mulailah dari diri sendiri dan dari hal - hal yang kecil, maka karakter baik akan tumbuh pada diri kita
Sekian dulu untuk posting-an kali ini.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar