Sabtu, 27 Desember 2014

Sebuah 'Arti' di Balik Kehidupan

This is life. 
Hidup ini keras. 
Hidup ini sulit. 
Hidup ini indah. 
Hidup ini tak ada artinya, aku ingin mengakhirinya. 
Aku tak mau mati, tetapi aku juga tak mau hidup seperti ini. 

Begitu banyak anggapan manusia mengenai kehidupan. Jadi, apa itu kehidupan? Apa maknanya? Jawabannya, tergantung. Tergantung setiap manusia yang menjalaninya. Ada yang menganggap bahwa hidup ini indah, hanya dengan sebuah gerobak, yang dipenuhi dengan botol plastik untuk dijual kembali, hanya dengan mengonsumsi makanan seadanya setiap hari, dengan pakaian yang tak pernah tergantikan dan hanya merasakan air membasahi tubuh saat hujan tiba. Mereka tetap menjalani hidup dan menganggap bahwa hidup ini memang harus begini adanya. Mereka selalu bersyukur.

Adapula yang memiliki keluarga yang bercerai berai. Mereka menganggap hidup ini kejam, karena memisahkan keluarga mereka sehingga saling timbul kebencian, keinginan untuk balas dendam, tak senang melihat pihak lain senang dan banyak lagi. Mereka saling menjatuhkan, berusaha keras mendapat yang terbaik untuk diri sendiri, tetapi tak berusaha memahami bagaimana perasaan orang yang dihadapinya, meskipun itu sedarah dengannya. Hidup penuh dengan kebencian, menurut mereka.

Rabu, 05 November 2014

Santolo Story

Santolo. Sebuah pantai yang terletak di sisi selatan Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pesona keindahannya yang begitu indah dan menciptakan cerita tersendiri bagi pengunjungnya, membuat banyak orang berbondong – bondong berwisata ke tempat ini, termasuk kami. 



Ya, kami adalah 13 orang pencari cinta dari Pendidikan Teknik Arsitektur (PTA), Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Setidaknya itu yang dikatakan oleh editor film pendek yang berjudul Santolo Movie, M. Fadhel Rabbani. Perjalanan dimulai sejak 24 Oktober 2014, pukul 15.00 WIB. Begitu mendadak, Dan semua berawal dari mobil bak terbuka. Pick up, yeah! Sepanjang jalan, kami dilihat oleh orang – orang. Malu, tapi kocak. Kami benar – benar beratapkan langit, menyatu dengan mendungnya Bandung saat itu. 


Saat itu belum merupakan perjalanan yang sesungguhnya. Dengan pick up tersebut, kami akan mengambil mobil sewaan yang ada di rumah sanak saudara Fajar Santoso. Namun, tebak apa yang terjadi! Mobil tersebut digunakan oleh orang lain dalam beberapa waktu. Mengapa? Sebab sebelumnya baterai handphone Fajar sedang low, dan tak dapat dihubungi, sehingga mereka mengira mobil tersebut tidak jadi disewa.

Finally, we wait for the cars. Hingga pukul 18.30 WIB, kedua mobil tersebut tiba. Sebelumnya, kami ngebaso dulu. Saya masih ingat dengan plang basonya; LANANG. Brand yang cukup menarik untuk berjualan baso. Simpel, tradisional dan mudah diingat.

Setelah kenyang dengan baso Lanang, kami menaiki mobil yang kami sewa, Rush dan Grand Max. Formasi penumpang adalah sebagai berikut.
Rush:
Baris ke 1: Fadhel, M. Aqlida Muslim
Baris ke 2: Nia Namira Hanum, Kartika Ismi Alawy, Rafida Putriana.

Grand Max: 
Baris ke 1: Fajar, Randi Gustryandi
Baris ke 2: M. Andi Gopar, Hikmat Saputra
Baris ke 3: Nona Winda (saya), Herlina Juniati dan Kurnia Cahyaningtyas. P

Tak dapat dielakkan lagi, macet harus dihadapi. Di mana – mana. Sepanjang jalan. Kami menggunakan rute yang aneh, dan membuat kami melalui jalan yang sama kedua kalinya. Ini terjadi karena kami harus menjemput satu personil lagi, yang akan ikut ke Santolo, Marissa An Nisa. P. K. Kami harus menjemputnya di daerah Ujungberung, dan itu artinya, kami harus putar balik melalui jalan yang cukup jauh. Fajar, sebagai supir, mengajukan syarat agar Marissa membelikannya sebungkus nasi goreng. 

Setelah bertemu dengan Marissa, bukan hanya Fajar yang mendapat nasi goreng, tetapi penumpang juga. Ada tiga bungkus untuk yang lain. Baiknya Marissa. Terima kasih, Mar!

***

Minggu, 12 Oktober 2014

Butuh Proses

Sangatlah sulit mengelola ego yang dimiliki manusia. Dengan segala keterbatasan, manusia terkadang menjadi egois pada tempat yang tidak seharusnya. Manusia menjadi serakah akan dirinya sendiri dan orang lain, menjadi orang yang tak pandai bersosialisasi dengan baik, menjadi benalu bagi setiap orang. Bahkan, yang baru pertama kali bertemu pun dapat merasakan hal yang sama dengan orang yang sudah mengenalnya. 

Terdapat suatu kasus di sini, di mana saya menjadi pemeran utama. Saya pernah merasakan hal ini sebelumnya; membenci orang, tetapi tidak pernah separah ini. Saya munafik, saya akui, tetapi semunafik – munafiknya saya, saya masih bisa merasakan kasih sayang terhadap orang lain. Tidak dengan orang ini, saya hanya merasa simpati. Saya melewatkan hari – hari dengan sangat membosankan dan penuh dengan ironi, yang mungkin menurut orang lain, menjatuhkan diri saya sendiri. Saya bingung, saya konsultasi, saya menceritakan keluhan saya ke teman – teman saya, saya hadapi dengan sabar, tetapi tak banyak perubahan, dan dapat dikatakan nihil. Dia tak beranjak berubah, dan menjadi semakin membuat saya sadar betapa dia menempatkan keegoannya tanpa ia sadari menjadi urutan yang utama. Mungkin karena dia anak bungsu, yang mungkin selalu dimanja, dan terbiasa hidup santai tanpa gangguan selain tugas; dan itu membuat saya 

Jumat, 26 September 2014

Ego

Terkadang, kita merasa benar dengan apa yang kita ucapkan, kita lakukan dan yang kita anggap benar. Banyak hal yang tidak kita sadari, betapa sikap dan perbuatan kita mungkin telah menyakiti orang lain,bahkan orang yang tak kita kenal sekalipun. Entah merupakan suatu kodrat bagi manusia untuk merasakan kebenaran tersebut, atau ada maksud di balik semua itu. Kita ketahui, bahwa manusia sebenarnya memiliki hati nurani yang bersih, mutlak dengan penolakan – penolakan hal buruk yang dilakukannya. Namun, mengapa hal itu tidak tampak nyata pada semua orang? Mengapa tidak tampak nyata setiap saat, atau di mana saja? Orang – orang egois bermunculan, dan dengan ego serta keangkuhannya, meletakkan kemauan mereka sesuka hati, pada siapapun, di mana saja, kapan saja, tanpa memikirkan situasi, perasaan orang yang dihadapinya, dan dampak jangka pendek maupun panjang yang ditimbulkan. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, di mana hati nurani mereka? Di mana kesadaran mereka? 

Semua orang memang tak ada yang sempurna. Semua orang memiliki ego, keangkuhan, persepsi masing – masing mengenai banyak hal. Namun, menghadapi orang dengan keegoan yang sangat tinggi, cukup membuat hati berangsur – angsur terluka, dan melunturkan kepercayaan yang ada. Sayangnya, ketika mereka tak menyadari kesalahan yang mereka lakukan, dan terus melakukan pembelaan diri yang meyakinkan dan membenarkan dirinya, hal tersebut menjadi suatu hambatan jelas bagi mereka, untuk benar – benar sukses dalam kehidupan bersosialisasi. Yang menemani mereka hanyalah wajah – wajah bertopeng dengan ekspresi senang ketika ada di dekat mereka. Padahal, itu hanyalah sebuah topeng belaka, yang fatal jika semua yang mendekati mereka menggunakan topeng tersebut, sebab di balik topeng – topeng tersebut, tersembunyi wajah – wajah yang membenci mereka, dan terluka karena sikap mereka.

Jumat, 19 September 2014

Salamku untukmu, Sahabatku

Ketika aku menulis catatan ini, aku tahu betapa rindunya aku pada seseorang. Yang dulu selalu menemani dalam keadaan suka maupun duka. Yang dulunya begitu menyebalkan, tetapi sangat aku nantikan kehadirannya. Dia yang dulu pernah aku suka, dan bahkan hingga kini aku tetap menyukainya, sebagai seorang sahabat, seorang kakak, seorang pendengar yang baik. Aku merindukannya.

Sudah setahun lebih kami tidak berkomunikasi. Banyak perubahan yang terjadi dan aku ingin menceritakan semuanya padanya. Dia merupakan pendengar yang baik, filsuf yang hebat, psikolog yang andal, pelindung sejati, penghibur di saat lara dan… dia sahabatku tentunya. Sahabat yang terbaik dari yang terbaik.

Ingin sekali rasanya bercerita panjang lebar mengenai perubahan – perubahan yang belakangan ini terjadi. Apa tanggapannya? Solusinya? Pengibaratannya? Ya, dia dapat mengibaratkan atau memberikan perumpamaan – perumpamaan tentang kehidupan. Yang paling aku sukai adalah karena perumpamaan tersebut dikaitkan dengan ranah sains.

Aku sangat menyukai saat dia berbicara mengenai banyak hal, sebab wawasannya begitu luas, sikapnya begitu baik dalam menghadapi aku yang bodoh ini. Ya, tentu saja, kami sangat bertolak belakang. Dia begitu jenius, dengan pemikiran – pemikirannya yang sangat brilian, dia mempunyai teman – teman yang sama jeniusnya dengannya. Sedangkan aku? Jika orang Sunda gaul pasti akan berkata ‘da aku mah apa atuh’. Tak ada yang istimewa. Aku hanya anak rantauan yang sedang berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik di tanah orang.

Selasa, 16 September 2014

Warna Terkeren Sepanjang Masa; HIJAU!

Hijau. Warna itu segalanya buat saya. Hampir semua benda yang saya miliki berwarna hijau. Pertama kali saya jatuh cinta dengan warna ini, saat saya menginjak kelas XII SMA. Entahlah, tiba - tiba hijau menjadi warna yang sangat menarik bagi saya, indah, keren dan.... seksi. Hahaha yaampun.

Sejak saat itu, setiap kali melihat benda - benda yang berwarna hijau, saya selalu gemes, bahkan terkadang panas dingin sambil teriak (angkot warna hijau dan kotoran sapi atau kuda ga masuk hitungan ya huhu). Lebay ya? Memang sih, hehehe, tapi memang inilah saya, kenyataannya sangat lebay dan agak ekspresif.

Hijau itu... Adem, bikin tenang, kalem, wah pokoknya hampir semuanya yang baik - baik ada sama warna ini, hehehe. Coba kita lihat disekeliling kita, di mana - mana. Semua orang menggalakkan aksi Green Life, Green School, Green House. Begitu pentingnya arti warna ini, dan hal ini yang menekankan bahwa hijau bukan hanya sekedar warna, tetapi mencerminkan interaksi manusia terhadap lingkungan.

Sabtu, 13 September 2014

Kemudahan

Setiap malam, langit selalu memancarkan perasaannya. Dan kali ini, saya akan menceritakan suatu perasaan yang sangat membingungkan bagi saya, dan menyulitkan. 

Manusia selalu merasa benar, di manapun dan kapanpun mereka berada, tanpa menyadari siapa diri mereka sesungguhnya, dan bagaimana mereka hidup. Tak ada yang disesali, pada awalnya, tetapi selalu di akhir. Namun, manusia selalu merasa dirinyalah yang terhebat, merekalah yang berkuasa, merekalah yang harus didahulukan, merekalah yang harus terpenuhi keinginannya. Sungguh, manusia memang tak pernah puas. Ketamakan manusia di dunia ini menjadikan bumi dalam bahaya, dengan eksploitasi berbagai sumber daya alam yang semakin menipis di dunia ini. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Yang pintar mengelabui yang awam, yang awam membeli semua produk penipuan yang pintar. 

Hakikat manusia yang sebenarnya adalah makhluk sosial, bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, dan tentu membutuhkan orang lain. Namun, hal ini justru semakin dipisahkan dengan kecanggihan teknologi, yang membatasi interaksi sosial tersebut. Bahkan, yang bertatap muka sekalipun, tak pernah lepas dari handphone, yang saat ini menjadi kebutuhan wajib setiap orang. Lalu, apa artinya tatap muka? Apa artinya bersilaturahmi? Apa makna sebuah pertemuan dengan realita yang seperti ini? 

Tentu, saya merupakan salah satu manusia yang mengalami hal tersebut. Memang, dari segi kepraktisan dan kemudahan, teknologi menjadi sebuah jalur yang menyenangkan untuk didalami dan dipelajari. Tapi dari sisi kemanusiaan? Banyak orang yang mengabaikan lawan bicaranya, karena terlalu asyik dengan media sosialnya. Banyak ibu yang membiarkan anaknya bermain sendiri, tanpa mempedulikan anaknya yang ingin bermain dengannya. Banyak teman atau sahabat yang merasa kecewa, karena ceritanya tak pernah diberi tanggapan, bahkan didengar. Banyak orang yang merasa hanya menjadi kambing congek saat bertemu dengan sahabat atau orang yang disayanginya. Banyak yang memiliki berjuta – juta teman di media sosial, tetapi sosialisasi di kehidupan nyatanya sangat buruk. Banyak energi listrik yang terbuang, untuk sebuah televisi yang menemani dirinya bermedia sosial ria. Banyak orang yang mengalami kecelakaan hanya karena membalas sebuah comment di media sosial. Begitu banyak anak yang tidak mengetahui mainan tradisional dalam kehidupan nyata. 

Begitu banyak, banyak sekali hal – hal yang terjadi karena fenomena teknologi ini. Saya bukan men – judge bahwa teknologi itu salah, bukan. Saya pun pengguna teknologi saat ini, hingga kemudian hari, walaupun tidak secanggih yang lainnya. Namun, yang saya rasakan adalah, bahwa meskipun saya bersama orang lain dalam suatu ruangan, saya merasakan jarak yang jauh, yang memisahkan kami. Semua orang sibuk dengan perangkat teknologinya masing – masing. Begitukah makna dari manusia sosial saat ini?

Saya berharap, semua orang dapat bersikap bijak dalam menggunakan fasilitas kemudahan yang ada saat ini; TEKNOLOGI. Semoga kita menjadi manusia yang berguna dengan adanya kemudahan ini, bukan menjadi manusia yang apatis dengan realita di sekitarnya.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Jaya, Si Kucing FPTK yang Gemar Hamil


Saat menunggu dosen untuk bimbingan pada tanggal 8 Agustus 2014, saya dan teman saya duduk di kursi tunggu di depan kantor Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur. Tak lama kemudian, datanglah seekor kucing gemuk, yang bernama Jaya. Entah siapa yang menamakannya Jaya, tetapi yang jelas, nama tersebut diambil dari slogan FPTK; FPTK I FPTK Jaya! Kucing tersebut selalu ada di FPTK UPI. Setiap kali bertemu, saya selalu melihat Jaya bergolek dalam keeksotisan dan keangkuhannya, seperti menarik orang untuk melihatnya.


Saat dia datang ke koridor tempat saya menunggu, Jaya langsung mengambil posisi di tengah koridor, dan dengan alunan gayanya, dia duduk dengan anggun. Dan, dia hamil! LAGI! Yaampun, saya, dan mungkin seluruh penghuni FPTK terheran – heran, mengapa Jaya selalu hamil dan hamil. Ketika Jaya tidak hamil, dia menebarkan pesonanya di lapangan FPTK, dengan posenya yang sempurna, dan mungkin itulah salah satu trik baginya untuk menarik kucing jantan dalam menghamilinya. Namun, jujur, baru kali ini saya suka dengan kucing. Jaya adalah tipe kucing yang ramah, bahkan tidak memberontak meskipun dimarahi. Dan baru kali ini pula, secara sadar, saya mengelus kucing, meskipun hanya keningnya saja. Jaya itu manis, tetapi juga jalang. Sedikit kasar memang julukannya, tetapi memang begitulah adanya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Sejam di Halte

Kali ini aku ingin menceritakan sesuatu. ‘Sejam di Halte’. Judul yang sederhana bukan? Waktu yang sangat singkat, namun begitu bermakna. Menguak rahasia yang terhimpit selama ini. Melepas belenggu yang mengikat erat. Membebaskan jiwa diri yang terkekang lama. Aku lakukan itu. Yes, I did it.

Pembicaraan tak disengaja antara dua perempuan yang pernah tinggal satu rumah, di tempat yang tak diduga. Kami bercerita tentang keluarga, hubungan darah, silaturahmi, persaudaraan, didikan, larangan dan perasaan. Begitu banyak kebenaran yang belum terungkap selama ini, prasangka buruk dan sikap saling menjatuhkan di antara kedua belah pihak. Di halte itu, semua terkuak. Hanya sejam. Namun, maknanya begitu berarti bagi keduanya. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Aku tak bisa membacanya. Namun, dengan duduk berdua di halte itu, dan menguak semuanya, belengguku lepas. Lepas. aku menyatakan ketakutanku selama ini. Dan aku lega karena dapat mengakuinya.

Masa depan dapat diraih dengan menghadapi apa yang ada di depan mata. Aku berusaha. Aku berusaha menjadi lebih baik lagi, meletakkan harapanku setinggi – tingginya, menjadi diriku sendiri. Ya aku sedang berusaha. Bukan berarti aku harus mencapai kesempurnaan. Namun, bahagialah yang harus aku raih. Tak hanya aku, tetapi kita semua.

I wanna say thanks to Allah, my mom and dad, my uncle and aunt, all of my families, and all of my teachers and friends. You give many of colours in my life, goodness, love, passion and spirit for my life. Thank you so much.

Selasa, 15 Juli 2014

Padalarang

Baru sebulan. Sebulan loh! Akhirnya saya buka padalarang lagi. Dan buat kop, LAGI. Liburan gini? Meni.

Tapi jadi lelet sekarang nge-kop-nya. Aduh gawat.

Eh, bentar. Padalarang? Apa maksudnya? Kota Padalarang? Gitu?

Bukan ai kamu! Padalarang itu adalah nama dari sebuah kertas, yang memiliki tekstur kasar. Menurut saya, memang lebih enak menggambar di padalarang sih. Tapi sekali kena gesekan penghapus, harus hati - hati, karena geseken penghapus yang terus menerus terjadi, dapat menimbulkan kerusakan pada kertas, dan jika kerusakan terjadi hingga berlubang, maka tahukah apa yang harus kita lakukan? Ada dua alternatif.

YANG PERTAMA : Jika kamu ingin mempertahankan gambar yang sudah kamu perjuangkan hingga titik darah penghabisan, dan kertas itu mengalami musibah berlubang, segera, ambil isolatif kertas dan tempelkan di bagian belakang kertas yang berlubang.

YANG KEDUA : Jika kamu sudah merasa jijik untuk memandangnya, beristigfarlah, dan bersegeralah untuk mengganti kertas, dan ulang gambarmu mulai dari awal.

Itu semua tergantung pilihan kamu. Apalagi kamu, iya kamu, yang berjurusan arsitektur. Padalarang itu adalah hidup dan matimu.

Semoga tips ini bermanfaat!

Posting-an ini antara penting dan ga penting. Hohoho.

Senin, 14 Juli 2014

Pilihan

Semua berawal dari niat. Percaya ga, dengan kalimat yang satu ini? Jadi, kalau ga ada niat, kita ga bisa mencapai sesuatu? Gitu?

Percaya ga, dengan yang namanya keberuntungan? Saya sih, ga begitu percaya. Toh semua yang kita dapatkan memang sudah sepantasnya kita dapatkan, karena semua itu bergantung dari kerja keras, doa dan pilihan yang kita tentukan.

Ngomong - ngomong soal pilihan, saya mau cerita tentang pilihan - pilihan saya, dulu. Banyak pertimbangan, banyak hal yang harus dikorbankan, banyak hal baru yang saya jumpai, dan itu sudah pasti, jika saya memilih sesuatu yang tak biasa saya jalani.

Sabtu, 12 Juli 2014

Karena Kita Punya Masalah

Luar biasa hari ini! Kemarin juga. Dua hari berturut - turut menjelajahi sebagian besar kota Bandung, yang sedemikian tak terlihatnya, jika di lihat dari peta dunia. Lelah, apalagi dalam keadaan bulan puasa seperti ini, cukup membuat tenggorokan dehidrasi dan badan lemas. Namun, apapun yang dijalani, selama itu dalam kebaikan dan perjuangan, tetap akan membuahkan hasil dan kemaslahatan bagi siapapun yang mengalaminya, termasuk perjalanan kami kemarin dan hari ini.

Kamis, 10 Juli 2014

Siapa yang Salah?

EBIET G. ADE – BERITA KEPADA KAWAN

Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
Sayang engkau tak duduk di sampingku, Kawan,
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan,
Di tanah kering bebatuan.

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan,
Hati tergetar menampa kering rerumputan,
Perjalanan inipun seperti jadi saksi,
Gembala kecil menangis sedih.

Kawan, coba dengar apa jawabnya, 
Ketika dia kutanya mengapa,
Bapak ibunya telah lama mati,
Ditelan bencana tanah ini.

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya,
Kepada karang kepada ombak kepada matahari,
Tetapi semua diam, tetapi semua bisu,
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit.

Barangkali di sana ada jawabnya,
Mengapa di tanahku terjadi bencana,
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita,
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa – dosa, 
Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita,
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Pernah mendengar lagu ini? Lagu ini adalah salah satu lagu yang menginspirasi saya dalam merenungi negeri yang indah ini, Indonesia. Banyak kisah yang harus kita saksikan, pahami dan perbaiki. Anak jalanan, anak bahari, anak pedesaan, anak perbatasan, semua generasi muda yang ada di negeri ini, maupun yang merantau di negeri orang, merupakan aset berharga bangsa Indonesia. Dengan potensi dan bakat yang mereka miliki, Indonesia tumbuh berkembang dan menjadi bangsa yang bermoral, berintegrasi tinggi, serta bermartabat.

Namun, lihatlah. Dengan sistem pendidikan yang carut – marut, sistem politik yang mengutamakan uang, sistem ekonomi yang membuat masyarakat menjadi konsumtif, serta sistem sosial yang mengarah ke individualis, membuat generasi muda menjadi salah arah. Semua sistem berusaha untuk menutupi kesalahan, dan bahkan ada yang bangga dengan kesalahan – kesalahan yang mereka perbuat. 

Pekerja Seks Komersial mewabah di desa maupun di kota, korupsi yang memasuki segala aspek kehidupan, fitnah politik, inflasi yang tinggi, gelandangan dan pengemis bergelimpangan di jalanan, serta banyak lagi masalah yang mengancam negeri ini.

Di manakah moral bangsa ini, yang seharusnya menjunjung tinggi Pancasila?

Lalu, siapa yang patut disalahkan? Pemerintah? Masyarakat? Atau perkembangan zaman?

Senin, 07 Juli 2014

Arsitektur? Apa Itu?

Dalam posting-an kali ini, saya akan menjelaskan apa itu arsitektur. Semoga bermanfaat!

1. Pengertian Arsitektur
Arsitektur adalah ilmu dan seni perencanaan dan perancangan lingkungan binaan (artefak), mulai dari lingkup makro—seperti perencaan dan perancangan kota, kawasan, lingkungan, dan lansekap—hingga lingkup mikro—seperti perencanaan dan perancangan bangunan, interior, perabot, dan produk. Dalam arti yang sempit, arsitektur sering kali diartikan sebagai ilmu dan seni perencanaan dan perancangan bangunan. Dalam pengertian lain, istilah “arsitektur” sering juga dipergunakan untuk menggantikan istilah “hasil-hasil proses perancangan”.

Kamis, 03 Juli 2014

Pemukiman Kumuh dan Liar

Nah, ada apa ini? Ada apa? Nah, loh!
Ya, kita ketahui, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang ada di dunia ini. Coba kita pahami negeri ini, apa yang salah? Apa yang menyebabkan Indonesia bergerak lambat menjadi negara maju? Dan apa pula yang berkembang dari negara ini?

Rabu, 02 Juli 2014

Desain Interior

Menurut D. K. Ching, desain interior adalah merencanakan, menata, dan merancang ruang-ruang interior dalam bangunan. Tatanan fisik dapat memenuhi kebutuhan dasar akan sarana untuk bernaung dan berlindung, menentukan langkah sekaligus bentuk aktivitas, memelihara aspirasi dan mengekspresikan ide - ide yang menyertai segala tindakan, mempengaruhi penampilan, perasaan dan kepribadian seseorang. Sehingga maksud dan tujuan desain interior adalah untuk memperbaiki fungsi, memperkaya nilai estetis dan meningkatkan aspek psikologis dari ruang interior.

Menurut Sumardji (1995), desain interior adalah karya arsitek atau desainer yang khusus menyangkut bagian dalam dari suatu bangunan, bentuk-bentuknya sejalan perkembangan ilmu dan teknologi yang dalam proses perancangan selalu dipengaruhi unsur-unsur geografi setempat dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang diwujudkan dalam gaya-gaya kontemporer.

Desain interior terus mengalami perkembangan yang berarti, dan saat ini pula, beragam gaya yang digunakan pada desain interior cukup menarik minat penggunanya. Berikut adalah beberapa gaya desain interior yang pernah dan berkembang saat lampau, maupun saat ini.

Kamis, 27 Maret 2014

Kings of Convenience

Hei!

Baru kali ini saya menyukai penyanyi, atau duo band, atau apalah itu, sampai se-addict ini!

KINGS OF CONVENIENCE

Ada yang tau band indie folk-pop yang hanya terdiri dari dua personil ini? Pertama kali saya dengar lagu mereka, saya sendiri lupa apa judulnya, dan seketika itu juga saya langsung jatuh cinta. Musik mereka yang sederhana, simpel dan yang terpenting adalah, bahwa tema - tema lagu mereka tidak hanya tentang kisah cinta, tetapi juga tentang kehidupan mereka. Suara mereka sangat lembut, dan saat pertama kali melihat foto - foto mereka ketika googling, saya kira mereka masih muda, namun ternyata mereka sudah cukup berumur, dan hampir sebaya ibu saya, yaampun!

Kamis, 20 Maret 2014

Question!

Di sini, perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Enam tahun yang lalu, aku memulai semuanya, dan aku larut bersama hal - hal yang aku jalani setiap waktu, di sini, di tempat ini, tempat yang jauh dari kotaku. Sejujurnya, aku tak pernah melihat peluang besar, tetapi aku hanya menjalani apa yang ada. Terkadang, aku bertanya, untuk apa aku di sini? Untuk apa aku menjalani semua ini? Apa tujuanku selama ini? Hanya untuk menuntut ilmu? Untuk sukseskah? Atau aku hanya sekedar mengikuti perintah? Apa motivasiku?